Chapter 2

559 32 1
                                        

Karena Maya sudah mengetahui bahwa Gibran hanya memanfaatkan kelebihannya untuk kepentingan konten-kontennya. Maya pun tidak pernah menjawab bahkan membalas cinta Gibran. Walaupun di sisi hati yang paling luar Maya juga menyukai Gibran, namun ia tidak pernah mengatakan itu.

"Ape lu! Sat, Maya milih gua itu karena gua tampan, enggak kaya lu!" Gibran mulai menjawab dengan terbata-bata.

Begitu banyak ocehan-ocehan yang terlontar dari mulut keduanya. Saling memaki dan memukul dengan tenaga yang tidak ada. Sedangkan Luna dan Irsyad justru melakukan hal yang tidak senonoh di depan mereka semua. Hingga Oca dan Naura menarik Luna untuk menjauh dari Irsyad. Mereka tidak sadar akan tingkah laku yang mereka buat.

Waktu sudah menunjukan pagi hari. Maya membuka gorden ruang tamu di mana mereka tergeletak tidur dan tak berdaya. Matahari yang bersinar masuk dan menerangi mata mereka, pertanda keras agar mereka cepat membuka mata dan bangun. Luna yang sadar akan pakaiannya compang-camping, langsung berdiri dan berkata, "Loh, pakaian ku kok begini? Wah, kalian apain gua?"

Maya berdiri di depan mereka yang tertidur di lantai dan sofa sambil berkata, "Sudah, dramanya?" dengan suara tegas.

"Weh, kepala gua pusing!" ucap Irsyad.

"Sarapan sudah ku buatkan untuk kalian. Aku pergi duluan ke sekolah sama Oca dan Naura. Sepertinya kalian butuh waktu membersihkan diri," kata Maya dengan nada yang sangat marah.

Ia pergi meninggalkan Luna, Irsyad, Satria dan Gibran. Maya tampak marah di wajahnya, seakan ia ingin mengucapkan kata-kata kasar untuk ke empat temannya. Maya mengendarai mobil Naura dan pergi. Di dalam mobil Maya hanya diam tanpa berkata apa pun.

"May, aku tahu kamu kesel sama mereka, tapi jangan kamu pendam sendiri." Oca mulai berbicara dengan halus.

Mobil semakin lama semakin laju di buatnya, "Aku kesel banget, Ca, Luna juga, kalian lihat sendirikan dia melakukan apa semalam?" Kemarahan Maya meluap.

"Iya, aku tahu tapikan itu pengaruh dari Minuman, May!" Oca berusaha untuk sedikit meredam amarah Maya.

"Kalau begitu ya, jangan minum. Irsyad juga begitu, Satria ... Gibran, Sama saja! Otak mereka itu ada di mana sih?" ujar Maya yang sangat tampak emosi.

"Sudah tenang, oke. Oh iya, aku mau tanya kartu-kartumu itu artinya apa? Apa yang kamu baca, May?" tanya Naura.

"Itulah, salah satu alasan kenapa aku tidak seratus persen setuju untuk kalian buat konten horor. Aku baca di kartu itu, kalian akan mendapat suatu permasalahan yang besar," ucap Maya menjelaskan.

"Maksudnya masalah besar gimana?" tanya Oca.

"Iya, pokoknya masalah besar," balas Maya dengan emosi.

"Mungkin salah kali!" Naura berusaha berpikir positif.

"Apa kartu-kartu ku pernah salah sebelumnya? Aku takut apa yang kita ingin raih itu, menjadi suatu hal yang membuat kita jatuh ke dalam jurang," ujar Maya.

"Ya, sudah kalau begitu kita yakinkan mereka saja untuk tetap berhati-hat, gimana?" balas Naura.

Tidak beberapa lama mereka sampai di sekolah. memasuki gerbang sekolah dengan  perasaan aneh yang di rasakan Maya. Ia tidak biasanya melihat makhluk gaib dengan terus-terusan dalam satu waktu. Mata Maya tertuju setiap sudut sekolah. Melihat ke kanan dan ke kiri, seakan mereka tau bahwa Maya sedang mengetahui mereka berada di mana. Maya berjalan begitu cepat, ingin lekas sampai di kelasnya.

Pelajaran segera di mulai, keempat teman mereka belum muncul untuk menghadiri pelajaran pada hari itu. Namun beberapa jam kemudian, mereka datang dengan tergesa-gesa.
"Permisi, maaf Bu, kami telat!" ucap Gibran yang sampai di depan pintu terlebih dahulu.

"Kalian ini, kemana saja? Pelajaran sudah hampir selesai kalian baru muncul! Telat kok sama-sama! Habis ngapain kalian?" tanya Bu Guru.

"Begadang main game, Bu!" Gibran memberi alasan.

"Game seperti apa yang kalian mainkan sehingga membawa teman perempuan kalian?" tanya Bu Guru kembali.

"Dia sedang menginap di rumah saya Bu dengan teman-teman yang lain juga, hanya saja mereka sudah pergi ke sekolah duluan, sebelum kami!" balas Gibran.

"Pintar sekali kalian alasannya? Sudah duduk sana!" ucap Bu Guru.

Maya melihat kejadian itu, hanya terdiam tanpa membela mereka. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan teman-temannya.

Teng! Teng!

Bel berbunyi, menandakan waktu istirahat telah tiba. Maya berdiri dan membawa beberapa buku dan pergi meninggalkan semua temannya. Ia lalu, menuju ke perpustakaan dan membaca buku yang di bawanya. Hobinya membaca tidak goyah walaupun di sekelilingnya banyak makhluk tak kasat mata. Mereka berusaha menganggu namun, Maya tetap tidak peduli bahkan terlihat biasa saja. Tidak lama setelah itu teman-temannya datang dengan hebohnya.

"Kamu enggak punya otak atau sudah memang tidak punya? di sini perpustakaan bukan tempat parti yang biasa kalian lakukan!" ucap Maya yang marah.

"May, kamu kenapa sih? Kita semua bingung?" ujar Luna.

"Di rumahmu ada CCTV kan Gibran? Kenapa kamu tidak buka rekaman semalam dan lihat sendiri tingkah kalian seperti apa?" ujar Maya.

"Coba buka Gibran, gua penasaran!" sahut Irsyad.

Gibran pun membuka rekaman CCTV melalui handphonenya. Di rekaman tersebut terlihat tingkah mereka yang tidak bermoral. Luna yang melakukan hal tidak senonoh. Bahkan hingga melakukan hal di luar batas, semua terekam dengan jelas. Gibran langsung mematikan rekaman itu dan meminta maaf kepada Maya.

"May, aku minta maaf, aku enggak sadar saat itu! Sumpah aku enggak berniat untuk melakukan itu!" Gibran memohon maaf kepada Maya.

"Benar May, kita mabuk dan tidak sadar akan apa yang kita lakukan!" Satria ikut memberi penjelasan.

"Gua minta maaf ya, May!" Irsyad juga merasa bersalah.

Sedangkan Luna hanya terdiam setelah menyaksikan hasil rekaman CCTV.
"Kalian  buat apa minta maaf sama aku. Kalian harusnya minta maaf sama diri kalian sendiri kenapa bisa melakukan itu dengan teman kalian sendiri. Lagian kalau memang kalian tidak sadar melakukan itu, kenapa kalian melakukannya kembali tadi pagi, setelah aku pergi?" ujar Maya.

Semua tercengang seakan mereka tidak percaya bahwa Maya mengetahui perbuatan mereka. Kemampuan Maya lah yang membuatnya mengetahui hal itu.
"Pasti kalian bertanya-tanya kenapa aku tahukan. Ya, itulah kegunaannya kemampuanku sehingga aku bisa tahu kalian telat bukan karena begadang atau ketiduran. Tapi karena kalian sedang melakukan hal yang sama dengan teman kalian yang juga seperti sampah!" ujar Maya sangat marah.

Ia langsung pergi meninggalkan mereka semua. Luna yang tidak terima dengan ucapan Maya berteriak-teriak, "Anj! Kalau gua sampah, Lu apa?"

"Sudah, kita memang salah!" ucap Irsyad menghentikan tindakan Luna.

Mereka pun duduk merenungi kesalahan yang di perbuat. Suasana menjadi tegang dan canggung satu sama lain. Mereka saling menyalahkan dalam perbuatan mereka. Seakan mereka tidak mau mengalah atau mengakui bahwa kesalahan itu mereka buat bersama-sama.

Maya hanya melewati mereka tanpa berkata apa pun. Sepintas terdengar oleh mereka siswi lain berkata, "May, kamu enggak sama Geng mu. Mereka lihat ke sini, nih! Karena kamu bicara dengan kita."

"Enggak, lagi enggak mau aja sama mereka. Enggak salah dong kalau aku temanan sama kalian?" ujar Maya.

"Ya, enggaklah, May! Kita malah senang punya teman kaya kamu!" ucap salah satu siswi. Begitulah pembicaraan mereka yang terdengar di telinga Gibran, Luna, Satria dan Irsyad.

MALAPETAKA ( Tamat )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang