Alan / Reader
Padahal niatnya kan hanya untuk membantu mengirimkan surat cinta milik sang teman kepada salah satu anak kelas animation. Namun, mengapa dirinya lah yang terlibat masalah? Dengan pentolan kelas pula!
"Jujur aja, lu suka bang Alan kan?"...
West Jayakarta, SMK Cipta Wiyata. October 2 2018, 03:45 PM.
Bel seketika berbunyi, menandakan bahwa sekolah telah dibubarkan.
(name) mulai membersihkan papan tulis serta merapikan kursi kelas bersama dengan teman-temannya yang lain. Hari ini memang jadwalnya untuk melaksanakan piket, sebagaimana dirinya telah berdiskusi sekelas dalam pembagian tugas.
Jujur saja, semenjak pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Rin tadi siang, ia cukup merasa gelisah. Meskipun, ia tetap berusaha untuk menelan bulat-bulat seluruh kecemasan yang dirasa. "(name), lu duluan aja gak papa. Tadi lu juga udah beresin banyak, biar kita-kita aja yang lanjutin."
Belina selaku teman sekelas (name), tersenyum kala mempersilakan temannya untuk pulang duluan. Lagi pula, dirinya tahu bahwa temannya ini memiliki janji dengan seseorang. Ia dapat melihat gerak-gerik (name) yang tak kunjung 5 menit, sudah membuka handphonenya berulang kali.
"Beneran Na? Makasih banget ya. Gue duluan kalo gitu." Seru (name) berterima kasih kepada sang teman. Mengambil tas dan beberapa barang lainnya, gadis itu segera meninggalkan kelas selepas melakukan piket. Menuruni tangga sekolah, (name) mengeluarkan ponsel miliknya dari saku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untuk sekedar memastikan, ia mengirim pesan ke Budi walau sepertinya pesan yang dikirim hanya centang satu saja. "Duh, gue telat banget ya? Semoga aja dia belom nunggu lama." Dengan cepat, (name) bergegas pergi ke arah parkiran, berlari melewati koridor sekolah.
Namun, sesampainya di sana, ia melihat Rin, Dira, dan Sophia yang tengah berbincang serius. Menyembunyikan badannya di balik dinding, (name) segera menguping tentang apa yang mereka bicarakan dari awal hingga akhir. Entah mengapa, ia jadi teringat lagi akan masa lalunya.
"Lo harus percaya sama gua Sop! (name) itu bukan temen yang baik buat lo. Lo gak sadar apa? Dari awal dia itu selalu nganggep lo sebagai saingannya. Dia iri sama lo!" Menggenggam erat tangan Sophia, Rin tetap membujuk temannya untuk lebih waspada terhadap (name).
Bahkan saat dirinya pertama kali bertemu dengan (name), Ia sudah merasa ada yang tak benar dengan teman Sophia yang satu ini. Lihat saja! Dari pandangan (name) yang penuh kebencian dan iri hati terhadap Sophia, bukankah itu telah membuktikan semuanya?
"Dir, lo setuju sama gua kan?! Lo kan selalu bareng dia terus!" Beralih ke arah Dira teman SMP nya yang sedari tadi membisu, Rin segera mencengkram lengan Dira lembut, mempertanyakan kebenaran dari sisi sang teman. Gadis itu yakin bahwa pasti ada sesuatu!
Membuang wajahnya, Dira hanya bisa tergagap sembari mengingit bibir kasar. Padahal, ia kan hanya ingin kedua temannya ini akur. "G-gua gak tau! Dia gak pernah cerita apa-apa tentang Sophia. Lagi pula, dia kan temen kita Rin. Lo gak boleh nuduh dia kayak gitu..."
"Lo sebenarnya ada di pihak siapa sih Dir?" Geram Rin, melihat tingkah laku Dira yang seakan-akan masih membela (name). Bagaimana bisa temannya ini masih membela orang yang diam saja kala temannya terluka? Ia tak habis pikir.