38. Dilema🖤

1.2K 74 0
                                        

Sesampainya di Manor, Brigitta turun dari kereta kuda, melangkah cepat menghiraukan rintikkan air hujan yang membasahi gaunnya. Judy yang melihat Nyonya-nya jalan terburu-buru tanpa perlindungan, lantas berlari mengejar sembari merebut payung yang di bawa salah satu pelayan. "Tunggu Duchess anda bisa terkena flu!" Serunya lantang.

Brigitta memilih acuh dan tetap berjalan hingga akhirnya memasuki manor dan menaiki tangga menuju kamarnya. Semua pelayan yang melihat hal tersebut tentu saja bertanya-tanya seperti, "apa yang sudah terjadi selama Duchess mengikuti Pesta teh Marchioness Loreanne?"

Ketika akhirnya Judy tiba di dalam Manor dengan keadaan basah kuyup juga, salah satu pelayan segera menghampiri dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu di pesta teh?" Lalu pelayan lain menyahut dengan tampang khawatir, "Apakah Duchess mendapatkan hinaan atau semacamnya?" Sang Butler pun turut menyahut, "Katakan apa yang terjadi?"

Judy menarik nafas, lalu menjawab singkat, "Lebih baik siapkan air hangat untuk Duchess mandi."

"Ah! kau benar." Sahut salah satu pelayan dan segera mengajak rekannya pergi.

Melihat para pelayan telah pergi, Butler kembali bersuara. "Sekarang katakan apa yang kau tahu," pintanya.

Judy menggeleng, "Aku tidak tahu. Beliau menjadi seperti itu setelah keluar dari Kuil."

"Kuil?" Sahut Butler bingung, "Bukankah tujuan awal Duchess ke Manor Hersbury, kenapa berubah?" Lanjutnya.

Judy mencoba menjelaskan meskipun Ia sendiri juga bingung apa yang sebenarnya terjadi di dalam Kuil tadi. "Tujuan awal kami memang ke Manor Hersbury, tetapi di pertengahan jalan Duchess penasaran dengan sebuah Kuil karena sepertinya beliau belum pernah melihatnya. Lalu kami memutuskan untuk mampir. Hanya Duchess yang masuk kedalam, aku dan kusir menunggu di luar."

Butler diam menyimak, lalu judy melanjutkan ucapannya. "Beliau berada di dalam cukup lama bahkan waktu pestanya sudah di mulai beliau belum juga keluar dan aku tidak berani masuk karena Duchess meminta kami untuk menunggu. Tak lama langit mulai mendung, aku berniat untuk menyusul tetapi belum sempat, Duchess sudah keluar dengan raut sedih."

Dahi sang Butler mengernyit, heran. "Sedih?" Tanyanya yang di balas anggukan oleh Judy, "Awalnya aku mengira tetesan air hujan mengenai wajahnya tapi aku salah."

Judy menjeda ucapannya dan Butler menunggu dengan sabar. Tak lama ia kembali membuka suara sembari menatap sang Butler sendu, " Aku tak tahu kenapa, tetapi di dalam kereta kuda Duchess menangis dalam diam, dan itu terasa begitu pilu."

Butler diam termangu, Ia sedikit tak menyangka. Ia selalu mengira jika Duchess merupakan orang yang dingin layaknya balok es. Bukan tanpa alasan Ia berpikir begitu, karena Ia sempat mendengar rumor dari para Ksatria bahwa Duchess tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika melihat jasad tak terbentuk pelayannya. Bahkan beliau menolak kasih sayang dari Tuannya secara terang-terangan. Jadi siapa yang akan menyangka jika beliau bisa menangis, itupun karena sebuah Kuil.

"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana?" Batinnya bertanya. Sepertinya Ia perlu melaporkan hal tersebut kepada Duke saat beliau pulang.

Butler menghela nafas, dan teringat jika Judy masih dalam keadaan basah. "Baiklah terima kasih, kau boleh istirahat. Urusan Duchess akan di layani pelayan lain," perintahnya yang langsung di balas anggukan oleh Judy.

Di sisi lain, Brigitta telah sampai di kamarnya. Deru nafasnya terdengar terengah-engah, dalam dirinya terasa panas namun tubuhnya menggigil kedinginan di sebabkan oleh gaun yang Ia kenakan telah basah. Lalu matanya tak sengaja menangkap sosok dirinya melalui pantulan cermin, satu kata yang terlintas di benaknya, 'menyedihkan', sangat pas untuk menggambarkan kondisinya saat ini yang berantakan.

Antagonist Pride! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang