Happy Reading.
•••
Suara sirene polisi dan Ambulance bersautan, terdengar nyaring di telinganya, Putia melihat Jenggala menangis sembari mengguncang pipinya, pengelihatannya kabur, memburam bersamaan dengan suara Jenggala memerintah agar ia bisa bertahan lebih lama dan tak menutup mata.
”Jangan tutup mata, put. Plisss,”
Putia tidak sanggup menjawab kemudian matanya perlahan tertutup membuat Jenggala semakin terisak, dan saat itu ia tidak tau apa yang terjadi selain mengingat jika ia berada di dalam Ambulance.
Malam paling mengerikan yang tak pernah terbayangkan.
Jenggala tidak meninggalkan Putia meski hanya selangkah dari rumah sakit. Gadisnya masih berada di ruangan operasi guna mengangkat peluru yang bersarang di punggung bagian bawah. Jenggala memukul kepalanya pelan, karena menyelamatkannya, Putia rela mengorbankan nyawa dirinya sendiri.
Rebecca ditangkap dengan kasus, percobaan pembunuhan dan mempunyai senjata api secara ilegal. Jenggala sempat berpikir jika Rebecca yang ia kenal dulu tidak sekejam seperti sekarang, apakah mentalnya terguncang sesuatu? Jenggala tak yakin.
Pagi harinya, Madafa datang ke rumah sakit setelah operasi berjalan lancar dan Putia di pindahkan ke ruang rawat. Memastikan Madafa menjaga Putia, Jenggala beranjak pulang untuk membersihkan amis darah yang sudah mengering menempel di tubuhnya.
”ABANG!”
Tyas menutup mulut melihat Jenggala keluar dari taksi, penampilannya sungguh kacau, apalagi melihat banyak darah yang menempel disana, Jenggala melewati Tyas yang masih tercengang dengan kedatangan kakaknya. Teriakan dari Tyas ternyata terdengar jelas membuat Pasha yang berada di dapur membereskan bekas sarapan berjalan dan mendapati Jenggala ada berdiri di ambang pintu dengan tatapan rapuh.
”Kenapa? Ada apa sayang?”
Mendengar pertanyaan itu, Jenggala tidak bisa menjawab, ia memeluk tubuh Pasha, menangis disana. Tyas tidak pernah melihat kakaknya seperti ini, datang ke rumah dengan penampilan kacau, ditambah darah yang menempel di tubuhnya, Pasha memberi kode tangan agar Kalingga yang baru keluar dari lift untuk tidak bersuara saat bocah SMP itu membuka mulut.
Sama seperti Tyas, gadis kecil itu menarik tangan Kalingga untuk berangkat ke sekolah bersama. Membiarkan Jenggala dan Mami mereka menangani kakaknya itu, ”kenapa, Kael?”
”Ini darah siapa?”
”Kamu luka?”
Rentetan pertanyaan dari Maminya membuat Jenggala semakin bersalah pada Putia, ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri selama Putia belum tersadar. Pasha merangkum kedua pipi anak sulungnya dan menyingkirkan beberapa anak rambut di dahinya, menatap matanya yang basah, ”kenapa sayang?”
”Putia, Mi. Dia masuk rumah sakit gara-gara, Kael.”
Pasha mengerutkan kening, ”gara-gara kamu?”
Jenggala mengangguk, ”dia nyelametin aku, Mi.”
”Mami ikut kamu ke rumah sakit, bersih-bersih dulu sana!”
Jenggala mengangguk, Pasha memegang dadanya melihat penampilan anaknya begitu kacau. Hingga suara tangisan Jeandra, anak bungsunya terdengar dan ia melangkah menuju kamar. Di rumah ini memang ada beberapa maid, tapi tidak ada baby sitter.
Di bawah guyuran shower, Jenggala mengusap kedua pipinya, menggosok lengannya dimana darah kering menempel disana. Jenggala ingin melupakan malam tadi, dimana ia melihat Putia bersimbah darah karena menyelamatkannya. Rekaman suara Rebecca yang dikirim polisi padanya masih terngiang jelas, dimana perempuan gila itu berkata, jika Jenggala mati sama saja akan membuat Putia hidup dalam penyesalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Jengga!
Truyện Ngắn[KKN SERIES PRIME] Nama gadis itu, Putia Asmiranda. Dari SMA, Jengga suka pada Putia. Sampai masuk Universitas, Jengga masih suka padanya. Dan, sampai pada masa KKN, Jengga tak ingin hilang kesempatan. Satu kelompok dengan Putia bukan kebetulan, mel...
