Avara Dala, si spoiled brat, harus berhadapan dengan mentor di kantor Papi yang bernama Gama. Kehidupan keduanya sangat berbeda. Vara selalu berhasil mendapat semua keinginannya, sedangkan Gama perlu berusaha dengan keras.
Ending lanjut di Karyaka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setiap hari, Vara jadi punya alasan untuk datang ke kantor yaitu Gama. Rasanya Vara benar-benar menjadi wanita paling bahagia di bumi. Rima pun bisa menangkap sinyal kebahagiaannya dengan amat baik.
"Tumben akhir-akhir ini nggak perlu dibangunin lagi, Dek. Kayaknya semangat banget mau ngantor," pancing Rima sembari berdiri di belakang Vara yang sedang berdandan di meja rias. Rima tersenyum. "Kayaknya cerah banget setiap pagi."
Vara terkekeh dan menatap Rima dari pantulan cermin. "Aku sama Mas Gama pacaran—eh belum pacaran sih, tapi soon dia jadi pacar aku beneran. Semoga."
"Loh? Bukannya dia nolak kamu, Dek?"
Vara bangkit untuk menatap Rima. "Itu dia, Mih. Tiba-tiba dia berubah pikiran, katanya mau kenalan dulu aja."
"Masa? Coba ajak ke sini dong, Dek. Mama mau ketemu. Berarti masakan Mama ampuh ya buat ngeluluhin Mas Gama."
"Nanti aja kalau kami resmi pacaran, Mih. Sekarang masih PDKT," ucap Vara sambil tertawa centil. "Aku masih usaha supaya dia mau jadi pacar aku. Dia agak overthinking soal cinta-cintaan gini, Mi."
Rima tersenyum lalu mengelus kepala si bungsu. "Pantas aja kamu happy banget, Dek. Berarti Sabtu kemarin kamu pacaran di rumah Gama ya bukan mau ketemu adiknya? Dasar kamu."
Vara terkekeh. "Sekalian, Mi."
"Terus kalau nanti papa ajak kamu kenalan sama anak temannya gimana?"
Vara berpikir sebentar sebelum akhirnya menggeleng. "Papi kelihatannya nggak akan nurutin permintaan aku yang itu deh, Mi. Jadi aku mau fokus sama Mas Gama dulu aja. Aku suka banget sama Mas Gama, Mih."
"Ya sudah, pokoknya kalau kamu ke rumahnya Mas Gam, jangan macam-macam ya sebelum menikah. Ingat itu ya Avara."
Vara mengangguk. "Yup. Tapi Mami jangan bilang-bilang sama Papi ya. Please, ini masih rahasia di antara kita aja."
Rima setuju untuk merahasiakan hubungan Vara dan Gama di depan suaminya. Demi kebaikan semuanya. Setelah itu Rima memberitahu bahwa masakan bekal hari ini sudah siap. Vara mengucapkan terima kasih karena Rima masih rutin menyiapkan makanan untuk Vara bawa ke kantor. Vara memang masih konsisten membawakan bekal untuk Gama setiap hari. Itu seperti jadi sebuah kebiasaan.
***
"Selamat pagi, Mas Gama," ucap Vara sambil menampilkan senyum tiga jari ke arah Gama yang baru saja tiba. Vara sudah datang lebih pagi supaya bisa menyambut Gama. Ia bahkan berangkat lebih dulu daripada Bimo.
"Pagi," sahut Gama pendek lalu ia berjalan menuju ruangannya.
Respon Gama memang tidak banyak berubah, tapi Vara tetap senang. Beberapa saat kemudian, Vara mengambil kotak makan yang ia bawa dari rumah.
Gama meletakkan tas di meja kemudian menatap Vara yang ada di depannya. "Vara, saya sudah sarapan. Kamu nggak perlu bawa makanan buat saya setiap hari."