Sepanjang ujian praktik, Genta amat kesal dengan kawan-kawannya. Mereka menertawainya bak topeng monyet yang melakukan atraksi lucu. Muka sebal menjadi teman sejati Genta sejak tadi. Tak usahlah Jeje berharap menjadi sahabat sehidup semati Genta bila ia saja suka membuatnya merasa malu.
"Genta ... senyum dong. Cis ...." Entah berapa banyak kamera ponsel yang menangkap gambar Genta sejak tadi. Kilatan lampu sorot juga menabraknya bagai lalat buah.
"Ta, senyum dong!" Lagi, Jeje. Ingin sekali Genta merebut ponsel yang ada di tangan laki-laki itu kemudian memukulkan benda tersebut ke kepala Jeje. Biarlah kesakitan, asalkan orang gila itu sadar.
"Lo diem anjing!" Mendengar Genta mengumpat, anggota Batavia yang melihat dia digoda pun tertawa puas. Namun, lain dengan mereka yang tak pernah tahu sikap asli Genta. Orang-orang itu menatapnya seperti baru saja melihat meteor yang jatuh ke Bumi tiap ribuan tahun sekali.
Sejak kemarin, Genta marah pada Jenardian karena laki-laki itu menjadikannya tumbal ujian praktik. Lihatlah apa yang terjadi sekarang, dia dan Thera menjadi tontonan publik. Belum lagi sorakan kata cie yang entah sudah berapa kali terdengar hingga telinga Genta serasa tuli.
"Cari pacar kek, nempel mulu sama gue." Tak tahu sudah berapa kali Jeje mengambil foto dan video Genta selama ujian praktik. Mungkin sepulang sekolah nanti, memori ponsel Jeje habis tak bersisa.
Untungnya kegiatan cepat selesai. Setidaknya Genta menghabiskan waktu selama 25 menit untuk melakukan praktik dan dua jam diejek oleh kawan-kawannya. Lihat saja, dia akan membalas dendam nanti.
"Siapa yang setuju Genta sama Thera nikah beneran?" Suara Arsena bergema di aula sekolah yang saat ini menjadi tempat diberlangsungkannya ujian praktik pernikahan adat.
"Saya." Hampir semua orang di ruangan menjawab dengan kata itu.
"Gue mau pulang. Gue udah nggak sanggup." Thera mencak-mencak di tempatnya. Sudah cukup ia menjadi bahan olok-olokan sejak tadi. Kini kegiatan ujian telah selesai, dia tak mau lagi menjadi korban ejekan anggota Batavia.
"Iya deh pengantin baru, yang maunya berduaan di rumah." Yovan makin gencar menggoda.
Thera berteriak malu. Dia menutupi wajahnya dengan tangan sehingga tak ada lagi orang yang bisa mengambil fotonya. Rasanya gadis itu sudah tidak kuat lagi. Thera pasti tak akan mampu datang ke sekolah sampai lulus jika sudah begini. Dia sungguh malu.
"Udah, jangan digangguin," kata Genta pada teman-temannya yang setia menggoda Thera. Jelas semua orang tahu apa yang terjadi selanjutnya, sorakan menggoda tanpa henti.
"Ini jelas fiks. Genta Thera bakalan jadi Jeje Melody part dua."
"Happy wedding, both of you. Semoga langgeng sampai maut memisahkan." Makin gila. Thera ingin menghilang.
...
Laki-laki berahang tegas itu menyipitkan mata kala melihat seorang gadis yang berdiri sendirian di pinggir jalan. Suasana sekolah sudah sepi, kebanyakan murid telah pulang pada jam seperti ini, tetapi mengapa gadis itu berdiri sendirian di pinggir jalanan? Apakah ia tak takut dengan pembegal payudara yang masih setia berkeliaran?
Sepeda motornya dijalankan mendekati sosok tersebut, Genta baru sadar bila gadis itu adalah Thera, makhluk yang sedang menjadi buah bibir bersama dengan dirinya. Kesialan macam apa ini?
Sebetulnya laki-laki itu agak enggan membuat kontak bersama Thera, ia takut ada seseorang yang melihat lalu mereka berdua kembali menjadi bahan ejekan satu sekolah. Namun, mau bagaimana lagi, Genta tak mau ambil resiko membiarkan gadis itu sendirian di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hundred Miles
Novela JuvenilHanya karena satu piringan hitam yang Melody inginkan untuk ulang tahun ayah, Jenardian dan kawan-kawan mewarnai kehidupan sma Melody dengan sangat meriah. Dia bercanda, tertawa, menangis, dan jatuh cinta bersama semua orang. Apalagi kasus begal pay...
