Yang Melody ingat dari sisa-sisa kenangan masa remaja adalah tawa riang, musik merdu mengalun di udara, langit sore yang berubah menjadi jingga, juga bunyi pantulan bola basket yang menggema di lapangan.
Lalu laki-laki bernama Jenardian itu menabuh genderang, membuat hidup Melody yang tadinya berwarna, kini menjadi pesta perayaan. Jeje selalu membawa hal menyenangkan di tiap-tiap detik kehidupannya.
Tiga tahun lalu, Genta pergi meninggalkan semua orang dengan kenangan menempel di kepala. Bagaimana laki-laki itu berkata, berjalan, juga tertawa, tak ada seorang pun yang lupa. Phantera Gerald menjadi bagian dari masa muda yang telah terlewat di belakang sana. Tidak ada seorang pun yang bisa mengulang masa lalu, tetapi kenangan mampu melakukannya.
Selepas kepergian Genta, semua orang perlahan berubah. Sikap kekanak-kanakan yang dahulu selalu melekat dalam diri, pelan-pelan luntur digantikan oleh sikap dewasa, seperti Jenardian contohnya.
Jeje yang mulanya tak bisa ikhlas akan kepergian sang sahabat, lambat laun mulai menerima meski tak jarang masih sering sedih dan teringat akan Genta. Laki-laki dengan nama belakang Djatmiko itu makin dewasa sekarang, terbukti dari sikap, cara bicara, dan cara berpikir yang menjadi lebih terbuka. Namun, bukan berarti sikap usil dan menjengkelkan itu sepenuhnya hilang. Dia masih Jeje yang sama, tetapi dengan cara berpikir yang lebih matang.
Sekitar empat bulan setelah Genta meninggal dunia, Melody, Jeje, dan kawan-kawan dinyatakan lulus SMA. Inilah pertanda bahwa mereka mulai memasuki kehidupan dewasa. Masing-masing individu mulai memikirkan apa yang diinginkan di masa mendatang. Jalan perkuliahan pun tak jarang menjadi pilihan oleh sebagian besar orang. Begitu pun Jeje dan Melody.
Laki-laki bernama lengkap Jenardian Wahyu Djatmiko, seperti apa katanya di gedung basket kala itu, dia mengambil Jurusan Ilmu Sejarah pada pendidikan perkuliahannya. Sosok yang pernah menjabat sebagai ketua Batavia itu telah menyelesaikan pendidikannya dalam kurun waktu tiga setengah tahun saja. Saat ini ia sedang menunggu prosesi wisuda yang akan dilakukan dua bulan lagi.
Melody terheran, mengapa Jeje bisa lulus dengan cepat? Padahal laki-laki itu tergabung dalam BEM fakultas yang bisa dibilang memiliki jadwal padat. Belum lagi ketika Jenardian tergabung dalam tim penelitian. Dia seakan tak punya rasa lelah, bahkan jika ada waktu luang, ia sering mampir ke bengkel ayah untuk membantu. Terkadang Jeje mendatangi Batamulia hanya sekadar nongkrong atau menekuni hobi otomotifnya.
Jenardian memiliki pekerjaan sejak berada di semester tiga bangku perkuliahan. Dia diberi amanah oleh ibun untuk mengurus bisnis percetakan buku dan koran milik keluarganya. Laki-laki itu juga diminta mengembangkan sekolah alam yang didirikan oleh sang ibu untuk anak-anak di pinggir jalan yang tak punya uang untuk sekolah. Jeje diharapkan dapat memberi inovasi dan motivasi agar anak-anak tidak bosan belajar. Meski bukan dia yang mengurus, tetapi pada akhir pekan Jeje akan mendatangi sekolah tersebut untuk menyapa para pengurus sekaligus murid yang sedang belajar.
Pada dasarnya, Jeje adalah orang yang mudah bergaul, dia memiliki banyak kenalan, mulai dari kating, teman berbeda fakultas, asisten dosen, bahkan dosen itu sendiri. Dikarenakan relasi tersebut, ia kerap kali mendapat ajakan untuk bergabung dalam kegiatan penelitian ketika liburan semester berlangsung. Dari penelitian tersebut, Jeje mendapatkan imbalan uang dengan jumlah yang cukup besar untuk ditabung atau sebagai tambahan uang saku.
Jika Melody hidup seperti Jeje, mungkin pada bulan pertama ia akan terkena penyakit tipes karena kurang istirahat.
Kamelia Melody sendiri berada di universitas yang sama seperti Jeje, hanya saja mereka berada di fakultas yang berbeda. Jika Jeje mengambil Jurusan Ilmu Sejarah, maka Melody mengambil Jurusan Teknik Pangan. Tidak ada maksud terselubung mengapa Melody memilih jurusan tersebut, dia hanya bingung akan meneruskan pendidikan apa di bangku perkuliahan. Ayah pun menyarankan pada Melody untuk mengambil Jurusan Teknik Pangan saja sebab dirasa sesuai pada passion sang putri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hundred Miles
Ficção AdolescenteHanya karena satu piringan hitam yang Melody inginkan untuk ulang tahun ayah, Jenardian dan kawan-kawan mewarnai kehidupan sma Melody dengan sangat meriah. Dia bercanda, tertawa, menangis, dan jatuh cinta bersama semua orang. Apalagi kasus begal pay...
