Salma's POV
"Hai manusia kuat" Sapa Salma ke dirinya, sembari tersenyum di depan cermin kecil yang bergantung di dinding ruang tengah rumahnya. Ia mencoba menyemangati dirinya kembali.
Deva, Adik Salma masih tertidur pulas di kamarnya. Feby, Kaka Salma sedang sibuk mencuci baju di kamar mandi sembari memutar lagu-lagu BTS. Sedang ibunya belum juga pulang dari pasar pagi.
"Ini hanya gerimis kecil dari ribuan badai yang lo hadepin selama ini Sal" Tegasnya untuk dirinya sendiri. Sembari mengingat-ingat masa lalu, tentang betapa sulitnya ia dulu untuk masuk ke pekerjaan ini.
"Bodoh!. Emang dia siapa? Kenapa lo harus berhenti kerja gara-gara dia? " Tanyanya lagi ke dirinya sendiri.
"Kalopun lo sekarang resign. Setelah itu lo dapet apa? Apa yang lo dapet dari mengalah untuk pergi dari hidup dia?" Ucap Salma terus-menerus menyadarkan dirinya.
"Nganggur?, membusuk di rumah?, nambah beban Mamak?" Ucapnya lagi.
"Hei!, pasang logika lo! Sesusah apasih menganggap seseorang tidak ada. Buat seolah-olah dia ngga pernah ada di hidup lo. Lo hindarin dia sebisa lo"
"Lo bisa!, lo pasti bisa!, lo ngga di ijinin buat nyerah sekarang! Adek lo belum kuliah, Ibu lo belom naik haji! kakaklo belum nikah! Rumah kalian belum direhab. Tugas lo masih banyak! Sadar!!!"
"BANGKIT SALMA!!! BANGKIT!!!" Ucapnya tegas sambil memperbaiki penampilannya yang akan berangkat kerja.
Salma mengambil handphone yang ia charger di atas digital tv, memakaikan headsetnya, lalu berjalan ke luar rumah menuju persimpangan gang rumahnya.
"Ka febbbbbb aku berangkatttttttt" Pamit Salma.
"Bontot lo di atas kulkassssss" Beritahu Feby dengan teriak.
"Iyaaaaa" Sahut Salma, masuk kembali mengambil bontot makan siang yang kelupaan.
_______
Salma sampai ke Dwijan Cell pukul 7.30 dengan menaiki kendaraan umum, Beca.
Syifa dan Ranty tersenyum manis menyambut Salma. Hanggi dan Manda masih di dapur bergulat dengan masakannya.
"Kurang ajar lo Salma. Gara-gara lo ngga dateng semalam gue jadi ngitung sendirian. Tega bener lo ngebiarin otak gue yang ala kadar ini berpikir keras menghitung rezeki mereka" Tunjuk Ranty ke arah meja kasir di kata mereka sambil merepet menggoda Salma.
Salma tersenyum tanpa berkata apapun. Ia ke dapur mengambil kain lap. Mengelap satu-persatu steling, dari steling terdekat dengan meja kasir hingga steling paling depan. Ia mendahulukan sekitar meja kasir selagi Rony belum muncul. Supaya mereka tidak berpapasan nanti di sana. Sedang Ranty menyapu dan Syifa mengepel.
______
Pukul 08.00 mereka bertiga menyelesaikan piket pagi mereka.
Setelahnya, mereka bertiga duduk di belakang etalasenya masing-masing.
Beberapa menit kemudian. Suara pijakan sendal gunung outdoor milik Rony terdengar. Rony sampai ke toko dan langsung menyadari kehadiran Salma.
Batinnya lega. Meski rasa kesal akan apa yang terjadi kemarin lusa masih bertandang di hatinya. Di balik rasa kesal itu ada terselip rasa rindu yang sama besarnya dengan rasa kesal yang dia rasakan saat itu.
"Lo udah ngga papa kan Sal?" Tanya Ranty memfokuskan pandangannya ke Salma.
"Udahlah gausa di bahas" Ucap Salma pura-pura sibuk dengan handphone-nya, tidak mau menatap Ranty agar Ranty berhenti dengan pembahasannya. Salma menduga Ranty akan membahas ulang kejadian kemarin lusa.
"Aku mau jujur Sal" Ucap Ranty.
"Kenapa kak Ran?" Tanya Salma masih acuh tak acuh.
"Tapi lo janji jangan marah ya Sal" Ucap Ranty sangat berhati-hati, ia masih menghadapkan dirinya ke Salma.
"Kenapa?" kali ini Salma mengangkat dagunya yang sebelumnya menatap ke bawah bermain handphone, namun sekarang menatap balik Ranty.
"Janji dulu" Ucap Ranty.
"Iya iya kenapa?" Raut wajah Salma serius. Ia merasa sepertinya ada yang tidak beres.
"Sebenernya, waktu kita scan penjualan kemarin, gue tuker punya Rony ke gue. Punya gue sama lo dan punya lo ke Rony" Akui Ranty.
"Aihhhhh" Salma berekspresi seperti habis minum obat pahit.
"Harusnya diskusiin ke gue dulu kak Ran" Ucap Salma dengan raut wajah kecewa.
"Kalo gue bilang, lo mana mau. Gue kesel banget pas Manda bilang lo kerjain hpnya semua sendirian, dia malah enak-enakan video Call-an. Tiba malam, dia datang tinggal scan, minta yang paling tinggi. Katanya anak orang kaya, perkara isentife beda limpul aja heboh" Ucap Ranty.
"Gue rasa dia marah bukan karena dia ga dapet type tinggii. Tapi karena dia fikir, dia yang kita ketawain. karena Timing nya pas Kaka tuker punya dia ke type rendah, di situ kita yang ketawa-ketawa karena video lucu yang Kaka kasih liat ke aku" Duga Salma.
"Dia itu paling gasuka kalo di sepelein kak Ran" Ucap Salma.
"Kenapa?, Karena dia anak orang kaya" Ranty balik emosi.
"Engga. Karena dia juga gasuka ngepelein orang" Jelas Salma.
"Jadi gimana sekarang Sal" Ucap Ranty.
"Ya mau gimana lagi. Biarin ajalah. Toh kak Ati juga maunya gini. Kita ngga akur sama si Rony. Kasihan juga dia nanti di marahin terus karena akrab sama gue" Ucap Salma.
"Kak Ati tuh kenapa sih?, hobi banget buat orang ngebenci dia. Masa anaknya temenan akrab sama kita aja ngga boleh" Heran Ranty.
"Kak Ati takut aku deket lebih dari temen sama Rony, dia maunya Rony deket sama Kaka. Dia ngga mau orang jelek kayak aku masuk ke keluarganya. Tampang nomor 1 di keluarga mereka" Ucap Salma dalam hatinya.
"Lagian, ngga mungkin jugaklah kau pacaran sama Rony kan?" Ucap Ranty. Salma terheran-heran.
"Mana mau kau. Kepedean banget dia. Siapa juga yang mau deket-deket sama kulkas yang pintunya udah di lem setan kata gitu" Cerocos Ranty emosi.
"Harusnya, dia obral aja itu anaknya. Dia sendiri udah ngaku ngga tahan sama sikap anaknya itu, pake sok sok-an ngasih jarak orang ke anaknya. Ya bersyukurlah orang" Lanjut Ranty.
"Hahhahaha" Salma akhirnya tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
PHONE PROMOTER
RandomDisaat kamu berfikir ingin memberikan yang terbaik, kamu malah menjadi yang terburuk.
