West Jayakarta, Jalan Ampang IV.
October 2 2018, 10:20 PM.
Berhenti di depan gang Ampang II, (name) segera menuruni motor Alan dan mengembalikan helm miliknya. "Lo bener mau turun di sini?" Tanya Alan kepada sang gadis. Rumah (name) memang masih sedikit jauh dari sini.
Menganggukkan kepala, (name) segera memeriksa ponselnya kala melihat satu panggilan tak terjawab dari seseorang. "Iya. Rumah gue juga udah deket. Thank you ya sekali lagi buat hari ini. Kalo gitu gue pamit-"
"Tunggu!" Sebelum (name) dapat membalikkan badannya, sebuah suara seketika menghentikan langkah kakinya. Menaikkan alis bertanya, gadis itu segera menatap Alan. "Ya Lan?" Tanyanya kebingungan.
"...Gak jadi. Sorry." Menghela nafas pelan, lagi-lagi Alan hanya bisa mengurungkan niatnya untuk meminta nomor sang gadis. Tidak masalah, dirinya kan bisa meminta dari Yoga nanti. Lagi pula, bawahannya ini kan teman ekskul (name).
"Oh yaudah. Gue duluan ya." Melambaikan tangannya, sang gadis segera menjauh dari posisi Alan dan menghilang dari pandangan sang pemuda. Menyalakan motor dengan sigap, Alan langsung menancap gas, meninggalkan lokasi tersebut.
Berjalan melalui gang malam yang gelap gulita, (name) tidaklah takut dengan hal ini. Melainkan, dirinya lebih takut menghadapi seseorang yang sudah menunggunya di rumah. Ia hanya bisa berharap agar tak ada kejadian yang tidak diinginkan.
Sekitar 15 menit sang gadis berjalan kaki, akhirnya (name) sampai juga di depan rumah. Menarik nafas dalam-dalam, tangan yang semula gemetar seketika mengepal, berusaha untuk menahan kegugupan yang ada.
Membuka pintu perlahan, dapat ia lihat sesosok pria dewasa tengah duduk bersantai di ruang tamu sembari membaca koran. Menelan ludah kasar, (name) memasuki ruang tamu, membuat laki-laki itu menoleh.
"Dari mana aja kamu? Ditelpon malah gak diangkat." Menutup korannya kasar, pria dengan nama Luham itu segera mengisyaratkan anak satu-satunya untuk mendekat. Ia membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengenai keberadaan sang anak sampai-sampai baru pulang semalam ini.
"Abis dari rumah Dira yah...Ayah pulang kok nggak ngabarin aku? Mau aku buatin teh atau kopi?" Meremas tali tas selempangnya, (name) dapat merasakan ganjalan di tenggorokan seakan-akan ia dipaksa membisu. Jujur saja, ia tak ingin berbohong, namun ini semua demi keselamatannya.
"Gak perlu. Sini kamu, ada yang mau ayah omongin." Dengan intonasi yang rendah, Luham segera melipat kedua tangannya di dada sembari menunggu (name). Jika dipikir-pikir, sudah 3 tahun semenjak dirinya melihat sang putri terakhir kali.
Tercekat kala mendengar nada sang ayah, (name) dengan cepat menunduk sembari meremas tali tas semakin keras. Takut. Dirinya benar-benar takut sekarang. "Aku ada salah kah yah? Kalo iya, aku minta maaf. Aku janji nggak akan ngulangin lagi. Maaf."
"Apa-apaan kamu? Ayah belum ngomong, kamu udah minta maaf aja. Udah sini dulu cepet." Berjalan mendekati sang ayah, (name) segera duduk di samping sofa milik ayahnya dengan menjaga jarak. Apa dirinya terlibat masalah? Perasaan, tidak.
"Kamu tau kan kalau sebentar lagi, kamu bakal lulus?" Tanya Luham pada anak semata wayangnya. "Kenapa nilai kamu masih segini-gini aja? Inget, dunia kerja gak segampang yang kamu pikirin. Dengan nilai segini, udah pasti kamu bakal kesingkir."
Menggigit lidah kencang, (name) hanya terdiam di sana tanpa membalas atau mengucapkan sepatah kata. Mendapati putrinya yang seperti ini, membuat sang ayah semakin menjadi-jadi tanpa menyadari bahwa perkataan itu menyakiti (name).
Sesak. Dadanya terasa sesak sekali. Baru saja ia mempunyai masalah dengan Rin, dan sekarang ia harus menghadapi perkataan menusuk dari sang ayah? Dunia sepertinya sedang bercanda ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
She Way Out | Troublemaker
Fiksyen PeminatAlan / Reader Padahal niatnya kan hanya untuk membantu mengirimkan surat cinta milik sang teman kepada salah satu anak kelas animation. Namun, mengapa dirinya lah yang terlibat masalah? Dengan pentolan kelas pula! "Jujur aja, lu suka bang Alan kan?"...
