36. Pengakuan?🖤

5.4K 345 31
                                        

Semenjak kepulangan mereka dari acara berburu 4 hari yang lalu, Brigitta telah menerima banyak surat undangan pesta Teh dan Salon dari para Lady. Kebanyakan dari Lady yang memiliki pangkat lebih rendah darinya. Tentu Ia tidak mempersalahkan hal tersebut.

Sekali baca, Ia sudah tahu tujuan dari undangan tersebut. Singkatnya mereka ingin menjalin hubungan dengan Brigitta agar mendapat koneksi untuk bisa masuk kepergaulan atas.

Semua ini karena Brigitta telah mendapatkan Mahkota berharga yang bisa di gunakan sebagai akses VVIP untuk mengikuti dan menggelar pesta pergaulan atas tanpa perlu mendapatkan surat undangan ataupun surat rekomendasi.

Belum lagi terdapat berita baru jika Brigitta terlihat sedang dekat dengan Duchess Vanessa, yang merupakan seorang Lady yang terkenal dalam memimpin pesta pergaulan sosial dan memiliki banyak jaringan dengan Bangsawan berpangkat tinggi.

Tentu hal tersebut yang mendasari kedatangan surat-surat undangan tersebut.

Lalu, apakah Brigitta ingin datang ke-salah satu undangan tersebut?

Sangat!

Brigitta sangat ingin datang memenuhi undangan tersebut untuk mendapatkan koneksi juga. Namun, Neil melarangnya untuk keluar dari kediaman. Bahkan menghalanginya secara langsung ketika ingin keluar hanya untuk membeli beberapa potong Kue.

Sikap posesif Neil mulai meningkat, karena Brigitta akhir-akhir ini sering terlihat kelelahan tepat di hadapannya. Bahkan Ia juga membatasi pekerjaan Brigitta sebagai Duchess agar Istrinya itu dapat beristirahat lebih banyak.

Berbeda dengan Brigitta, Ia merasa Neil terlalu berlebihan. Ia paham atas kekhawatiran Neil setelah mengetahui dirinya di culik ataupun saat Ia tidak sengaja mimisan dan batuk darah di hadapan Neil. Tetapi membatasi pergerakannya juga sudah keterlaluan meskipun untuk kebaikkannya.

Saking kesalnya, Brigitta pernah hampir keluar dari kediaman tanpa izin Neil. Tetapi tidak ada satupun pekerja di Mansion yang menuruti perintahnya, karena pada dasarnya mereka lebih menuruti perintah Neil sebagai pemimpin Leusarpe.

Hal tersebut tampak seperti tidak menghargai Brigitta sebagai Duchess, tetapi mereka lebih takut dengan hukuman yang telah di terapkan oleh Neil jika mereka berani membantu Brigitta keluar.

Kesal?

Tentu Brigitta kesal atas kenyataan tersebut, karena Neil benar-benar mengekangkanya dengan mengurung dirinya di dalam Kediaman Leusarpe.

Dan di sinilah Brigitta, berada di dalam ruangan kerja milik Neil. Ia ingin mengajukan protes karena Neil sudah cukup lama mengurungnya.

Jika saja mananya sudah stabil, mungkin Brigitta bisa melarikan diri dengan meninggalkan Spirit sebagai penggantinya dan Ia bisa bergerak bebas menyelesaikan tugasnya sebagai Guild Master.

Namun, apadaya saat ini Ia sedang benar-benar berada di posisi tak berdaya. Tetapi keputusannya untuk mendatangi ruangan Neil ternyata adalah kesalahan besar di saat fisiknya sedang lemah.

Karena saat ini— Brigitta berakhir terduduk di atas pangkuan Neil, dengan pinggangnya yang di peluk erat oleh kedua lengan kekar. Seakan tak mengizinkannya untuk kabur.

Tunggu jangan salah paham.

Semua bermula saat Brigitta memasuki ruangan Neil tanpa permisi, lalu berdiri di hadapan pemilik ruangan dengan meja kerja sebagai penghalang di antara mereka.

Brigitta berdiri sembari berkacak pinggang, menatap Neil sengit. "Biarkan Aku keluar, " ucapnya dengan suara sedikit teredam karena menahan amarah.

Tangan Neil yang sedang menulis di atas kertas kini terhenti, lalu melepaskan kacamata yang bertengger apik di atas hidungnya dan memberikan seluruh atensinya untuk Brigitta.

Antagonist Pride! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang