21. Melukis Masa Depan

6.6K 581 31
                                        

Jam baru menunjukkan pukul delapan ketika Renjun sayup-sayup mendengar suara kesibukan dari dapurnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jam baru menunjukkan pukul delapan ketika Renjun sayup-sayup mendengar suara kesibukan dari dapurnya. Dahinya mengernyit sejenak sebelum menyadari jika sejak semalam ada orang lain yang tinggal di apartemennya. Tapi dia tidak mengira bahwa Jeno akan berkutat di dapur. Mungkin lelaki itu sedang membuat kopi?

Setelah memastikan jika penampilannya sudah rapi, Renjun lantas keluar dari kamar. Benar saja, hal pertama yang ia lihat begitu memasuki area dapur tak lain dan tak bukan adalah Jeno. Lelaki itu tengah memunggunginya dengan sebuah apron berwarna kuning yang tampak kekecilan di badannya yang besar.

"Kau bisa memasak Jen?" Tegur Renjun yang langsung membuat kepala Jeno menoleh. Senyuman bulan sabitnya merekah mengalahkan cahaya mentari yang menyusup melalui jendela.

"Morning sayang," Jeno kembali sibuk memotong daun bawang. "Aku buatkan nasi goreng untuk sarapan. Tidak tahu apakah rasanya akan cocok dengan seleramu."

Renjun menghampiri Jeno dan memperhatikan bagaimana rupa nasi goreng yang belum matang. "Aromanya lezat. Semoga rasanya tidak mengecewakan." Komentarnya meniru Jaemin yang kerap mengomentari masakan buatannya.

Kekehan ringan diberikan Jeno. Ketika matanya beralih menatap Renjun, tiba-tiba waktu terhenti. Bagaimana bisa wajah istrinya terlihat begitu cantik? Bahkan pipinya yang sedikit merona itu tampak menggemaskan. Ini masih terlalu pagi namun pesona Nakamoto Renjun sudah membuat hatinya bersorak gembira.

"Kenapa?" Tanya Renjun salah tingkah ditatap seintens itu. Tangannya terangkat untuk memegang wajah, takut ada sesuatu yang aneh.

"Kau cantik," pujian si tampan membuat si cantik mengulum senyum. Lihatlah rona kemerahan itu semakin jelas mewarnai pipinya. Karena takut Jeno dapat mendengar degup jantungnya, Renjun memilih untuk duduk di meja makan.

Beberapa saat kemudian, Jeno selesai dengan masakannya. Ia meletakkan sepiring nasi goreng buatannya ke hadapan Renjun. "Semoga suka," ucapnya lalu ikut menduduki kursi di sisi lain.

"Terima kasih, biasanya aku hanya membuat sandwich untuk sarapan. Karenamu pagi ini perutku akan terasa penuh." Renjun menyuapkan sesendok nasi goreng. Rasanya cukup enak, tidak selezat masakan Jaemin tapi masih bisa dinikmati. "Lumayan, tidak buruk kok."

"Syukurlah kalau kau suka. Aku sudah lama tidak memasak," Jeno juga menikmati nasi goreng itu untuk mengisi perutnya. "Hari ini kegiatanmu apa saja?"

"Seperti biasa, aku akan ke galeri dan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ada beberapa pakaian yang harus ku periksa dan harusnya sih sudah beres hari ini."

"Artinya kau akan pulang larut malam?"

"Belum tahu, tapi sepertinya begitu." Renjun mengedikkan bahu. "Memangnya kenapa?"

"Tidak, hanya ingin tahu saja. Jangan sampai terlambat makan. Aku tidak mau kau sakit," pesan Jeno yang sudah mirip seorang ibu pada anaknya.

Sekali lagi Renjun harus berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia merutuki diri sendiri yang terlalu lemah. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Jisung? Dia baik-baik saja kan?"

BE MY HOME | Noren Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang