"Jeje ... Gerald sudah pulang." Siang itu Jeje ingat sekali apa yang papi Genta katakan dari sambungan telepon. Terdengar raungan samar dari balik sana, Jeje yakin sekali itu adalah tangisan mami Genta.
Sahabatnya, kawan sebangkunya, dia telah kembali kepada sang pencipta. Meninggalkan semua orang yang tersisa dengan kenangan tentang dirinya. Hati Jenardian terasa sesak sekali, seperti ditimpa batu bermassa ribuan ton. Tangis tertahan di tenggorokan, tak mampu dia keluarkan karena rasa sesak di dalam dada.
Bima yang duduk di depan Jeje pun bertanya siapakah sang penelepon? Sayangnya si ketua organisasi itu tak dapat menjawab dengan kata-kata, tetapi dari ekspresi yang dia tunjukkan, Bima tahu sekali apa isi berita tersebut.
Mata Jeje memerah seakan disirami darah. Rahangnya mengetat seperti menahan agar sesuatu tak keluar dari sana, sedangkan tangannya menggenggam kencang sesuatu yang tak ada. Jelas Bima paham sekali apa isi pikiran sang ketua.
Laki-laki berwajah mungil itu menepuk bahu Arsena, Juju, dan Yovan secara bersamaan. Kemudian membeberkan informasi dengan suara pelan sebab sang guru masih berada di depan sana untuk mengajar. Namun, akibat dari bisik-bisik tersebut, semua orang di kelas malah penasaran apa yang sedang terjadi, bahkan guru pengajar pun sampai ikut tertarik dengan apa yang mereka berempat bicarakan. Di sanalah Bima mengatakan pada seluruh kelas jika kawan mereka Phantera Gerald telah berpulang.
Kelas jadi ricuh, Jeje ingat sekali apa yang sedang terjadi kala itu. Suara tangisan siswa menggema ke seluruh kelas, tetapi yang paling keras adalah Ayudya. Ah iya, dia baru ingat jika Ayudya pun menaruh hati pada sahabatnya. Akan tetapi, hingga Genta menutup mata, Ayudya tak pernah mencurahkan perasaan yang dia rasakan. Jika Jeje ada di posisi gadis itu, dia pasti akan sangat patah hati karena ditinggalkan sahabat juga seseorang yang dicinta untuk selamanya.
Guru yang mengajar pun langsung menyebarkan informasi tersebut ke guru-guru lain, kelas dihentikan saat itu juga. Ide untuk melayat ke pemakaman Genta pun sudah diusulkan, tinggal meminta izin pada guru BK untuk meninggalkan sekolah lebih awal saja yang belum.
Meski perasaannya saat ini sedang campur aduk, Jeje memikirkan orang lain, yang mungkin lebih kehilangan daripadanya. Panthera Hanaraya, sudahkah gadis itu tahu tentang kondisi sang kekasih?
Usai guru meninggalkan kelas lebih awal, Jenardian melangkah keluar dari dalam kelas. Ia hendak pergi menuju kelas 12 IPA 1 untuk memastikan apakah Thera sudah mengetahui berita ini atau belum.
Di sepanjang lorong, kepala Jeje dipenuhi pertanyaan. Apa yang harus dia katakan pada Thera nantinya? Harus seperti apa dia menangani gadis itu? Namun, jika gadis itu sudah mendengar berita ini, seperti apa keadaannya sekarang? Apakah Melody bisa menenangkan sahabatnya tersebut?
Ruang kelas 12 IPA 1 terdengar tenang dari luar sini, samar suara guru yang mengajar tertangkap oleh gendang telinga Jeje. Sembari mengambil napas panjang, laki-laki itu mengetuk pintu dengan tangan gemetar.
Tak lama sebuah wajah melongok dari celah pintu, seorang guru dengan tubuh berisi dan kacamata kotak yang khas. "Cari siapa, Je?" tanya guru tersebut.
Sedikit celah di sana memperlihatkan bila seluruh kelas sedang memandangi Jeje dengan sebuah pertanyaan di kepala mereka. Ini berarti kelas 12 IPA 1 belum mendengar kabar tersebut, yang mana Thera pun juga belum. Gadis yang sedang duduk di sebelah Melody itu terlihat penasaran tentang apa yang tengah terjadi.
"Saya cari Thera, Bu."
Semua orang malah makin penasaran. Ketua Batavia yang digadang-gadang sedang menjalin hubungan dengan Kamelia Melody, malah mencari sahabat sang kekasih, bukankah mengherankan?
Meski agak kebingungan dan sempat bertukar pandang dengan Melody yang ada di sebelahnya, Thera tetap melangkahkan kaki keluar dari kelas untuk menemui Jenardian. Gadis itu melihat emosi yang aneh di mata Jeje. Ada apakah gerangan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Hundred Miles
Teen FictionHanya karena satu piringan hitam yang Melody inginkan untuk ulang tahun ayah, Jenardian dan kawan-kawan mewarnai kehidupan sma Melody dengan sangat meriah. Dia bercanda, tertawa, menangis, dan jatuh cinta bersama semua orang. Apalagi kasus begal pay...
