Hai, Ochi disini 👋
Mau bilang selamat ke diri sendiri untuk 30 bab ini dan thanks buat yang masih setia nunggu 😁✌️
Kesabaran kalian luar biasa 🥲
********
Mata Kala membelalak. Manik matanya hanya berfokus pada objek yang bergerak mendekat ke arahnya. Dua lelaki berjalan beriringan dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Assalamualaikum..." ucap Arkhi mencoba menyapa.
"Wa'alaikumussalam." jawab Kala singkat. Gadis itu lantas menunduk.
Canggung. Itulah yang kini tengah Kala rasakan. Arkhi dan Zahdan kini sudah duduk di kursi yang jaraknya tidak jauh dari posisinya. Dengan laptop di hadapan, dua lelaki itu duduk sejajar tepat di hadapan Kala. Sungguh, gadis itu tidak menyangka kalau hari ini akan secanggung ini. Ucapan Bagas yang masih terngiang di kepalanya, membuat Kala semakin bimbang.
Atmosfer ruang OSIS menjadi semakin tegang saat Bagas dengan sengaja membuka pintu ruang OSIS. Tanpa kata laki-laki itu menatap Kala dengan tatapan ingin menerkam. Seolah Kala adalah tersangka yang akan ia mangsa hari itu juga.
Kala memutar lagi lagu kesukaannya. Gadis itu berusaha menurunkan kecanggungan yang ia rasakan. Cinta surga, lagu yang sering ia putar untuk sekedar meromantisasi hidupnya. Hubungannya dengan Arkhi yang diam-diam dan mereka yang cenderung sibuk dengan mimpinya masing-masing membuatnya beberapa kali merasa sendiri.
Kau yang terbaik untukku
S'luruh nafasku untukmu
Ku tak bisa
Bila harus tanpa kamu
Arkhi dan Zahdan menoleh bersamaan saat mendengar lirik lagu itu. Tatapan mata yang hangat dan dalam menembus tepat di sorot mata Kala yang dingin. Kedua laki-laki itu mengulas senyum tipis. Manis sekali. Bahkan Kala langsung menunduk malu dibuatnya.
"Pikir baik-baik pesan gue." seloroh Bagas dengan lantang seraya meninggalkan ruang OSIS. Entah kemana perginya laki-laki itu, yang jelas ia berhasil membuat Kala merasa terpojok siang ini.
Arkhi yang mendengar itu pun sontak menoleh ke arah langkah Bagas pergi. Sekilas. Kemudian menatap gadisnya hangat, "Ada apa?" tanyanya lirih.
Kala menggeleng. Ia tidak ingin Arkhi kepikiran tentang ini. Ia hanya sedang berhadapan dengan situasi yang kurang mengenakkan, mungkin bisa dibilang 'dituduh selingkuh'.
"Kalau butuh ngobrol berdua, jangan disini! Nggak enak sama yang lain, lagian kalian bagian keagamaan, kayaknya kurang sopan." ujar Zahdan seraya pura-pura fokus pada laptopnya.
Arkhi kembali menatap Kala. Keteduhan mata yang selalu berhasil membuat Kala menjadi lebih tenang itu hanya Arkhi pemiliknya. Antara Kala yang mulai jatuh cinta atau Arkhi yang berhasil meluluhkan kutub es berwujud manusia itu. Sekali mengangguk, Kala hanya bisa menuruti ajakan Arkhi untuk menjauh dari ruang OSIS. Keduanya berjalan beriringan, Arkhi yang percaya diri dan Kala yang menunduk seperti biasanya.
"AR, HATI-HATI ADA TIKUNGAN. JAGAIN YANG BENER KALAU GAK MAU LEPAS!"
Arkhi menghentikan langkahnya. Laki-laki itu menoleh cepat ke arah sumber suara. Bagas, laki-laki itu masih berdiri tegap di ujung koridor depan ruang OSIS. Beberapa detik kemudian, Arkhi mengalihkan pandangannya kepada Zahdan. Wajah sahabatnya itu tampak menegang seraya menggeleng lirih.
"Mas?" ucap Kala lirih. Seberkas kilatan bening tampak menggenang di kedua matanya.
Arkhi menatap gadisnya lekat-lekat, "Zahdan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MEZZANINE
Teen FictionMas Ar, begitu panggilan kesayangan dari Kala. Namanya Arkhi Izzaddin Khaliq, laki-laki sederhana yang sedang berusaha menjaga hati dan memilih fokus pada pendidikan dan mimpinya. Tuntutan keluarga membuatnya menjadi laki-laki yang ambisius, cuek da...
