Keesokan harinya, Brigitta bangun lebih siang dari perkiraannya, sebab semalam Ia tidak bisa tidur nyenyak dan sesekali terbangun— yup berkat mimpi sialan itu. Maka dari itu tepat pukul 12 siang Ia mulai bersiap-siap untuk pergi ke kuil. Dia mengenakan pakaian yang sederhana, gaun abu-abu berkerah tinggi, Ia tidak ingin menarik perhatian terlalu banyak.
Judy sudah menunggu di luar kamar, siap untuk mengantarnya. Judy membungkuk dan membukakan pintu. "Kereta kuda sudah siap, Duchess. Mari kita pergi."
Brigitta mengambil napas, memantapkan niatnya dan melangkah keluar dari kamar. Dia merasa sedikit aneh, tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Tapi, dia tahu bahwa dia harus melakukannya.
Di luar Manor sang kusir dan Butler telah menunggu kedatangan mereka. Pandangan Brigitta teralihkan ketika melihat dua Ksatria yang berdiri tegap di samping kereta kuda, segera Ia menatap Butler, seolah bertanya dengan matanya. Menangkap maksudnya, Butler segera menjelaskan, "Mereka akan mengawal anda untuk sementara waktu, Duchess."
Salah satu alisnya terangkat, "Tidak perlu, aku hanya pergi sebentar," balas Brigitta
Segera di sahut Butler, "Saya tahu anda tidak suka di kawal tetapi ini demi keamanan anda. Saya tidak bisa menutup mata setelah kejadian kemarin, dan saya telah berjanji pada Grand Duke untuk melaporkan semua ke— "Cukup, aku paham maksud mu. Jadi lakukan sesuka mu," sela Brigitta, tidak ingin memperpanjang perdebatan. Apapun yang di rencanakan Butler Ia tidak ingin memikirkannya, hanya kali ini saja.
Segera saja Butler memperkenalkan ke-dua Ksatria tersebut. Yang bersurai Coklat madu dengan tataan klimis dan iris berwarna Emerald bernama Heriton, sedangkan yang sedikit lebih pendek, bersurai abu-abu dengan potongan Wolf cut dan iris berwarna Amber bernama Ellian. "Suatu kehormatan dapat melayani anda, Duchess," ucap mereka berdua secara bersamaan sembari membungkuk.
Brigitta mengangguk, "Senang mengenal kalian," balas seadanya.
"Saya akan membantu anda masuk kedalam kereta," ucap Herion sembari memberikan tangan kanannya. Brigitta segera menyambut tangan tersebut dan menaiki kereta kuda, lalu di susul oleh Judy. Setelah semua siap, mereka pun berangkat ke Kuil, yang terletak jauh dari pemukiman warga.
Perjalanan terasa lama, dan Brigitta merasa semakin tak sabar ingin segera mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di kepalanya.
Ketika mereka tiba di Kuil, Brigitta memperhatikan dengan seksama. Kuil itu terlihat sama seperti sebelumnya, tenang dan damai. Berbeda dengan sebelumnya yang tampak sepi, kali ini Kuit tersebut tampak ramai oleh pengunjung.
Judy membukakan pintu dan membiarkan Brigitta turun dari kereta. "Kenapa ada begitu banyak pengunjung?" Tanya Brigitta pada Judy, dan langsung di balas, "Mungkin karena sekarang telah memasuki waktu berdoa bersama, Duchess."
Brigitta mengangguk paham. "Kalian tunggu di sini. Jangan ada yang menyusul masuk, mengerti." tekannya
Judy mengangguk. "Baik, Nyonya. Saya akan menunggu di sini."
Brigitta melangkah menaiki tangga satu persatu hingga mencapai pintu utama Kuil tersebut. Begitu masuk ke dalam kuil, Ia langsung di sambut pemandangan di mana para jemaat sedang berdoa bersama. Ia dapat menemukan Shellena dengan mudah, dia duduk di barisan paling depan. Lantas Ia segera berjalan mendekat, sembari tangannya memasang Veil yang telah di siapkan Judy. Jujur Ia lupa untuk hal ini, Ia akan berterima kasih pada Judy nanti.
Brigitta mengambil tempat duduk tepat di samping kanan Shellena, dan langsung di notice oleh Shellena. "Anda datang kembali," ucapnya dengan senyuman ramah.
"Aku datang untuk mendengar kelanjutan dari omong kosong mu," balas Brigitta cukup tajam.
Mendengar itu, senyuman Shellena semakin lebar hingga matanya ikut tersenyum. "Tetapi omong kosong tersebut berhasil menarik rasa penasaran anda bukan?" Dia merasa Brigitta lucu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonist Pride!
FantasíaBagaimana jika Lenuta, gadis cantik yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya dan mencintai kebersihan harus memasuki tubuh Brigitta Angelika de Alberorn, seorang gadis bangsawan dari keluarga Duke yang terhormat. Masalahnya.. Brigitta adalah pem...
