Happy Reading.
•••
”Selanjutnya...,”
Malam itu program kerja mereka masih berlanjut. Putia menarik tangan Ladit dimana pria itu tengah memakai jam tangan dan melihat pukul berapa sekarang. Ia mendesah lelah melihat angka pendek disana tepat di angka sepuluh. ”ngantuk put?” tanyanya.
”Lumayan.”
”Tinggal tiga orang lagi beres.”
Putia mengangguk dan mencatat tensi darah dari ibu-ibu yang datang untuk di periksa. Progja mereka berjalan lancar dengan dibantu bidan setempat.
”Si Jengga kemana ya?” tanya Putia.
”Warung sih tadi mah sama Roman.”
Putia menguap lebar hingga ia tersentak kaget karena ada telapak tangan yang menutup mulutnya menciptakan usapan lembut disana. ”Nih.”
Jenggala datang membawa secangkir susu hangat untuk Putia. ”Thanks.”
”Tungguin, gue sama Ladit nganter ibu bidan dulu.”
Tepat setengah sebelas, akhirnya beres. Karena hari sudah malam, mereka mengantar dua ibu bidan pulang ke rumah. Putia hanya mengangguk sesekali menyesap susu hangat yang Jenggala beli untuknya, padahal seingatnya ia tidak meminta.
Setelah mengusap bahu gadis itu, Jenggala dan Ladit pun beranjak dan kelima mahasiswa KKN itu termenung menunggu dua anggotanya pergi. Di wajah mereka tercetak rasa lelah, bahkan mereka tak sempat makan malam yang sudah Jenggala pesan karena Roman lupa menginfokan jika ibu-ibu di kampung meminta program mereka yang ini di adakan malam hari saja. Membuat mereka bergegas pergi ke lokasi. Dan, semalam ini mereka belum menyentuh nasi.
Di depan balai, Sisi mendekat dan duduk di samping Putia. Malam begitu dingin terasa begitu menusuk. ”Lo cape gak sih, put? Kalo lagi cape gini gue pengen cepet-cepet pulang ke Jakarta, gue kangen rumah.”
”Kalo cape mah pasti cape, si. Tapi mau gimana lagi,”
”Laper banget lagi gue,” ucap Ransi mengusap perutnya.
Rizki mengangguk, ”iya sama.”
”Mendadak serem njir nih tempat,” gumam Ransi.
Roman menggeplak lengan Ransi dengan buku yang tengah ia pegang. ”jangan ngomong sembarangan.”
”Mana dingin banget lagi, anginnya kenceng.”
Semua mengangguk mengiyakan ucapan Putia, padahal gadis itu sudah memakai hoodie dibalut almamater kampus, tapi ternyata tak memberi pengaruh banyak. Hingga tak lama deru motor terdengar mendekat, namun itu bukan Jenggala atau Ladit melainkan anak karang taruna yang entah mereka mau ngapain.
”Loh, kakak KKN ngapain masih pada disini?”
Sisi beringsut mendekat ke arah Rizki membuat Putia sempat mengerutkan kening. ”abis progja, mas. Ini lagi nungguin Jengga sama Ladit nganter Bu bidan.”
”Oalah, saya boleh ngomong sebentar sama kak Prisia?”
Satu di antara dua pria itu tersenyum menatap Sisi, yang entah mengapa di mata Putia seperti ada sesuatu di antara mereka. ”Maaf, ada apa ya?” Roman sebagai ketua kelompok, jelas menaruh curiga. Apalagi setelah melihat wajah Sisi pucat pasi.
Heri, anak komite sekolah SD tempat mereka melaksanakan program bimbel untuk para murid disana. Roman melirik Sisi yang masih bersembunyi di punggung Rizki, seolah meminta penjelasan apa yang terjadi sebenarnya. ”ngomong soal pribadi doang. Gak lama kok, ayo kak Sisi. Saya ada perlu sebentar saja.”
”Si?” Rizki menunjuk Heri agar ia beranjak dari persembunyiannya. Namun, gadis itu bergeming.
”Gue takut sama dia, ki.” Rizki melirik Heru, pemuda itu tampil pongah dengan anting hitam di telinga sebelah kiri. ”ngomongnya bisa besok aja gak? Udah malem juga mas, kita mau pulang. Udah cape banget.”
Heri menatap Sisi, namun gadis itu sebisa mungkin menghindari tatapan dari pemuda si ketua karang taruna yang memiliki wajah bak preman itu. Gayanya pongah dan tengil membuat gadis itu merinding.
”Oh gitu ya, yaudah deh.”
Tanpa berkata lain-lain lagi, Heri dan satu kawannya pun pergi meninggalkan rasa lega di hati Sisi yang kini terduduk lemas di sebuah kursi. ”ada apa sih sebenernya?” Putia mendekat menenangkan Sisi yang tengah menetralkan pernafasannya.
”Gapapa,” jawabnya.
Tak lama, Jenggala dan Ladit datang dan mereka pun bersiap kembali ke Resort. Putia melirik Sisi, melirik gadis itu dengan tegas karena kecurigaan mereka pun sudah tidak terbendung. ”lo harus cerita sama gue setelah sampe di resort. Disini, temen cewek lo, cuma gue doang, si. Jangan ada yang di sembunyiin.”
Jenggala menatap Putia yang berbisik pada Sisi, ia mengusap jok belakang sebelum gadis itu naik ke boncengannya. Sisi mengangguk dan ikut beranjak, duduk di boncengan Rizki. ”Sisi kenapa, put?”
”Gatau, anaknya belom mau cerita.”
”Putus kali sama pacarnya,” tebak Jenggala.
Putia berdecih, ”tadi ada Heri nyamperin kita ke balai. Dia bilang, mau ngomong sama Sisi. Tapi doi gak mau dan bilang ke Rizki kalo dia takut sama Heri.”
Jenggala mengerutkan kening, ia menarik tangan Putia saat menyadari tak ia temukan tangan gadis itu melingkari pinggangnya membuat Putia berdecak.
”Heri anak kepala desa?” tanya Jenggala kemudian.
”Bukan, Heri anak komite sekolah SD itu loh!”
”Put, setahu gue Heri itu anak kepala desa. Ketua karang taruna yang pernah main voli Pantai sama gue itu.”
Putia mengingat-ingat, ”yang kaki lo gue obatin?”
Jenggala mengangguk. ”iya sayang yang itu.”
”Dih, geli anjay.”
Jenggala tertawa merasa punggungnya terkena pukulan dari tangan Putia, pukulan yang ia anggap sapuan sayang. Jenggala gila! ”berarti dia anak kepala desa?”
Pria itu mengangguk, ”si Heri juga bilang suka sama Sisi pas kita main voli, terus kenapa cewek itu takut?”
”Bentar deh, Jeng. Bukannya anak pak kades itu cewek?” tanya Putia kurang yakin.
”Punya tiga anak kan dia, salah satunya si Heri.”
”Kok lo tau informasi gituan dari siapa anjir?”
Jenggala terkekeh, ”kebanyakan bergaul sama Ransi.”
Hingga mereka sampai di Resort. Entah mengapa Roman beranjak tanpa bilang apapun pada anggotanya dan berlalu begitu saja, membuat otak Putia bekerja lebih keras menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
”Si, jangan tidur dulu.” ujar Putia saat Sisi memasuki kamar mereka berdua. Ia mendongak menatap Jenggala yang lebih tinggi darinya. Mengapa Putia baru menyadari jika tingginya begitu rendah. Bahkan kepalanya berada di bawah dada Jenggala. ”anak-anak belom pada makan. Termasuk lo!”
Putia menunjuk dada Jenggala dengan telunjuknya.
”Gampang, nanti gue urus. Lo masih pengen cumi? Nanti gue anter ke kamar, mau ngomong serius dulu kan sama Sisi?”
Putia mengangguk, ”yaudah sana.”
”Udah, gitu doang?” tanya Jenggala.
”Terus apa lagi, Jeng? Gue cape tau.”
Jenggala tersenyum, merendahkan kepalanya membuat Putia terkesiap. Gadis itu sampai tercekat ketika matanya berusaha menghindari tatapan Jenggala ia merasakan kecupan hangat yang menyapu keningnya.
Cup.
”Biar capeknya ilang.”
Jengga? Pingsan aja gue.
•••
Makin seru gak sih WKWK
Pengen di spam NEXT bun!!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, Jengga!
Conto[KKN SERIES PRIME] Nama gadis itu, Putia Asmiranda. Dari SMA, Jengga suka pada Putia. Sampai masuk Universitas, Jengga masih suka padanya. Dan, sampai pada masa KKN, Jengga tak ingin hilang kesempatan. Satu kelompok dengan Putia bukan kebetulan, mel...
