21. Penobatan🖤

9.1K 845 12
                                        


Hari Penobatan Pangeran Marius telah tiba, Brigitta sedang di sibukan dengan banyak kegiatan untuk mempercantik diri. Hal inilah yang paling Brigitta benci ketika menghadiri pesta yang di penuhi Bangsawan, mereka akan saling berlomba-lomba menyombongkan diri. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Brigitta pusing.

Sekarang hari sudah siang dan Brigitta baru selesai berpakaian dan Livin sedang membantunya menata rambut. "Bisakah Nyonya diam? Saya kesusahan untuk menata rambut Anda. " Pinta Livin.

Brigitta menghentikan kegiatannya, membaca buku. "Baiklah. " Menutup buku dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Brigitta masih tidak nyaman dengan wajah barunya yang berbeda dengan miliknya dulu. Menurutnya sama saja, tapi Ia harus mengakui jika wajah barunya lebih menawan. Mungkin di kehidupannya dulu, wajah Brigitta bisa menarik banyak industri Entertainment untuk menjadikan-nya seorang Aktris atau Idol.

Brigitta terus memandang pantulannya dalam diam, Livin melihatnya. "Apa Nyonya sedang terpesona dengan kecantikan yang anda miliki? Saya juga terpesona. " Puji Livin.

Brigitta melirik sekilas pantulan Livin. "Tidak juga, Aku hanya bosan. "

"Tunggu sebentar lagi, saya akan segera menyelesakan. Saya akan membuat anda menjadi wanita tercantik di Istana! " Seru Livin dengan semangat.

Brigitta tersenyum. "Jangan. Aku tidak ingin terlihat mencolok. Sederhana saja. "

"Tidak bisa Nyonya, hari ini anda akan menghabiskan banyak waktu untuk berbincang dengan Bangsawan. Mereka akan menghina penampilan anda. "

"Mereka tidak akan berani, Aku bukan lagi putri dari keluarga Alberorn tapi seorang Duchess. "

"Tapi lidah mereka sangat beracun, tidak bisa menahan diri untuk memberi kritikan. "

"Sepertinya lidahku lebih beracun. " Mereka saling menatap dari pantulan cermin, terlihat jelas raut khawatir di wajah Livin.

"Tetap saja.. "

"Kau tidak perlu khawatir. "

"Baiklah. " Balas Livin dengan lemas.

Akhirnya Livin menata rambut Brigitta yang awalnya tersanggul kini tergerai dengan di beri hiasan kecil berbentuk Bulan sabit, sangat sederhana dan Brigitta menyukainya. Tidak lupa Livin memakaikan perona pada pipi dan bibir Brigitta.

Bunyi pintu di ketuk, atensi Brigitta dan Livin teralihkan. "Bolehkah aku masuk? " Suara dari balik pintu, Neil.

Brigitta mempersilahkan Neil untuk masuk. "Biasanya kau akan langsung masuk. Ada apa? " Ucap Brigitta, memulai pembicaraan.

"Aku ingin meiihat istriku, apa tidak boleh? " Ucap Neil lembut.

Brigitta menatap aneh perilaku Neil, tidak biasanya Neil bersikap seperti itu jika hanya berdua. Ah ia lupa jika masih ada Livin disini, pantas saja Neil bersikap baik. Brigitta mendengus, sepertinya ia harus mengikuti alur yag Neil buat. "Tentu saja. Bisakah kau tinggalkan kami ber-dua, Livin? "

Livin mengangguk, menunduk hormat dan keluar dari kamar. Brigitta menatap Neil datar. "Kau bisa melepaskan topengmu. "

Langsung saja Neil melunturkan senyumannya, menatap Brigitta dari atas sampai bawah. "Tidak buruk. "

"Kau jelek. " Balas Brigitta, merasa tidak terima dengan penilaian Neil terhadap penampilannya.

"Aku memuji mu. "

"Itu juga pujian. " Ucap Brigitta santai. menatap penampilan Neil dari atas sampai bawah, meniru tindakan Neil.

Neil mendorong dahi Brigitta dengan telunjuknya, pelan. "Tidak sopan. "

Antagonist Pride! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang