Dengan gerakan halus, Brigitta mengalungkan tangannya di leher Neil. Tentu hal tersebut mengejutkan Neil, karena tidak mungkin Brigitta bersikap seperti ini.
"Apa yang— "
"Diam, aku mendengar percakapan yang menarik di sisi kanan, " bisik Brigitta.
Dan benar saja, ketika Neil mencoba menajamkan pendengarannya.
" ... Sampai sekarang Aku masih mencurigai Faksi Pangeran Marius. Bukankah mereka yang paling gencar ingin menggulingkan Pangeran Vlad. "
"Benar, bahkan gerakan yang paling mencurigakan adalah di tangkapnya para anggota Faksi Pangeran Mahkota terdahulu. "
"Belum lagi, masalah tentang turunnya Baginda Raja dari Tahtanya. "
Masih dalam posisi yang cukup intim, Neil masih sempat-sempatnya mengambil keuntungan akan kedekatan mereka, Ia membalas dengan melingkarkan tangannya di pinggang dan menarik tubuh Brigitta lebih dekat.
Brigitta menatap Neil nyalang. " Jangan macam-macam," bisik Brigitta lirih.
Neil merendahkan kepalanya, lalu berbisik di telinga Brigitta. " Diam, jika kau tidak ingin kehadiran kita di ketahui, " balasnya lirih.
Brigitta melemparkan tatapan sinis, lalu mendengus dan kembali fokus mendengarkan pembicaraan di balkon sebelah.
" ... Tapi kematian Raja memang sudah lama di rencanakan oleh mendiang Pangeran Vlad. Siapa sangka jika Pangeran Vlad meninggal lebih dulu dan Baginda Raja di asingkan di Istana khusus. "
"Benar, aku bahkan pernah mendengar jika Baginda Raja mengetahui rencana Putranya itu. "
Huh! Seluruh keluarga tidak ada yang waras. Batin Brigitta tak habis pikir dengan fakta yang barusan Ia dengar.
Jadi selama ini bukan hanya Pangeran ke-2 dan ke-4 yang ingin melakukan kudeta demi melengserkan posisi Raja, karena ternyata mantan tunangannya itu sudah lebih dulu merencanakan hal tersebut.
" Bukankah ini aneh, kenapa selama ini tidak ada kebocoran Informasi. Bahkan setiap kali ingin di selidiki, semua bukti akan tertuju pada semua anggota Kerajaan dan akan terus berpindah-pindah dengan pola acak. "
" Ah, jadi mereka semua saling menyerang dan mendapat tuduhan dari orang yang sama, " ucap Brigitta tanpa sadar.
Neil menatap Brigitta. " Menurut mu begitu? "
Brigitta membalas tatapan Neil. " Lebih tepatnya, mereka semua sedang di permainkan oleh 1 orang. "
" Siapa orang itu? " tanya Neil. Bukannya Ia tidak mengerti, tapi Ia hanya ingin mendengar pendapat Brigitta karena nyatanya istrinya ini memiliki otak yang cukup cerdas. Bahkan memahami arah pembicaraan tadi.
Brigitta mengalihkan wajahnya dan menurunkan tangannya. " Entahlah, mungkin orang terdekat. "
Jujur saja, Brigitta benar-benar tidak mendapatkan petunjuk yang mengarah pada seseorang. Karena percakapan di sebelah sangat acak. Bahkan ketika Ia mencoba untuk membayangkan, bentuk bayangan tersebut tampak buram.
Brigitta meletakkan tangannya di dagu, sedang memikirkan kemungkinan yang mengarah pada sesorang yang Ia kenali.
Meskipun Ia bekerja sama dengan Pangeran Mahkota saat ini, yaitu Pangeran Marius. Yah, lebih tepatnya Guildnya yang bekerjasama dengan Pangeran Marius. Tetapi di kontrak kerjasama mereka tidak ada informasi lebih rinci yang mengarah pada masalah internal keluarga Kerajaan.
Brigitta sendiri saat menerima permintaan Pangeran Marius tidak terlalu jauh menggali satu-persatu masa lalu para pangeran dan Raja Lennon, karena saat itu Ia berfokus pada kelemahan mereka.
Ia akui sekarang, jika dirinya ini kurang teliti dan bergerak secara impulsif karena ingin segera menyelesaikan masalah ini, sampai melupakan titik terang masalah Brigitta. Ia terlalu menyibukkan diri menyelesaikan semua masalah yang datang kepadanya dan mengadu domba Faksi Bangsawan.
Terlalu di butakan oleh rasa tidak terima dan kuasa yang Ia miliki.
Brigitta menghela nafas, baik otak dan tubuhnya kini mulai lelah. Sedari pagi Ia sudah sibuk dengan Pekerjaannya sebagai Ketua Guild, lalu menghadiri kontes perburuan dan meladeni sifat menyebalkan Neil yang seperti anak kecil. Ia ingin pulang.
Brigitta menyentuh dada bidang Neil, mendorong pelan untuk menciptakan jarak di antara mereka. "Kepala ku terasa pusing, sebaiknya kita kembali. "
Mendengar itu, Neil bergerak spontan menanggup pipi Brigitta dengan raut wajah yang menggambarkan kekhawatiran. "Apa kau sakit? "
Brigitta menatap lurus wajah Neil, mengamati ekspresi yang sampai sekarang belum bisa membuatnya terbiasa. Ia hanya merasa aneh, hingga menyimpulkan perasaan Neil untuknya yang Ia anggap sedikit menyedihkan. "Tidak Aku hanya merasa lelah. "
"Baiklah, kita pulang, " ucap Neil, ia tidak ingin menahan Istrinya terlalu lama di sini. Lagi pula mereka sudah tidak memiliki kepentingan pada kelanjutan acara.
Neil mengadahkan tangan kanannya tepat di depan Brigitta. "Aku akan menuntun mu. "
"Jangan berlebihan, "
Dahi Neil mengerut. "I-ini tidak, Aku bahkan hampir menggendong mu agar diri mu tidak semakin merasa lelah. "
Brigitta menggeleng pelan, tak habis pikir dengan pola pikir Neil. Tetapi Ia tetap berterima kasih atas kebaikan Neil dan menerima tawarannya. "Baiklah, aku menerima tawaran yang satu ini, " ucapnya sembari meteletakkan tangannya di atas tangan Neil.
Lantas Neil menggenggam tangan Brigitta dengan tangan kiri yang melingkari pinggang untuk berjaga-jaga jika saja tubuh Brigitta tiba-tiba goyah. Tak lama Ia mulai memimpin jalan.
To Be Continued.
Haloo Friendss, gimana chapter kali ini?
Bingung dengan alurnya? Apalagi saya yang buat juga ikut bingung.
—Oh iya, kmrin sya baca ad yg komen klo crita ini gk jelas dan berantakan. Lah emng iya.
Saya akui ini kurng persiapan dan penataan. Tpi emng pd dsrnya sy bkin crita ini sbagai plarian doang di kala rasa jenuh dtng. sya aj kget tb" pmbacany banyak, tp bersyukur bgt.
Kritik boleh, tp brkata kasar di larang ya. Krna jtuhnya kyk menghina.
Jangan lupa Vote, Follow dan Komennya‼️
IG: ezzart._.19
10Mei24
Ezz 🖤
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonist Pride!
FantasiaBagaimana jika Lenuta, gadis cantik yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya dan mencintai kebersihan harus memasuki tubuh Brigitta Angelika de Alberorn, seorang gadis bangsawan dari keluarga Duke yang terhormat. Masalahnya.. Brigitta adalah pem...
