30. Bertemu lagi 🖤

5.8K 461 21
                                        

Setelah mencium bibir Brigitta, Neil tetap menepati ucapannya dengan tetap berada di samping Brigitta.

Melihat tubuh Brigitta terbaring dengan lemah, membuat dadanya terasa sesak. Ia tidak pernah menyangka jika Ia akan jatuh hati lebih dulu pada perempuan ini, bahkan lebih dalam dari pada yang Ia kira.

Jika di tanya, sejak kapan Ia menyukai Brigitta?

Ia juga masih bertanya-tanya, pada dirinya sendiri karena semua ini berada di luar perkiraannya.

Apakah perasaan ini timbul karena mereka sering berinteraksi atau karena tingkah Brigitta yang selalu dapat menarik perhatiannya?

Atau karena perlakuan Brigitta yang selalu membuatnya nyaman?

Atau setelah mereka melakukan 'Itu'?

Entahlah, Ia tidak tahu karena perasaan itu muncul dengan perlahan dan membengkak sampai membuatnya hampir gila, karena haus akan perhatian dari Istrinya itu.

Mirisnya, perasaan ini hanya sepihak. Brigitta tidak menunjukkan rasa ketertarikan, bahkan Brigitta telah membangun dinding tebal yang susah di hancurkan dan parahnya dia TIDAK PEKA!

Neil berpikir jika cara lembut dan perlahan seperti ini tetap tidak bisa membuat Brigitta membuka hatinya, maka Ia akan melakukannya dengan terang-terangan.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu, Neil mempersilahkan masuk dan Butler memasuki kamar Brigitta dengan tangan yang di penuhi tumpukan dokumen penting.

" Duke ini dokumen yang Anda minta." ucap Butler.

Neil mengangguk, tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah Brigitta. "Hm, letakkan di atas meja sana." ucap Neil seraya menunjuk meja yang ada di tengah ruangan.

Butler mengikuti arahan Neil dan meletakkan tumpukan dokumen tersebut di atas meja yang di kelilingi oleh sofa.

" Apa ada yang perlu saya lakukan lagi, Duke?"

" Panggilkan Tabib untuk mengecek kondisi Istri Ku ketika dia terbangun." perintah Neil.

" Baik, Duke. Kalau begitu Saya pamit undur diri." ucap Butler seraya menunduk hormat, lalu meninggalkan kamar Brigitta dan tidak lupa menutup pintunya kembali.

Sepeninggalnya Butler, Neil mengelus pipi Brigitta dengan hati-hati takut jika perlakuannya dapat membangunkan Brigitta.

" Maafkan Aku ... ." ucap Neil lirih.

...

Ke-esokkan harinya, Brigitta telah kembali dalam kondisi sehat setelah mendapatkan pemeriksaan dari Tabib dan di rawat oleh Neil seharian. Bahkan Neil selalu memastikan jika semua kebutuhannya terpenuhi tanpa ada satupun yang kurang. Pria itu benar-benar menjaganya dengan baik, walaupun ada sedikit kecanggungan.

Bagaimana tidak canggung jika Neil memperlakukan-nya dengan sangat lembut, bagaikan menjaga gelas kaca yang kapan saja bisa pecah. Neil juga tidak memperbolehkan Ia turun dari ranjang, kecuali ingin ke-kamar kecil.

Meskipun begitu Brigitta tetap berterima kasih, berkat perhatian Neil Ia bisa sembuh dengan cepat, bukan hanya perhatiannya saja tapi karena Ia tidak ingin lama-lama satu ruangan dengan Neil! Ia bisa darah tinggi.

Dan saat ini Brigitta sedang berada di ruangan Neil. Sebenarnya Ia sedang menghindari Neil karena Pria ini mulai mendekatinya dengan agresif seperti saat ini, dia duduk di sebelah Brigitta dengan jarak yang sangat dekat seraya menggenggam tangan Brigitta dengan erat.

Antagonist Pride! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang