Halo, aku update nih.
Jan lupa votmen juga yaa.
Tetep dilanjut walau sepi:)
***********
Lizia sudah sampai di rumahnya saat sesudah diantarkan pulang oleh Leovan. Keadaan dirinya sekarang basah kuyup akibat hujan tadi.
Baru masuk ke dalam rumah. Ibunya sudah menatap marah. "Habis darimana hah?!"
Lizia terkaget. "Ma ...."
"Ketemu cowok gak jelas itu lagi?!" tanya Liara.
Lizia hanya mengangguk.
Lizia pun hendak melangkah untuk pergi ke kamarnya. Namun, Liara malah mendorong tubuhnya sampai membuat Lizia terbentur dinding rumah.
Lizia kaget. "Ma."
Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan panggil saya Mama lagi! Saya bukan Mama kamu!"
"Ada apa ini, Liara?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Itu Pak Ruslan. Ayahnya Lizia, ralat Ayah Tirinya.
"Liara! Ini anak kamu sendiri!" kata Ruslan.
Lalu membantu berdiri Lizia.
"Dia bukan anak saya!"
"Liara! Jaga ucapan kamu!"
"Emang bener 'kan?" tanya Liara.
"Liara! Lizia ini terlahir dari rahim kamu sendiri!" bentak Ruslan.
"Dia bukan anak aku!" kata Liara bersikeras.
"Liara. Jaga ucapan kamu. Kasian Lizia," ujar Ruslan dengan tegas.
Liara ditinggalkan Suami Sahnya demi wanita lain. Dan ini sebenarnya wanita itu merebut suaminya dan wanita itu juga sedang hamil.
Sama seperti dirinya.
Dan akhirnya Liara pun menikah lagi dengan Ruslan.
"Badan kamu panas banget. Ayo, saya bawa kamu ke kamar."
"Iya, Pah."
Ruslan tersenyum lalu memapah Lizia untuk pergi ke kamarnya. Sedangkan Liara masih terdiam tak bergerak sedikit pun.
Lizia pun dibaringkan di atas kasur tempat tidur. "Istirahat aja dulu. Besok, kamu jangan sekolah dulu."
"Bentar saya ke Bi Asih."
Lizia hanya mengangguk.
Ruslan tersenyum kembali lalu keluar dari kamar untuk menemui Bi Asih. Setelah itu, Bi Asih membuat air hangat dan kain untuk mengompres Lizia.
"Mas ...."
Ruslan menoleh ke Liara.
"Iya?"
Liara terdiam.
Ruslan menghampiri Liara. "Liara. Lizia anakmu, anak kandungmu. Jadi kamu jangan pernah membenci Lizia lagi."
"Kasian, Liara. Sekarang saja Lizia sakit demam, dan kau yang harus merawatnya."
Liara masih diam.
"Aku benci kepadanya. Sekarang saja dia menikah dengan wanita lain, dan meninggalkan aku."
Ruslan tersenyum.
Ia menangkup kedua pipinya Liana. "Saya sekarang suamimu. Saya juga telah menganggap Lizia seperti anakku sendiri, Liara."
Liara menangis.
Ruslan yang melihat itu langsung memeluk Liara. "Saya janji akan menjaga kamu sama Lizia."
"Iya."
Mereka masih berpelukan.
***********
Leovan sekarang ini sudah sampai di depan sebuah rumah mewah yang bercat putih. Itu rumah kedua orang tuanya.
Leovan menghela napasnya. Lalu turun dari motornya, kemudian berjalan masuk ke dalamnya. Dan ingin pergi ke kamarnya berada.
"Leovan!"
Suara tegas itu berhasil menghentikan langkah Leovan. Cowok itu pun menoleh ke arah Ayahnya yang tadi memanggilnya.
"Darimana? Apa kamu masih ingin tinggal di Apartement Papa?"
"Bukan urusan anda."
"Leovan! Saya itu Papa kamu!"
"Terus?"
Januar Kargara Mahendra.
Ayah Leovan.
Ia lantas berdecak kesal. "Nurut sama saya."
Leovan tersenyum sinis. "Anda bukan Ayah saya. Saya tidak sudi punya Ayah seperti anda."
"Mas."
Ayah dan Anak itu serentak menoleh ke sumber suara. Dilihatnya ada seorang wanita setengah baya, iya. Itu adalah Ibunya Leovan.
"Hei, Sayang. Darimana? Kok pulang malem?"
Plak!
Leovan maupun Januar terkejut saat Divya Saraswati menampar Januar. "Kenapa kau menampar saya?!"
"Kau masih mencintai dia 'kan?!" sentak Divya.
Januar mengerutkan dahinya bingung. "Siapa? Dia siapa maksudmu?"
"Kau masih mencintai dia! Aku tau itu."
"Hei, apa yang kau katakan? Saya tidak mencintainya. Saya hanya mencintaimu." Januar menghampiri Divya.
Namun, Divya langsung pergi keluar dari rumah lagi entah kemana. Januar pun berniat mengejarnya.
Sedangkan Leovan masih terdiam tak bergerak sedikit pun. Kedua tangannya mulai mengepal.
Kemudian cowok itu pergi ke kamarnya. Kamarnya kini berantakan sekali. Leovan terduduk di lantai.
*********
Di sisi lain.
Lizia masih terbengong memikirkan perkataan Ibunya tadi. Suhu badannya semakin naik panas.
Lizia memiringkan tubuhnya sehingga ternampak bintang-bintang bercahaya di langit malam hari.
Diremasnya selimut yang menutupi dirinya. "Aku cinta sama kamu, Leovan."
"Tapi aku tidak bisa menyatakannya. Yang dipikirkan kamu hanyalah Alena saja."
Tring!
Lizia menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di atas nakas yang berdering. Lizia pun merogoh ponselnya dan menbukanya.
Ada pesan masuk dari Rizal.
Rizal
Zia, lo tadi ke Apartementnya si Leovan?
Zia? Bales dong.
Aelizia
Iya
Tidak ada balasan dari Rizal.
Lalu meletakkan ponselnya kembali lalu tidur kembali.
**********
Bersambung!!
Gimana dengan part ini?
Hayo, kenapa tuh?
KAMU SEDANG MEMBACA
LEOZIA || END
Teen FictionJangan lupa vote dan komen juga yaa kalau suka:)) Dan jangan lupa follow akunku sebelum membaca🌌 SUDAH TAMAT! JANGAN SPOILER! ********* Nasib seorang gadis tunawicara sangat sial. Namanya Aelizia Karvelyna Maddielynn. Dipacari seor...
