01

92.2K 3K 30
                                        

Halo semuaaaa!!!! Semoga betah ya bacanyaa
Happy reading!!!!!

Cinta bukan paksaan, tetapi kerelaan dan kenyamanan ~ Alaska.

Matahari yang semakin merangkak tinggi, bel sekolah yang telah berbunyi 15 menit yang lalu. Sedangkan diluar sekolah, terdapat 3 laki laki yang sedang mengambil ancang-ancang untuk melompat masuk kedalam area sekolah setelah memastikan bahwa tidak ada siapapun yang berada di area belakang sekolah.

Suara tumpuan terdengar, menandakan 3 laki-laki itu berhasil melompat dengan selamat. Tetapi, untuk terus berjaga-jaga, mereka selalu melihat sekeliling agar lebih memastikan. Tak sengaja salah satu dari mereka menendang sesuatu hingga berbunyi keras.

PRANG!

Suara pecahan terdengar, itu menandakan yang barang yang pecah itu adalah terbuat dari kaca.

3 laki laki itu sangat panik. Tak ambil pusing, mereka langsung bersembunyi pergi kedalam gudang sekolah, ketika melihat ada salah satu anggota osis yang ternyata masih berada tak jauh dari posisi mereka.

Ketiga anak laki-laki itu adalah Marvin Draxen Aksara, laki laki yang tingginya 176 cm dan 2 temannya yang bernama Reksa Alvaro Putra, dan Jackson Alvino Jex. Mereka adalah teman Marvin yang sudah berlangsung sejak kecil, karena itulah hubungan erat mereka sudah seperti saudara.

Detik terus berjalan tanpa henti, ketika merasa sudah tidak ada osis yang lewat, mereka dengan cepat masuk kedalam kelas mereka.

~~~

Tak terasa suara bel sudah berbunyi, suara sorak sorai para murid pun juga sudah terdengar yang menandakan jika waktu menunjukkan jam istirahat.

Para murid keluar dari kelas menuju kantin, begitu pula dengan geng MAX. perpaduan dari nama Marvin, ReksA, dan JeX.

Baru saja mereka melangkahkan kakinya beberapa langkah dari kelas, mereka mendengar seseorang memanggil mereka bertiga. Dengan raut bingung, mereka diarahkan untuk pergi ke ruang osis untuk menghadap Ketua Osis.

Suara ketukan pintu terdengar, Alaska Vincent Arka, seorang Ketua osis periode 2023/2024 dengan identitasnya yang dikenal sebagai sosok yang tegas dan menerima segala keluhannya dari setiap murid akan kinerja anggota osis. Dengan tingginya 180, tak sedikit pula yang mengangguminya.

“Masuk,” ucapnya dengan nada yang datar tanpa intonasi, seolah memberi perintah tanpa membutuhkan respon.

Setelah dipersilakan masuk, Marvin, Jex, dan Reksa segera membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang osis. Suasana didalam ruang osis begitu senyap tak ada suara yang berbicara dalam ruangan tersebut. Entah memang tidak ada yang berani berbicara atau memang Alaska tidak ingin mengucapkan sepatah katapun.

Marvin merasa tak nyaman berada dalam kesunyian. Ia pun memutuskan untuk angkat bicara. "Lu manggil kita buat apaan? jadi bahan gabut?"

Tidak ada jawaban dari Alaska, ia hanya menatap mereka bertiga dengan tatapan tajamnya, seakan-akan memikirkan akan dibuat apakah mereka bertiga.

“Lu bisu atau gimana? Gunanya lu manggil kita buat apa? kalau ga ada gunanya, sia-sia gua ajak mereka kesini. Hanya buang-buang waktu." Marvin hendak beranjak dari posisinya. Namun terhenti ketika Alaska akhirnya bersuara.

“Kalian tau, apa kesalahan kalian?” tanya Alaska dengan tetap mempertahankan posisi tatapan, bicara, dan posisi duduknya.

Marvin mendengus kesal. "Gua tau kita telat dan gak sengaja memecahkan kaca, tapi yang bisa hukum kita adalah guru."

"Ya, tentu saja kalian benar. Namun, apakah kalian tidak tahu, semua guru sudah mengangkat tangannya. Bukankah orang tua kalian pun sudah tak sanggup lagi?"

“Cih, terus ya gua ga perduli juga," sahut Jex.

“Baik, saya tahu jika saya bertemu dengan orang yang tepat. Maka dari itu, saya sudah memutuskan untuk menghukum kalian membersihkan toilet sekolah dan mengangkat barang-barang tak terpakai menuju gudang." Alaska pun pamit mengundurkan diri. Meninggalkan ketiganya yang masih mencerna kejadian yang baru saja berlangsung, juga mencerna setiap perkataan Alaska.

"Hah? Kocak." Marvin dan Jex tertawa hambar. Melihat tampangnya yang rupawan, harus turun membersihkan toilet dan menaruh barang-barang menuju gudang.

Reksa menghela nafas kasar. Merasakan penyesalan yang kini ia hadapi dan dengan terpaksa ia harus pulang hingga sore bahkan menjelang malam hari, hanya untuk menjalani hukuman hari ini.

"Bangsat, banget si Alaskaki." umpat Marvin yang mendapat persetujuan dari Jex.

~~~

Jam sekolah sudah menunjukkan pukul 3 sore, disahuti bel sekolah yang berbunyi menandakan bahwa pelajaran sudah berakhir. Para murid dan guru berhambur keluar untuk pergi menuju parkiran, bahkan gerbang depan untuk menuju rumah masing-masing.

Namun sungguh sial bagi para lelaki tampan geng MAX ini. Mereka tak akan bisa pulang begitu saja, karena harus melakukan penghukuman akan kesalahan mereka tadi pagi. Terdengar bahwa kaca yang tak sengaja Marvin injak adalah kaca sekolah yang tergeletak tak jauh dari letak mereka melompat.

“Pengen gua sumpahin jodohnya bukan cewek, biar rasain tuh. Nyebelin banget jadi osis!" gerutu Marvin. Walaupun ia terus menggerutu, mau tak mau ia tetap memaksa kedua tangannya untuk membersihkan toilet laki-laki.

“Udahlah Vin, gak guna juga lu ngomel ngomel. Mending cepetan selesaiin biar bisa langsung pulang,” Ujar Reksa yang mulai lelah dengan Marvin yang terus mengeluarkan umpatan untuk Alaska. Toh sebanyak apapun Marvin mengumpat, tidak membuat Alaska meringankan hukuman ini.

“Setuju gua, mending cepet selesaiin biar langsung main game." Sahut Jex yang setuju dengan penuturan Reksa.

Segini dulu, apakah terlalu singkat??

Baiklah baiklah, jika terlalu singkat. Maka ini permulaan dulu, oke?????

Ya udah, sampai ketemu lagi!!!!!

Seperti cinta ku kepada kaliaannn, ihayyy

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seperti cinta ku kepada kaliaannn, ihayyy

ALASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang