14. Anak yang Terluka

8.7K 761 53
                                        

RENJUN POVPerilaku brutal Jeno benar-benar mengejutkanku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

RENJUN POV
Perilaku brutal Jeno benar-benar mengejutkanku. Bayangkan saja, bagaimana dia nyaris menghilangkan nyawa seseorang di depan mataku. Memang tujuan dia adalah melindungiku dari si bajingan yang menggodaku. Tapi apakah wajar jika Jeno memukulinya sampai tulang rahang lelaki itu retak?

Sebelum kondisinya memburuk, lelaki itu dibawa ke rumah sakit. Situasi di festival yang sempat ricuh akhirnya kembali kondusif. Sementara itu, aku dan Jeno terpaksa menyanggupi saat polisi meminta kami untuk diperiksa di kantor kepolisian terdekat.

Jisung tak berhenti menangis. Tampaknya anak itu juga ketakutan karena ia tidak mau melepaskan diri dariku. Wajahnya terus disembunyikan, Jisung bahkan enggan menatap papanya sendiri. Butuh usaha yang tidak mudah untuk menenangkannya sampai anakku bisa tertidur lelap.

"Kau tidak akan pergi kan?"

Kalimat bernada memohon itu terus menerus terucap dari bibir kering Jung Jeno. Raut wajahnya terlihat begitu putus asa. Namun saat polisi menginterogasinya, sikap tubuhnya justru jauh lebih tenang. Seakan-akan Jeno tidak takut pada hukum, dia lebih takut kalau aku pergi meninggalkannya.

Banyak sekali tanda tanya yang berkecamuk di pikiranku. Menurutku, ada yang aneh dengan sikap Jeno. Aku ingin sekali bertanya tapi ku urungkan niatku karena Jeno mendadak mendiamiku sepanjang perjalanan pulang ke apartemennya. Pria itu hanya memandang jalanan di luar jendela mobil taksi dengan tatapan kosong.

Sesampainya di apartemen, aku langsung pergi ke kamar Jisung untuk menidurkannya dengan nyaman. Malam ini ku putuskan untuk menginap lagi. Aku tidak mau pergi meninggalkan mereka berdua dalam keadaan yang belum sepenuhnya membaik. Persetan jika besok papi akan kembali memarahiku. Aku lebih takut membiarkan Jisung tinggal berdua dengan Jeno kalau boleh jujur.

Tengah malam sudah berlalu. Aku harap Jisung tidak terbangun sampai esok pagi. Anakku yang malang, apa saja yang pernah kau lalui bersama papamu?

Aku melangkah keluar dari kamar Jisung setelah memastikan anakku benar-benar terlelap. Ketika hendak pergi ke dapur untuk mengambil minum, aku menemukan siluet seseorang di ruang tengah.

"Sedang apa?" Tanyaku dengan nada pelan.

Jeno mengangkat wajahnya untuk melihatku. Senyum bulan sabitnya tampak sama redupnya dengan cahaya lampu di sekitar kami. Sedetik setelahnya ia tarik tanganku untuk duduk dekat di sisinya.

Ketika tidak ada celah di antara kami, aku baru menyadari jika buku-buku jarinya terluka. Ada goresan lecet yang darahnya sudah mengering. Refleks, aku memegang tangan besar itu sambil melempar tatapan penuh tanya. Tapi lagi-lagi yang kudapatkan hanyalah sebuah senyuman tipis.

"Ja-ngan pergi." Jeno balas menggenggam erat tanganku dengan tangannya yang terluka itu. Suaranya terdengar sangat lirih dan sedikit bergetar.

"Kenapa kau berpikir aku akan meninggalkanmu?"

BE MY HOME | Noren Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang