Salma melihat jam dinding di depannya berkali-kali. Berharap waktu cepat berlalu dan malam tiba dengan cepat. Supaya ia bisa secepatnya pulang ke rumahnya, meninggalkan toko yang menuntutnya untuk selalu berpapasan dengan seseorang yang saat ini tidak ingin dia temui.
"Sal. Cek leaf retailmu Sal" Pinta Ranty sembari mengecek aplikasi leaf retail miliknya.
"Kenapa kak? ngecek penjualan? aku 23" Jawab Salma langsung.
"O okey" Ucap Ranty tanpa menoleh karena sedang memasukkan id dan kata sandi miliknya untuk masuk ke aplikasi tersebut.
"Target kita berapa Sal?" Tanya Ranty melihat ke Salma.
"Masing-masing 35 kak" Jawab Salma.
"Kalo penilaian bulan ini Sal?" Tanya Ranty lagi.
"Titik aman 25 unit, cair isentife 30 unit, capai target masing-masing tambahan Rp 300.000" Jawab Salma.
"Pencapaian kita Sal?" Tanya Ranty.
"Aku 23, Kaka 23 juga kan?" Tanya Salma memastikan.
"Iya Sal" Jawab Ranty.
"Rony 24. 3 hari lagi tutup buku" Jelas Salma.
"Nggak mungkin dapet lagilah kan Sal? kita anjlok banget" Ucap Ranty lesu.
"Penjualan kita ngga anjlok. Total penjualan toko bulan ini bahkan lebih baik dari bulan lalu. Sekarang penjualan udah 70 unit, masih sisa 3 hari lagi. Bulan lalu di hari tutup buku, baru pas 70 unit. Bedanya, bulan ini penjualannya di bagi 3" Jelas Salma yang selalu memperhatikan grafik penjualan setiap bulannya.
"Oo iya yah. Harusnya kalo kita berdua, udah masing-masing 35. Ini karena di bagi 3, titik aman aja jadi susah. Yang harusnya udah dapet bonus, malah dapat potongan" Ucap Ranty baru sadar.
"Yang beruntung Rony di sini itu kak Ati sama bang Rio. Mereka bebas mau kemana aja. Ada yang jaga laci, ada yang service hp" Ucap Salma yang paham permainan ownernya.
"Kurang ajar memang itu orang. Dia yang di bantu, kita yang mikirin gajinya. Si Rony stay di etalase ini aja jarang. Jangankan menjelaskan atau ngerebut dari brand lain, settingin handphone setelah jadi pun jarang. Tiap hari dia duduk di balik meja kasir sama servis doang. Malam baru dia datang scan penjualan. Mana kau banyakin lagi sama dia Sal" Cerocos Ranty emosi.
"Cuma beda 1 kak Ran. Kaka di banyakin nggak mau" Jawab Salma.
"Mauku kau yang di banyakin. Kau yang lebih banyak ngejualnya" Ucap Ranty marah-marah ke Salma.
"Ngga mungkin aku ku banyakin. Aku di suruh bang Rio membagi, nanti dia mikirnya apa?"
"Itu anak juga, di kasi ngga ada nolak-nolaknya. Ngga tau mulut orang sampe berbusa ngerayu pembeli biar jadi. Harusnya sadar dirilah ah!" Ranty benar-benar emosi.
Salma hanya diam.
"Biar ajalah kita nggak capai target Sal. Biar kena rotasi aja kita ke toko lain bulan depan. Udah muak banget aku di sini" Ide Ranty.
"Sama aja itu kak Ran. Lebih capek lagi ketemu orang-orang baru. Pelajarin sifat-sifatnya lagi. Menyesuaikan diri lagi kelingkungannya, tempatnya, orang-orangnya" Ucap Salma.
"Daripada di sini. Jadi kayu bakar api neraka aku gara-gara ghibahin dia mulu" Ucap Ranty dengan emosinya.
"Hahaha" Tawa ringan Salma.
______
Rio turun dari lantai 2.
"Penjualan kalian udah gimana Sal?" Tanya Rio ke Salma yang lewat dari samping meja kasir sehabis dari dapur, mengambil air minum.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHONE PROMOTER
RandomDisaat kamu berfikir ingin memberikan yang terbaik, kamu malah menjadi yang terburuk.
