37. Tempat Suci🖤

1.7K 111 3
                                        


Esoknya, pada pagi buta yang masih diselimuti kabut malam yang kelabu dan dingin, Brigitta berdiri di depan pintu besar manor bersama beberapa pelayan, mengantar kepergian suaminya, Neil. Meskipun mata mereka terasa berat, mereka tetap ingin memberikan penghormatan terakhir kepada sang tuan.

Namun, tidak ada adegan perpisahan yang mengharukan antara pasangan suami-istri tersebut. Penyebab utamanya adalah kejadian kemarin, ketika Neil masih bisa merasakan rasa nyeri di bahunya dan dengan perasaan kesal dia membalas perbuatan Brigitta dengan menggigit balik tepat di leher, membuat istrinya itu berakhir marah.

Brigitta masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Hasil gigitan Neil membekas di lehernya, dan sekarang dia harus menutupinya dengan gaun berkerah tinggi. Jika saja kemarin sore Brigitta tidak menghentikan Neil, mungkin selanjutnya akan terjadi adegan yang tidak Ia inginkan.

Sebenarnya, Brigitta sadar maksud lain dari gigitan Neil, belum lagi tangannya yang sengaja meremas pinggulnya dengan sensual. "Bajingan mesum," pikir Brigitta dengan rasa kesal.

Hal yang lebih memalukan adalah ketika para pelayan membuat asumsi sendiri ketika mendengar teriakan dari ruangan Neil yang bersamaan dengan keluarnya Brigitta dari sana dalam keadaan berantakan dan bekas gigitan di lehernya.

Maka dari itu, Brigitta tidak ingin berpura-pura sedih atas keberangkatan Neil. Ia sudah sangat kesal dengan kejadian tersebut. Sedangkan Neil dapat melihat jelas sikap menyebalkan istrinya ini.

Ya, Brigitta menyilangkan tangan di dada dan beberapa kali menguap ketika Neil sedang berbicara dengan Butler. "Apa kau akan terus bersikap seperti itu?" tanya Neil yang mulai gemas atas sikap istrinya.

"Apa kau tidak bisa lihat jika aku mengantuk?" balas Brigitta dengan bertanya balik, sangat berharap untuk Neil segera pergi. Sekali lagi Neil melihat istrinya menguap di hadapannya. Kepalang gemas sekaligus jengkel, Ia mencubit kedua pipi istrinya dan menariknya.

Brigitta tentu terkejut atas perlakuan Neil kepadanya, "Lepaskan!" serunya dengan mata menatap tajam Neil. Tak lama Neil langsung melepaskan cubitannya. Brigitta kira sudah selesai, tapi nyatanya Neil kembali menangkup wajah Brigitta dengan satu tangan dan mengapit pipinya hingga bibir Brigitta maju layaknya ikan Koi yang sedang makan.

Semakin kesal, Brigitta ingin sekali menyerukan sumpah serapahnya, tetapi yang lebih tak disangka adalah tindakan selanjutnya dari pria gila di hadapannya. Neil lantas mengecup beberapa kali bibir Brigitta, bahkan hidungnya menjadi korban juga.

"Ini hukuman untuk sikap tidak sopanmu barusan," bisik Neil dalam batas jarak tidak lebih 5 centi dari wajah Brigitta. Lalu Ia menjauhkan tangannya dan mengambil langkah mundur, menatap Brigitta dengan tampang mengejek dan puas akan tindakannya tadi.

Brigitta hampir kelepasan ingin mengelap wajahnya dengan gaun yang sedang dia pakai, jika saja para pelayan tidak menatapnya dengan binar bahagia karena melihat hubungan antara Tuan dan Nyonya nya yang tampak sangat harmonis dan menggemaskan.

Atas dasar kesepakatan dalam syarat tertulis yang ada di kontrak, yaitu bersandiwara seolah mereka saling mencintai, maka dari itu Brigitta menahan diri untuk tidak menendang tulang kering Neil sekarang.

Kepalang kesal, Brigitta memilih menyugar poninya ke atas, lalu mengangkat kedua tangannya, Ia lantas mengacungkan kedua jari tengahnya. F*ck you!

"Apa maksudnya itu?" tanya Neil, bingung. Brigitta tersenyum mengejek, lalu membalas, "Salam perpisahan" Melihat senyuman istrinya, Neil yakin jika simbol itu memiliki arti lain, dan yang pasti itu bermakna kasar atau mengejek.

Lantas Neil mengangkat kedua tangannya dan mengikuti pose Brigitta. F*ck you too. Tak terpikirkan bahwa Neil akan membalasnya. Mood Brigitta semakin jelek.

Antagonist Pride! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang