17

10.9K 762 20
                                        

Banyak-banyak tahan nafas ya para jomblo. Aku juga jomblo kok, jadi rada ketar-ketir nulis yang manis-manis.

•••

Apa yang lebih cepat di antara kita? Jawabannya adalah waktu. Acara penutupan sudah di depan mata, entah mengapa perasaan Putia mendadak tidak karuan. Bahagia karena sebentar lagi masa KKN berakhir dan sedih karena harus meninggalkan semua kenangan.

Perjalanan yang terasa begitu singkat, ”Yah...,”

Entah ke depannya akan seperti apa, Putia berharap desa ini semakin maju. Ia melihat Jenggala bercengkerama dengan pak Kades, terlihat ramah sekali. Ia jadi berpikir, bagaimana Sisi bisa memfitnah pak Kades yang seramah itu, bahkan saat kedatangan mereka pertama kali orang nomor satu di desa ini menjamu mereka dengan sangat baik dan berkesan.

”Aaaa,”

Putia melirik Ransi membawa kue di tangannya hendak menyuapi gadis bernama lengkap Putia Asmiranda itu namun ia lebih dulu mengambil alih kue dengan tangan dan sekali hap melenyapkannya ke dalam mulut.

”Udah kayak ular piton aja, put.” ujar Ransi.

”Enak, ran. Ada lagi?”

Ransi menggelengkan kepala, ”ada, di meja pak Kades tapi.”

”Yee, yaudah sono ambil buat gue.”

Ransi berdecak, ”mau ditaro dimana ini muka ganteng gue kalo nyelonong ngambil kue di depan.”

Putia berakting sedih, ”demi gue Ransi!”

”Kenapa, put?”

Ransi pergi diam-diam ketika melihat Jenggala, sementara Putia mengedikkan bahu guna menjawab pertanyaan yang baru pria itu lontarkan padanya. Padahal ia ingin kue yang dibawa Ransi tadi, rasanya manis dan enak. ”laper ya?”

”Pengen ngemil aja sih, ada kue?”

Jenggala mengacak rambut Putia dan mengeluarkan ponsel, ia mempunyai kontak anak kelompok KKN lain yang bertugas sebagai seksi konsumsi. Hingga tak lama ada gadis membawa beberapa kue ditangannya, ”makasih ya, deb.”

Gadis bernama Deby itu tersenyum, ”santai aja, kalo ada perlu apa-apa kontak aja ke wa gue, Ga. See you.”

”Iya, see you soon.”

Gadis itu berlalu dan Putia sempat memperhatikannya beberapa detik sebelum mengambil kue ditangan Jenggala. Memakannya perlahan, ”pelan-pelan aja, put.”

”Minumnya mana? Jahat banget ngasih makan gak ngasih minum, seret tau tenggorokan gue.”

Jenggala terdiam. Putia kenapa?

Kenapa terdengar manja?

Mereka berdua berada di belakang panggung, duduk di kursi plastik hingga tak lama Ladit datang membawa dua botol mineral dan menyodorkannya pada Putia, ”makasih Ladit.”

Ladit melirik Jenggala sebelum mengangguk. Tidak biasanya Putia tersenyum seperti itu, ”okey.”

”Roman, Rizki, sama Ransi kemana dah?” tanya Ladit menenggak air mineral yang ia bawa. Menatap sekeliling dimana tak ia temukan satupun di antara kerumunan.

”Tadi Ransi abis dari sini cuma gak tau kemana lagi,”

Ladit mengangguk, atmosfer dari kedua orang yang ada di dekatnya terasa berbeda hingga ia pun memilih beranjak dari sana setelah meminjam kamera yang ada di tangan Jenggala.

”Put...,”

”Cewek tadi siapa?”

Jenggala berpikir sejenak, ”siapa?”

Hai, Jengga!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang