Vara memang terkejut ketika mengetahui Gama adalah mentornya. Super calm, super cool, tapi juga kelihatan tegas. Karena itulah, Vara jadi segan. Tiap makan siang harus minta izin dulu, mau pulang duluan juga lirik-lirik dulu ke ruangan Gama.
Satu per satu orang di kantor pamit karena sudah waktunya pulang. Vara juga ingin segera pulang. Namun, Vara masih ragu karena revisi proposalnya belum selesai dan Gama sudah titip pesan agar Vara tidak menundanya. Ia jadi bingung apakah ia tidak boleh pulang sampai proposalnya selesai?
"Kamu nggak pulang, Var?" tanya Joan ketika melewati meja Vara.
Vara menggumam lalu melirik ke ruangan Gama. Joan pun mengikuti pandangan Vara.
"Oh, Mas Gama memang pulangnya nanti. Nggak usah ditungguin, dia pulangnya suka agak malam."
"Oh, gitu? Nggak apa-apa kalau pulang duluan?"
Joan mengangguk. "Nanti pas mau pulang, mampir aja bentar pamitan. Mau pulang sekarang nggak? Bareng aja yuk."
Vara berpikir sebentar, tapi kemudian ia menolak dan membiarkan Joan pulang duluan karena ia masih harus beres-beres dan pamit pada Gama. Vara tidak ingin membuat teman pertamanya di kantor menunggu terlalu lama.
Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Vara bersiap pulang dan menghampiri ruangan Gama. Ia mengetuk pintu yang setengah terbuka itu sekali sampai Gama menyuruhnya masuk.
Kancing kemeja Gama terbuka dan sudah tidak mengenakan dasi. Gama terlihat lebih santai dengan lengan kemeja yang digulung sesiku. Vara sempat terpana lagi karena tidak mengantisipasi pemandangan itu. Seksi.
"Kamu belum pulang?" tanya Gama terdengar heran.
Vara langsung sadar. "Oh, iya, ini mau izin pulang duluan. Boleh, kan?"
Gama melirik jam yang melingkar di tangannya lalu terkejut. "Jam setengah 7. Kamu dari tadi nggak nungguin saya pulang, kan?"
Vara menggeleng. Tentu saja ia berbohong. Malu.
"Vara, kamu nggak perlu nunggu saya. Kalau sudah jam pulang, pulang aja kecuali kalau harus lembur."
Vara hanya bisa manggut-manggut saja karena tidak tahu harus membalas apa. Vara akhirnya benar-benar pamit pulang. Namun, saat hendak menutup pintu, tiba-tiba ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu. Vara pun balik badan lagi. Ia yakin pernah bertemu Gama sebelumnya. Ingatan Vara tiba-tiba kembali saat ke Bali beberapa bulan lalu.
"Sorry, Mas, have we met?"
Gama terlihat berpikir lalu mengangguk. "Bali."
"OMG. Berarti ingatanku nggak salah. Kita ketemu di Bali." Vara akhirnya yakin bahwa ia pernah bertemu dengan Gama sebelum hari ini. Hanya saja, situasi saat itu jauh lebih santai daripada sekarang. "Kenapa dari kemarin nggak bilang? Aku baru ingat kamu!"
Gama mengangguk lagi. "Saya nggak tahu kalau kamu anaknya Pak Bimo."
"Masa sih? Aku dulu sering loh main ke kantor Papi waktu masih SMA."
"Nggak tahu. Mungkin saat itu saya masih banyak kerja di lapangan."
"Kayak kemarin? Kerja tapi sempat ke klub. Memangnya boleh, ya?"
"Itu sudah masuk waktu personal saya, bukan urusan pekerjaan lagi. Anyway, cukup ngomongin itu. Kita nggak ada urusan lain selain pekerjaan di sini."
Vara langsung diam. Ia pikir, sikap Gama akan berubah menjadi lebih halus, ternyata pertemuan mereka tidak mengubah apa pun dari sisi Gama. Namun, ini mengubah sesuatu dalam diri Vara. Gama adalah laki-laki yang mengenakan polo putih yang dulu sempat membuat Vara terpana saat di Bali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Havara! ✓
RomanceAvara Dala, si spoiled brat, harus berhadapan dengan mentor di kantor Papi yang bernama Gama. Kehidupan keduanya sangat berbeda. Vara selalu berhasil mendapat semua keinginannya, sedangkan Gama perlu berusaha dengan keras. Ending lanjut di Karyaka...
