35. Seandainya Bisa Terulang

6.2K 563 59
                                        

"Kita kembali ke Korea

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Kita kembali ke Korea. Aku merindukan anakku."

Setelah kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang oleh dokter, Renjun mengatakan pada Jeno bahwa ia ingin pergi ke Korea. Renjun sendiri masih bersikap dingin pada suaminya. Ia belum bisa memaafkan perbuatan Jeno tujuh tahun yang lalu.

Bahkan sepanjang penerbangan di dalam pesawat pun, Renjun enggan memulai pembicaraan dengan Jeno. Ia lebih memilih untuk melamun memandangi pemandangan awan di luar jendela yang monoton. Padahal sejak tadi suaminya terus memperhatikannya sambil sesekali menghela napas.

"Ren, setidaknya bicaralah padaku. Ungkapkan saja semua kemarahanmu, jangan mendiamiku seperti ini." Jeno berusaha membujuk.

Sekian detik berlalu hingga Renjun akhirnya mau mengeluarkan suara. "Kenapa kau tega melakukannya padaku?" Renjun menatap Jeno dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Apa salahku sampai kau tega menyiksaku sejahat itu?"

"Karena aku merasa gagal dan tidak berguna. Rasanya aku tidak pernah berhasil membuatmu bahagia. Semua itu membuatku sangat tertekan hingga emosiku menumpuk dan membuatku bersikap kasar."

"Dan kau tidak pernah memberitahuku soal itu kan? Kalau aku tidak bertanya pada ibumu, aku tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya kau alami, Jeno."

Pandangan Jeno turun ke bawah, tak sanggup melihat wajah Renjun. "Aku terlalu takut kehilanganmu. Aku memang egois menginginkanmu, padahal aku belum berdamai dengan diriku sendiri."

Renjun mengalihkan pandangannya seraya meneteskan air mata. Sejujurnya, ia tidak tega jika harus menghakimi Jeno. Walau bagaimana pun, sifat kasar Jeno dipengaruhi oleh kondisi mentalnya yang kurang stabil.

"Sejujurnya yang membuat perasaanku begitu terluka adalah, aku sedang mengandung Jisung saat itu. Kalau saja tidak ada Jisung, mungkin aku bisa memaafkanmu dengan mudah. Aku tidak bisa melihat Jisung sakit. Dan malam itu sebelum kita berpisah, aku masih ingat dengan jelas bagaimana Jisung terserang demam tinggi dan menangis. Kau tidak tahu betapa takutnya aku saat itu."

Hati Jeno teriris melihat wajah cantik itu dipenuhi dengan air mata. Perlahan, lengan kekarnya menarik tubuh Renjun untuk ia dekap. Jeno membiarkan Renjun menumpahkan segala kesedihannya. Mereka berdua bagai dua orang yang sama-sama terluka, namun saling menguatkan.

"Aku tahu seribu maaf pun tidak akan mengubah apapun yang pernah terjadi. Tapi Ren, aku sangat menyesali semua kesalahanku di masa lalu. Seandainya bisa, aku ingin memperbaikinya dari awal. Agar tidak ada kenangan buruk yang membebani hatimu."

Renjun menatap dalam ke sepasang netra segelap malam. Berusaha menyelami dan mencari setitik kebohongan meski tidak ia temukan. "Bagaimana kalau sifat pemarahmu kambuh lagi? Aku masih takut kau tidak bisa mengendalikan diri dan malah melampiaskannya padaku atau Jisung. Yang terpenting bagiku adalah Jisung. Kau boleh menyakitiku tapi tidak dengan Jisung."

Jeno tertegun mendengar pengakuan Renjun. Rupanya rasa sakit yang pernah diterima Renjun tidak akan pernah hilang. "Kau tidak percaya padaku?"

"Aku hanya ingin melindungi Jiji..."

BE MY HOME | Noren Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang