02

45.3K 2.3K 45
                                        

Haloooo!!!!! Semoga masih betah ya bacanyaa
Happy reading!!!!!


Indahnya pemandangan malam hari, melepas penat setelah menjalani kegiatan sekolah dan menjalani hukuman yang begitu berat, hingga diputuskan bahwa Marvin, Reksa, dan Jex memilih tinggal di apartemen Marvin.

Begitu kaki mereka melangkah masuk kedalam ruangan dengan 2 kamar tersebut, Jex dan Marvin memilih untuk melepaskan penat mereka dengan bermain gim yang berserakan. Sedangkan Reksa, ia lebih memilih untuk tidur agar bisa mengumpulkan energinya kembali.

"Ah sialan! Pake kalah lagi!" umpat Marvin dengan membanting alat gim yang berada di tangannya.

"Yee, kalah mah kalah aja." ejek Jex yang merasa puas melihat Marvin akhirnya berhasil ia kalahkan.

"Bacot!"

Sedangkan di kamar, Reksa yang merasa terusik tidurnya, tak segan berteriak meminta Jex dan Marvin untuk mengecilkan suaranya.

Mendengar teriakan dari Reksa. Marvin dan Jex yang sedang adu bacot langsung terdiam kikuk.

Tak ada yang berani mengeluarkan suaranya, karena bagi mereka, jika Reksa sudah meninggikan suaranya artinya nyawa mereka di ujung tanduk.

Namun untuk melihat perbandingan antara Reksa dan Alaska, dapat dilihat melalui tata cara mereka berbicara. Apabila Reksa marah, Marvin dan Jex akan terdiam sesaat namun dapat berulah kembali.

Tetapi untuk Alaska, terdapat susunan kata yang membuat keduanya tak akan berkutik. Juga, keduanya sama-sama sosok yang tak terlalu banyak bicara, namun banyak dalam perbuatan.


Kalo Reksa, masih boleh lah ya. Walaupun irit juga, tapi dia akan irit kalo sama orang lain. Selain Marvin dan Jex.

~~~

Seperti pada hari biasanya, hari-hari dipenuhi dengan tanda peringatan terlambat. Namun hari ini terasa berbeda, hanya Marvin saja yang terlambat.


Lalu, dimanakah Jex dan Reksa?

Jex dan Reksa memasuki kelas saat bel baru saja berbunyi. Sehingga, mereka tak sampai kena cegat guru maupun osis yang berjaga.

Seperti biasa, Marvin akan mengendap-endap untuk memastikan jika tidak ada guru ataupun anggota osis.

Setelah berhasil lolos melewati area luar, Marvin mulai melangkah pelan dengan terus mengawasi sekelilingnya.

Marvin terhenti saat ia harus berjalan melewati ruang guru dan ruang waka. Rasa takut dan perasaan tak nyaman yang menyelimuti Marvin.

Merasa mantap, Marvin siap untuk melangkahkan kakinya. Namun, belum ada beberapa langkah, Marvin mendengar seseorang yang berujar tepat dibelakang tubuhnya.

"Hey, maling."

Sontak, suara yang berkata maling itu membuat Marvin menoleh kearah belakang.

Ia melihat dengan jelas, bahwa disitu ada Alaska yang sedang menatap Marvin dengan tatapan dingin.


ALASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang