12

798 77 10
                                        

Setelah selesai sholat Zhuhur. Salma turun dari lantai 3 melewati lantai 2.

Di lantai 2, tiba-tiba ada yang menarik tangan kiri Salma. Salma sontak terkejut.

"Ssssutttt" Ucap Rony meluruskan telunjuknya di depan bibirnya, memberi isyarat agar Salma tidak berteriak. Rony melirik ke kiri-kanan, apakah ada yang melihat, dengan tangan kanannya yang masih menggenggam tangan kiri Salma. Saat ia rasa aman. Ia langsung menarik Salma ke dalam kamarnya lalu menguncinya.

"Woyyy, mau ngapain lo" Amuk Salma mendorong Rony agar menjauh. Tentunya dengan suara pelan, agar tidak ada yang mendengar dan salah paham.

"Fotoin gue. Buat pas photo" Ucap Rony dengan polosnya sembari menggerakkan telunjuk dan jempolnya di satukan dua kali, mengisyaratkan gerakan mencekrek/ memoto.

"Aihh, gue perkosa juga ni anak" Batin Salma geram.

"Gelap Ege" Ucap Salma.

Rony maju, mendekat ke arah Salma sampai Salma bersandar Ke dinding. Dengan jarak yang sangat minim di antara mereka, Rony lalu meraih saklar lampu yang ada di samping kiri kepala Salma. Lampu pun menyala. Dengan cahaya yang sudah terang, mereka baru sama-sama menyadari bahwa saat ini mereka benar-benar tidak berjarak.

"Sama aja!" Ucap Salma tiba-tiba mendorong Rony setelah cukup lama mereka saling menatap.

Salma membuka pintu kamar Rony, berganti kali ini ia yang menarik tangan Rony dari kamar menuju ke teras lantai 2.

Saat sudah berada di luar, Salma Lalu menutup pintu teras lantai 2 agar tidak ada yang melihat mereka dari dalam.

"Tegak!!" Perintah Salma seperti melatih kopassus. Dengan memposisikan Rony di dinding untuk bersandar. Salma lalu mengangkat dagunya Rony dengan telunjuknya yang ia tekuk.

Salma mendekat ke Rony, benar-benar dekat, hingga tidak ada celah di antara mereka. Lalu Salma menyentuh rambut Rony untuk merapikan rambutnya dengan sela-sela jarinya. Salma juga mengancingkan kancing atas baju Rony.

"Ak- "

"Diam!" Salma menepuk pergelangan tangan Rony yang ingin memperbaiki sendiri kancing bajunya.

Rony membuang nafas berkali-kali seperti penderita asma akut. Kali ini ia benar-benar tidak sanggup.

"Oh Tuhan. Gatahan gue sedeket ini Maaa" Batin Rony berusaha mendongak ke atas karena Salma begitu dekat saat sedang mengancingkan kancing bajunya, Rony lalu membuang muka ke sembarang arah karena gelisah. Takut hidungnya menyentuh wajah Salma dan mereka bertemu mata di jarak yang hampir tidak ada celah itu.

Rony membuka kembali kancing bajunya saat Salma sudah munduran. "Gerah Maa" Ucap nya.

"Tadi soksoan mancing gue. Gue pancing balik ngga tahan lo. Dasar Bocil" Batin Salma tersenyum sambil menatap mata Rony.

"Tapi kalo lo respon, gue juga takut sih. Hihi. Gue juga gini, karena tau lo masih bocil, dan ngga akan ngapa-ngapain gue" Batin Salma masih tersenyum menatap Rony.

"Kenapa?" Tanya Rony lembut.

"Engga, gapapa" Jawab Salma santai.

Salma lalu munduran lagi. Ia mengangkat ke dua tangannya siap memoto dengan kamera handphone-nya.

"Pake hpku aja" Tawar Rony menyodorkan handphone-nya.

"Jangan. Burik" Pancing Salma supaya Rony mau membeli handphone baru. Hal itu ia lakukan karena ia tau, Orangtua Rony itu sanggup membelinya. Lagipula, handphone Rony memang tidak akan bisa di pakai untuk absen kehadiran saat masuk oppo nanti.

"Udah. Cepat Maa" Desak Rony tidak tahan terus-terusan di tatap Salma.

"Sabar keles"

Salma lalu kembali fokus menatap kamera hp di tangannya yang sudah terbuka. Memperhatikan Rony dari kamera, yang sudah bersiap untuk di foto.

"Nungguin yaaa" Goda Salma menatap langsung Rony face to face, menurunkan kameranya.

"Cepetan Maaa" Ucap Rony lembut.

Cekrek cekrek cekrek.

"U-dah?" Tanya Rony saat Salma beranjak dari depannya.

"Udah" Jawab Salma

"Ngga kerasa" Ucap Salma

"Di foto mana ada rasanya" Ucap Salma.

"Liat sini" Ajak Salma memperlihatkan layar handphonenya

"Ini baru ada rasanya" Ucap Salma menunjuk layar handphonenya yang sedang diperhatikan Rony.

"Rasa apaan, foto gue itu?" Tanya Rony Heran.

"Ada rasa manis-manisnya" Ucap Salma saat Rony menatapnya menunggu jawaban.

"Helleh. Lagu lama" Ucap Rony langsung menjitak jidat Salma yang berada di depannya, lalu pergi lebih dulu. Ia lalu melepas senyumannya yang ia tahan saat sudah membelakangi Salma.

"Woyyyy bocil. Tungguuu!, lo turun belakangan. Biar mereka ngga ada yang salah paham" Ucap Salma.

Rony yang hendak menuruni tangga tadi, membelok ke kamarnya dan membiarkan Salma turun lebih dulu ke lantai 1.

Rony setuju dengan perkataan Salma, karena memang belakangan ini mereka sering di goda-goda oleh teman-temannya lantaran kemana-mana selalu bersama.

**

Salma duduk di belakang etalase Opponya. Tidak lama kemudian Rony pun turun dan duduk di samping Omnya di meja kasir.

Salma mengirim ke WhatsApp Rony, salah satu foto Rony yang ia ambil tadi.

"Maaaaaaaa!!" Teriak Rony tiba-tiba dengan sangat keras. Rio dan semua karyawannya sontak melihat ke arah Rony dan Salma. Dari yang mereka tahu Rony itu jarang mengeluarkan suara, tiba-tiba ini teriak, mereka lantas terheran-heran.

Ya Bagaimana tidak teriak, Salma yang tadi mengambil foto tersebut men-Zoom 10X wajah Rony. Alhasil yang tertangkap hanya kedua lobang hidung Rony.

"Iya dek, kenapa dek?" Tanya Salma santai dengan wajah datar seolah tak melakukan dosa apapun kepada Rony.

Rony yang sadar telah di perhatikan semua orang, langsung menundukkan kepalanya. Membalas pesan WhatsApp Salma tadi.

"Awas lu yaa"

"Bleee"

PHONE PROMOTER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang