Avara Dala, si spoiled brat, harus berhadapan dengan mentor di kantor Papi yang bernama Gama. Kehidupan keduanya sangat berbeda. Vara selalu berhasil mendapat semua keinginannya, sedangkan Gama perlu berusaha dengan keras.
Ending lanjut di Karyaka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vara merasa ada yang berubah darinya setelah perjalanan ke Bandung dan nonton konser beberapa waktu lalu. Ia makin sering menemukan dirinya menatap Gama dan menduga-duga apa yang ada di pikiran pria itu tentangnya. It's all about Gama.
Vara juga beberapa kali chatting dengan Gadis untuk mengorek informasi tentang Gama. Gadis sudah mulai curiga tapi Vara masih mengelak karena takut tiba-tiba Gadis malah menjauh. Namun, yang mengejutkan adalah ternyata Gadis cukup terbuka akan kehadiran Vara baik itu sebagai teman maupun cewek yang naksir kakaknya.
Vara sempat berpikir bahwa Gadis akan bersikap defensif ketika tahu dirinya naksir sang kakak. Namun, itu tidak terjadi. Ia merasa beruntung karena tetap bisa berteman dengan Gadis dan Gama.
Akhirnya, Vara mengumpulkan keberanian untuk mencoba mendekati Gama sebagai wanita yang sedang jatuh cinta. Walaupun belum yakin bagaimana perasaan Gama yang sesungguhnya, tapi Vara ingin tetap mencoba. Ia ingin mengenal Gama lebih dekat.
"Mas Gama, lunch sama siapa? Mau bareng aku nggak?" Vara menampilkan senyum terbaik agar Gama tertarik untuk pergi bersamanya. Vara sudah mengumpulkan keberanian sepanjang sesi diskusi di ruangan Gama hingga akhirnya selesai dan mengajak Gama langsung. Siapa sih yang bisa menolak Vara?
"Sama anak-anak kantor biasa. Ya nggak apa-apa, silakan kalau mau bareng," sahut Gama tanpa menatap Vara. Pria itu sibuk merapikan meja.
"Maksud aku tuh berdua aja gitu. Aku sama Mas Gama. Lunch berdua. Mau nggak?"
Kali ini Gama langsung mengangkat wajah dan mengernyit. "Dalam rangka apa? Kenapa cuma berdua?"
Vara berusaha sabar dengan semua pertanyaan Gama yang detail. "Nggak dalam rangka apa-apa, cuma lunch aja. Ayo mau dong, Mas."
Gama diam sebentar kemudian akhirnya menolak. "Kayaknya... nggak bisa ya. Sorry."
"Kenapa nggak bisa?"
"Ya nggak apa-apa, nggak mau aja."
Vara mengerjap. Apa yang terjadi? Ia ditolak begitu saja tanpa alasan. Belum pernah ada yang menolak Vara selama ini. Gama adalah yang pertama.
Setelah beberapa saat bengong tidak percaya, Vara akhirnya keluar ruangan Gama dengan agak bingung. Ini adalah usaha pertamanya dan gagal. Padahal, ia pikir hubungannya dengan Gama sudah jauh lebih baik daripada sebelum-sebelumnya. Ternyata, Gama tidak memiliki pikiran seperti Vara. Mereka tidak sedekat itu untuk lunch berdua.
Mata Vara langsung berkeliling mencari Joan. Ia memberi isyarat agar Joan mau bicara dengannya. Joan pun menghampiri Vara dengan santai.
"Kenapa, Var?"
Vara melirik sekelilingnya lalu tiba-tiba mengajak Joan agak menjauh dari keramaian. Mereka mengecek keadaan toilet terlebih dahulu sebelum masuk.
"Jo, Mas Gama tuh normal kan? Suka sama perempuan?" Vara tiba-tiba menanyakan hal di luar perkiraan. Ia sudah dapat info dari Gadis kalau Gama itu menyukai wanita, tapi ia mendadak penasaran karena ditolak tanpa alasan oleh pria itu.