40. Duka dan Luka

6.7K 583 63
                                        

Dulu, Jeno sangat membenci tugas yang mengharuskannya menulis essai tentang sosok 'ayah'

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dulu, Jeno sangat membenci tugas yang mengharuskannya menulis essai tentang sosok 'ayah'. Ia tidak pernah benar-benar mengenal papinya. Sejak lahir sampai berusia tiga tahun, Jeno tidak merasakan ikatan batin dengan papinya. Gambaran papi di benaknya adalah seorang yang tegas, keras, dan ambisius. Tidak ada sisi lembut sedikit pun yang Jeno temukan. Itu juga yang membuat Jeno secara tidak sadar menjaga jarak, ia terlalu takut untuk membuat kesalahan dan berakhir dimarahi.

Lalu ketika maminya meninggal, Jeno merasa dunianya hancur. Ia yang belum tahu apa-apa ditinggalkan sendirian di dunia ini. Walaupun masih punya satu orang tua, tapi nyatanya Jeno tak merasakan bahwa papinya ada. Sosok papi tak lebih dari orang dewasa yang hanya berkewajiban untuk memberinya nafkah.

"Tetaplah hidup meskipun dunia begitu kejam padamu. Jangan pernah menyerah untuk mengejar apa yang membuatmu bahagia, Jeno."

Masih rapi tersimpan di dalam ingatan, kata-kata Jaehyun yang terucap di hadapan pusara istrinya. Jeno yang saat itu menangis tersedu, untuk pertama kalinya mendengar kalimat paling menenangkan yang pernah dikatakan oleh papinya sendiri.

Untuk pertama kalinya juga Jeno menatap lama wajah sendu papinya. Pria itu tidak menitikkan setetes pun air mata, namun rasa kehilangan terlihat jelas di parasnya. Kemudian, Jaehyun menarik tubuh kecil putranya ke dalam dekapan hangat.

"Maaf kalau papi tidak pernah menghujanimu dengan cinta dan kasih. Tapi percayalah, papi sangat menyayangimu Jeno. Lebih dari siapa pun."

Dan ucapan itu, akhirnya dibuktikan dengan bagaimana Jaehyun menyelamatkan Jeno dari bunker yang runtuh. Mereka berlari setelah Jaehyun berhasil melepaskan diri dari Guanlin. Namun naasnya sebelum sampai ke pintu yang berada di ujung lorong panjang, bom di tubuh Guanlin meledak. Jeno yang dilanda kepanikan sudah mengira jika hidupnya akan berakhir detik itu juga. Tapi siapa sangka, Jaehyun dari arah belakang mendorongnya begitu kuat. Sehingga dirinya terhindar dari reruntuhan parah.

Sayangnya, Jaehyun gagal menyelamatkan dirinya sendiri dan berakhir terkubur oleh bongkahan batu.

Kesadaran Jeno nyaris lenyap ketika ia dibawa ke rumah sakit. Napasnya pendek dan tersenggal. Nyawanya berada di ambang batas antara hidup dan mati.

Namun, samar-samar Jeno mendengar suara Jaehyun. Pandangannya buram sehingga ia hanya mampu menangkap siluet papinya di bawah cahaya lampu rumah sakit. Jeno jelas merasakan kehadiran Jaehyun di antara orang-orang yang mendorong brankar menuju ruang ICU.

"Bertahanlah Jeno. Kau harus tetap hidup. Kau punya Renjun dan Jisung yang menunggumu pulang."

"Pi..." lirih Jeno yang bahkan tak didengar oleh siapa pun. Tangannya yang terluka terangkat ke udara, berusaha meraih sesuatu yang semu.

"Iya, papi ada disini. Papi tidak akan meninggalkanmu. Jangan takut."

Air mata luruh dalam sekejap. Dadanya terasa sesak juga nyeri. Jeno ingin memeluk papinya sebagai seorang anak kecil berusia tiga tahun. Ia ingin, sekali lagi merasakan hangatnya dekapan yang ia dapat saat maminya meninggal.

BE MY HOME | Noren Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang