41. Titik Merah🖤

673 47 2
                                        

Setelah dirinya di temukan tak sadarkan diri di ruang kerjanya, Brigitta mengalami yang namanya isolasi penuh. Kamarnya terkunci dari luar, dan Ia tidak di perbolehkan untuk keluar sampai kesehatannya membaik. para pelayan dan pengawal bergantian menjaganya, memastikan bahwa dirinya tidak menginjakkan kaki di ruangan kerja.

Bahkan Ia tidak di bolehkan turun dari atas ranjang. Jika ingin buang air kecil, ia akan di tuntun dengan sangat hati-hati layaknya Vas yang bisa pecah kapan saja.

Sejujurnya Brigitta tak merasakan apapun, selain pusing, lemas dan lapar. Tetapi Tabib memberikan arahan tegas kepada para pelayan untuk selalu menjaga Brigitta dan memastikan jika sang Duchess tidak melakukan hal berat. Beliau butuh istirahat penuh.

Brigitta sempat menanyakan penyakit apa yang menyerangnya, dan Tabib hanya menjawab bahwa dirinya hanya kelelahan. Kalau begitu, kenapa para pelayan menatapnya kasihan begitu?

Sudahlah. Brigitta tidak punya waktu untuk memikirkan itu. Padahal sebentar lagi Ia menyelesaikan buku Codex Anodos dan menemui Shellena di Kuil. Dan sekarang Ia malah di kurung di kamar.

Tabib menyarankan Brigitta untuk beristirahat selama 1 minggu penuh. Tentu Brigitta menolak, karena waktu yang Ia punya tinggal 2 minggu. Dan di situlah negosiasi di mulai. Dari seminggu menjadi 3 hari, kalau lebih dari itu Brigitta mengancam akan mogok makan ataupun minum.

3 hari itu Brigitta nikmati sebagai hari liburnya, karena setelah itu Ia harus kembali fokus pada tujuan utamanya. Dan tak terasa waktu berjalan dengan cepat, hari silih(?) berganti.

3 Hari kemudian...

Pagi itu, seperti biasa Brigitta berada di ruang kerjanya. Ia memanggil dua Spirit King ke ruang kerja.

Saile, sekretaris yang mengatur seluruh jadwal dan korespondensinya, datang pertama kali. Di belakangnya menyusul Nois, kepala urusan proyek dan dagang.

"Sudah lama sekali anda tidak memanggil saya kesini. Ada yang bisa saya bantu, Master?" tanya Saile sambil membungkuk, buku agenda tebal sudah terbuka di tangannya.

Brigitta meletakkan buku Shellena di atas meja. Suaranya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah. "Saile, kosongkan seluruh jadwal ku mulai hari ini. Pertemuan dengan serikat dagang, pelelangan, apapun itu batalkan semuanya."

Ujung pena Saile terhenti di atas kertas. "Semuanya, Master? Termasuk berkunjung ke hutan Reewods? Itu sudah dijadwalkan dua bulan lalu."

"Batalkan," ulang Brigitta. "Katakan aku tidak dapat hadir karena urusan pribadi yang mendesak. Jika Mark ingin bertemu, beri tahu bahwa aku tidak akan menerima tamu."

Selama mengabdi, ia belum pernah melihat Masternya mengambil keputusan sefrontal ini. "Baik, akan segera saya urus. Untuk jangka waktu... sampai kapan, Master?"

"Sampai aku katakan selesai."

Nois yang sedari tadi diam akhirnya maju selangkah. "Master, jika boleh saya tahu... apakah ini terkait dengan proyek jalur dagang utara? Kontraknya akan ditekan minggu depan. Kita bisa rugi besar jika menundanya."

Brigitta menatap Nois lekat. "Nois, tunda semua proyek yang sedang berjalan. Yang bisa ditunda, tunda. Yang terpaksa dibatalkan, batalkan. Alokasikan dana dan sumber daya untuk hal lain. Aku yang akan bertanggung jawab penuh."

Kening Nois berkerut, bingung. "Tapi Master, proyek pelelangan Mutiara Mana sudah mencapai 90 persen. Jika kita hentikan sekarang, para pekerja-"

"Berikan kompensasi dua kali lipat. Pastikan tidak ada yang dirugikan," potong Brigitta. "Aku tidak peduli berapa pun biayanya. Mulai hari ini, prioritas kita hanya satu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 14 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Antagonist Pride! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang