32. Sebelum Kau Pergi (4)

4.4K 473 55
                                        

RENJUN POVAku berlarian menembus hujan lebat yang belum menunjukkan tanda-tanda akan reda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

RENJUN POV
Aku berlarian menembus hujan lebat yang belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Tanganku menggenggam gagang payung yang tidak melindungiku dengan sempurna. Sebagiah tubuhku basah akibat air hujan. Baju yang basah dan udara sekitar yang dingin berhasil membuatku sedikit menggigil.

Pikiranku saat ini dipenuhi dengan anakku, Jisung. Bayi kecilku yang malang sedang kesakitan. Hatiku hancur melihatnya menangis sekencang itu. Andai punya kekuatan, aku ingin memindahkan seluruh rasa sakitnya ke tubuhku. Jisung tidak boleh sakit, anakku tidak boleh terluka.

Langkahku semakin cepat menuju ke sebuah apotek yang terletak di ujung jalan. Beruntung, bangunan itu masih diterangi dengan cahaya lampu. Terlebih dahulu aku meletakkan payung yang basah pada tempatnya dan membuka pintu apotek. Seorang apoteker wanita langsung menyambutku dengan senyuman ramah.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?"

"Ehm... ya. Anakku, anakku sedang demam. Badannya panas sekali dan dia masih bayi berumur dua bulan." Aku menyadari suaraku bergetar.

Apoteker itu tampak terkejut sekaligus cemas. Bahasa tubuh yang menambah kepanikanku. "Kenapa Anda tidak membawanya ke dokter saja?"

Lidahku terasa kelu dan jika aku berbicara, pasti perkataanku akan terbata. Aku merutuki kebodohanku sendiri. Benar, kenapa aku tidak membawa Jisung ke rumah sakit? Aku benar-benar panik sampai tidak bisa berpikir jernih.

"Ya sudah, untuk pertolongan sementara saya berikan sirup parasetamol. Tapi setelah itu Anda harus segera membawanya ke dokter."

Aku mengangguk lemah. Sekali lagi menyesali sikapku yang gegabah pergi ke apotek. Padahal usia Jisung masih sangat kecil. Apalagi anak itu terlahir prematur. Seharusnya aku bisa lebih bijak dalam menentukan langkah.

"Ini tuan. Saya doakan semoya bayi Anda cepat sembuh." Apoteker itu memberikan pesananku.

Aku segera mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar. "Terima kasih atas bantuannya."

"Anda kelihatan panik sekali. Tidak apa, menjadi orang tua baru memang tidak mudah. Jika Anda memerlukan bimbingan, kami bisa membantu," suara apoteker itu begitu lembut di pendengaranku. Seolah aku mendapatkan dukungan yang menimbulkan rasa haru.

Setelah mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya, aku pun membalikkan badan dan melangkah keluar. Baru membuka pintu, seorang pria bertubuh tinggi menahanku. Pria itu terlihat tampan meski usianya tidak lagi muda dan aku sama sekali tidak mengenalnya.

"Kau Nakamoto Renjun kan?" Tanyanya.

"Y-ya. Anda siapa? Kenapa bisa mengenal saya?"

Pria itu tersenyum. Sebuah senyuman yang memberikan rasa nyaman bagi lawan bicaranya. "Namaku Jung Jaehyun. Aku adalah ayah kandung suamimu, Jung Jeno."

Dahiku mengerut tebal. Tentu saja aku tidak mempercayai perkataan pria ini. "Apa maksud Anda? Saya mengenal orang tua Jeno dan ayahnya bukan Anda."

Pria yang memperkenalkan diri dengan nama Jaehyun itu lagi-lagi hanya tersenyum. Sekarang senyumannya terlihat menyebalkan. "Orang tua Jeno yang kau kenal adalah orang tua angkatnya. Moon Taeil dan Moon Doyoung, benar? Sejak kecil Jeno memang ku titipkan pada mereka. Maaf karena aku baru memperkenalkan diriku sekarang."

BE MY HOME | Noren Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang