16

906 83 2
                                        

2 hari kemudian,

Dwijan Cell, Pukul 10 pagi.

Ranty memasuki toko dengan tas travel di tangannya sepulang dari acara mobilisasi yang dia hadiri kemarin. Ia langsung berjalan menuju dapur setelah melihat etalase opponya kosong tanpa penghuni.

"Eh, Aisyah lagi maam ya" Ucap Ranty menggelitiki Aisyah setibanya ia di dapur.

"Engga, dia lagi berak" Jawab Salma nge-gas sambil tersenyum, dengan tangan yang sedang menyuapi Aisyah.

"Gue ngga ngomong sama lu yee. Gue ngomong sama Aisyah. Bleee" Balas Ranty tersenyum juga.

"Dia kan belum bisa ngomong, gimana dia mau jawab iya" Ucap Salma.

"Dia bilang iya kok" Ucap Ranty

"Ka-pan?" Tanya Salma.

"Itu dia diem. Diam itu tandanya iya" Jelas Ranty.

"Lagian elu. Udah liat makan, pake di tanya. Sanalo sana sana sanahh!!!" Usir Salma mendorong Ranty yang tertawa-tawa. Salma lalu menutup pintu dapur. Dan tidak lama kemudian ia membukanya kembali.

___

"Asss-salaaaaaamualaikum!!" Seorang laki-laki berumur kisaran 40-an memasuki toko Dwijan.

"Wa'alaikumussss-Salaaammm!" Jawab Ranty, menyamakan intonasi dari ucapan salam yang di ucapkan oleh laki-laki tersebut.

"Cari apa pak?" Tanya Ranty ramah.

"Salma masih kerja di sini?" Tanya balik si bapak itu.

Rony melirik dari balik kaca transparan meja kasir.

"Masih pak, dia lagi di belakang. Bapak ada keperluan apa? Dengan, bapak siapa, biar saya sampaikan?" Tanya Ranty.

"Saya mau isi paket aja sih. Tapi saya maunya sama Salma. Tolong panggilkan, bilang paman Muh datang" Pinta si bapak.

"Kebetulan Salmanya lagi ada kerjaan pak di belakang. Saya juga bisa kok pak. Nomornya berapa pak? biar saya isikan" Ucap Ranty.

"Kamu nanti ngga ngerti. Saya maunya sama Salma aja" Ucap si bapak itu.

Hanggi, Syifa, dan Manda ikut melirik.

"Nomornya berapa pak, kita coba aja dulu pak?" Bujuk Ranty lembut.

"Kosong depalan-" Ucap si bapak itu akhirnya menyerah walau masih dengan raut wajah terpaksa.

"Iya pak, baru pak?" Tanya Ranty.

"Lima dua" Lanjut si bapak.

"Terus pak?" Tanya Ranty lagi.

"Dua lima lima dua. Lima lima dua lima" Ucap si bapak itu dengan sekali ucap tanpa jeda.

"Gimana-gimana pak?" Perjelas Ranty dengan kening mengernyit.

"Kan ngga bisaaa. Panggilin Salma aja. Kalo sama Salma saya ngga perlu nyebut nomor, dia hafal nomor saya" Ucap si bapak itu tetap ngotot ingin di layani oleh Salma.

"Bapak terlalu cepat tadi ngucapinnya pak. Coba ulangi lagi ya pak" Pinta Ranty dengan baik-baik, mengumpulkan sisa kesabarannya.

"08-5-2-2-5-5-2-5-5-2-5" Ucap pria itu kali ini dengan pelan-pelan. Dengan konsentrasi yang tinggi, akhirnya Ranty berhasil menyelesaikan rintangannya.

"Mau paket internet aja?, nelpon aja?, atau sekalian semua sama SMS-nya pak?" Tanya Ranty dengan senyuman.

"Internet sama nelpon 1 bulan. Ngga usah ikut sms" Ucap si bapak itu.

"SMS itu bonusnya pak. Kita ngga ada jual yang internet sama nelpon aja" Beritahu Ranty.

"Kalo yang sekalian semua sama smsnya itu, paket nelponnya nanti sedikit. Saya maunya yang Nelpon sama Internet aja. Supaya nelponnya banyak" Ucap si bapak itu.

PHONE PROMOTER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang