1. Lingkaran setengah

4K 175 1
                                        


Vara menarik napas dalam sambil menutup mata mencoba menikmati angin yang berhembus dan membuat rambut panjangnya berkibar. Ia sangat menyukai liburan di Pantai kali ini karena ia pergi bersama kedua temannya yaitu Cindy dan Kezia dalam rangka merayakan kelulusan kuliah mereka bertiga. Mereka sudah berteman sejak kecil, tapi jurusan kuliah mereka berbeda. Walaupun circle pertemanan mereka sudah sedikit berbeda, tapi sesekali mereka masih suka liburan bareng seperti saat ini.

Vara kemudian mendengar suara Cindy memanggilnya. Ia kemudian membuka mata lalu menyusul teman-temannya yang sudah duluan bermain di bibir pantai.

Cindy menyuruh Vara untuk berlari lebih cepat karena mereka akan berfoto bersama. Fotografer sudah siap membawa kamera professional ala-ala yang sudah mengikuti perjalanan mereka sejak kemarin dari Jakarta.

Vara dengan sigap berdiri dengan teman-temannya lalu berpose di depan fotografer. Mereka berganti-ganti gaya sambil bergantian foto sendiri. Setelah merasa cukup, mereka kembali berjalan di bibir Pantai lalu berhenti ketika sudah lelah.

"Gue sudah bilang sama Papi soal rencana kita ke Eropa. Kita jadi berangkat dua bulan lagi, kan?" Cindy bertanya ketika mereka akhirnya bersantai di sebuah klub pinggir pantai dan sesi foto juga sudah berakhir. Fotografer yang mereka sewa sudah entah ke mana.

"Of course! Papi sudah kasih lampu hijau, tapi kayaknya gue harus berangkat sama Mami. Papi nggak mau kalau cuma kita bertiga aja." Kezia menyeruput mocktail langsung dari gelas tinggi. Setelah itu, ia beralih ke Vara, "Lo gimana, Var? Papi ngizinin nggak?"

"Gue belum bilang sama Papi nih, tapi kalau Mami sih bisa dibujuk. Gue takut Papi nggak setuju sih soalnya kita jalan-jalan melulu sejak bulan lalu. Papi rewel karena tiap hari dapat notif kartu kredit terus. Sebelum berangkat kemarin pun sudah ngancam mau narik kartu kredit kalau gue boros."

"Papi lo pelit banget sih, Var."

"Iya nih, sejak gue wisuda, jadi makin pelit. Padahal dulu biasa aja kalau cc dipakai buat jalan atau belanja."

"Yah, kalau misalnya lo nggak boleh pergi sama bokap, nanti gue yang bayarin aja."

"Jangan lah! Nanti gue minta izin lagi ke Bokap, Cin. Kalian berdua atur itenary dulu aja, gue bujuk bokap."

Setelah obrolan rencana ke luar negeri berakhir, mereka kembali bercanda dan tertawa menikmati liburan. Kezia punya rencana untuk pergi ke club sekalian mencari summer fling di Bali. Katanya, bosan kalau hanya jalan bertiga bersama fotografer mereka yang datang bersama istri.

***

Vara dan kedua temannya pergi ke sebuah club. Vara sempat ragu, tapi Kezia berhasil meyakinkan Vara untuk pergi. Sebenarnya tidak terlalu suka ke bar/club atau apa pun itu kalau tidak dipaksa atau terpaksa. Ia selalu mengajak teman-teman kuliahnya ke cafe. Jika teman-temannya menolak, Vara selalu bisa membujuk dengan cara mentraktir mereka.

"Kayaknya kita salah tempat deh. Kok yang datang nggak ada anak muda keren gitu sih? Om-om semua nggak sih?" Protes Cindy di tengah musik yang menghentak keras. Ia harus setengah berteriak bicara pada Kezia dan Vara.

"No, we are at the right place. Masuk sini lumayan mahal, jadi yang datang pasti sudah terjamin bukan benalu," sahut Kezia.

Vara mengangguk mengerti yang dimaksud benalu oleh Kezia. Laki-laki yang ingin menumpang hidup berkedok cinta. Vara pernah mendapatkan benalu itu. Ia dulu dimanfaatkan oleh laki-laki yang bilang menyukainya tapi ternyata menyukai uang orang tuanya.

Vara yang polos iya-iya saja dimanfaatkan sampai kakaknya harus turun tangan. Vara patah hati dan mulai berhati-hati terhadap laki-laki yang ingin mendekatinya. Makanya, sejak mulai kuliah, Vara sudah meminta orang tuanya untuk menjodohkan dengan pria kaya supaya Vara tidak terjebak blagi.

Havara! ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang