"Kau tidak ingat padaku? Aku suamimu, sekaligus ayah dari anak kita."
Dunia Nakamoto Renjun, yang awalnya sempurna tiba-tiba berubah 180 derajat ketika seorang pria membuat pengakuan mengejutkan.
Dan Renjun tidak pernah menyangka jika kepulangannya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Udah agak gila ngestan nct, ada aja kejadiannya hari ini 😭 semoga kalian masih sehat akalnya. Nih aku kasih update, janlup vote sama komentarnya biar aku seneng dikit 😭😭😭
•••
"Papa, minggu depan ada acara di sekolah. Papa bisa datang tidak?" Tanya Jisung setelah Jeno menghentikan mobil di halaman sekolahnya.
Jeno terdiam sejenak sebelum akhirnya mengusap puncak kepala sang anak. Belakangan ini pekerjaannya sedang sangat padat dan sedikit kacau. Ia tidak ingin memberikan janji yang tidak dapat ditepati. "Kalau yang datang Winter aunty saja bagaimana?"
Meskipun Jeno mengatakannya dengan nada setenang mungkin, Jisung tetap membalasnya dengan wajah jutek. Setelah ini Jisung pasti akan memusuhinya sampai ia melakukan sesuatu untuk meredakan kemarahannya. "Tapi kan Winter aunty bukan orang tua Jiji. Semua teman-teman Jiji datang sama mama papanya tapi kenapa hanya Jiji yang tidak? Jangan bilang kalau Jiji ini anak adopsi."
"Ssstt, kenapa Jiji bilang begitu? Jiji kan anak kandung papa. Papa yang merawat Jiji sejak masih bayi," Jeno berusaha memberikan pengertian untuk anaknya. Dirinya pun terkejut karena Jisung mengatakan hal seperti itu.
"Kalau Jiji anak kandung Papa, harusnya Papa lebih mementingkan Jiji. Papa juga sudah tidak pernah mengajak Jiji pergi bermain. Papa sibuk sekali huft!" Jisung mencebikkan mulutnya sambil bersedekap dada dengan gaya yang berlebihan.
"Jagoannya Papa jangan ngambek dong. Papa minta maaf karena akhir-akhir ini sangat sibuk sampai melupakan Jiji. Papa janji, akhir bulan nanti Papa akan ajak Jiji berlibur. Bagaimana? Hanya Jiji dan Papa, kita berdua."
Jisung tampak berpikir serius sebelum menatap Papanya. "Jiji mau memaafkan Papa asalkan Papa mau mengabulkan permintaan Jiji."
"Apa itu?"
"Jiji mau berlibur dengan Papa dan Mama."
Jeno menautkan kedua alisnya bingung. "Jiji, Papa kan sudah bilang kalau sebaiknya Jiji jangan mengharapkan Mama. Mama belum pulang sayang dan kita tidak tahu kapan Mama akan kembali." Sejujurnya Jeno tidak tega untuk mengatakan hal ini. Terlebih di saat ia baru saja menemukan Renjun tempo hari. Tapi dengan sikap Renjun yang justru berpura-pura tak mengenalinya, ada ketakutan tersendiri untuk mempertemukan Renjun dengan Jisung.
"Jiji sudah bertemu dengan Mama. Mama Jiji cantik dan pintar menggambar, sama seperti Papa. Mama bilang mau mengajari Jiji menggambar."
Omongan Jisung terdengar seperti bualan namun Jeno menangkap sesuatu yang aneh. Sejak kapan Jisung tahu kalau Mamanya pintar menggambar? Tapi tidak mungkin Renjun bertemu dengan Jisung karena lelaki itu pergi saat bayinya masih berumur dua bulan. "Jiji jangan bohong. Memangnya Jiji bertemu Mama dimana?"
"Jiji tidak bohong Pa. Jiji bertemu Mama di taman."
Jeno menarik kesimpulan bahwa Jisung sembarangan menganggap seseorang sebagai Mamanya. Ia menjadi kasihan pada anaknya sendiri yang terlanjur mempunyai fantasi indah soal sosok ibu yang tak pernah dikenalnya. "Sayang, dengarkan Papa. Jiji tidak tahu bagaimana wajah Mama karena Papa belum mengenalkannya pada Jiji. Jadi Jiji tidak boleh seperti itu lagi ya, Jiji harus sabar menunggu sampai Mama pulang."