"Tadi udah di kasih salep sama Aji. Udah mendingan juga." Jelas Adis.
Tiba-tiba..
"Hai, Kak Arshan!"
Adis dan Arshan tersentak. Mereka menoleh secara bersamaan.
Cindi mendekat dengan mengulas senyum. Arshan masih memegang tangan Adis dan itu membuat Cindi cemburu. Ia tidak suka melihat Arshan perhatian pada wanita lain selain dirinya.
Sadar dengan arah pandang mata Cindi. Adis segera menarik tangannya. Ia jadi salah tingkah.
"Aku kembali kerja dulu. Silahkan di nikmati makanannya." Ucap Adis dan tersenyum kikuk kepada Cindi.
"Ya." Jawab Arshan singkat.
Setelah balik badan, Adis membuang napas pelan dan mengusap dada. Kepergok seperti itu oleh Cindi membuat dirinya menjadi tidak enak. Jangan sampai Cindi berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya. Apalagi tatapan mengintimidasi yang Cindi berikan.
Tanpa mereka sadari Aji melihat itu semua. "Gengsi digedein. Apa susahnya jawab jujur." Gumamnya sambil geleng-geleng kepala.
"Kebetulan sekali ketemu Kak Arshan di Resto ini." Cindi menarik kursi tanpa mendapat persetujuan dari Arshan.
"Nggak papa kan aku duduk di sini?" Barulah Cindi bertanya.
"Kamu juga sudah duduk, untuk apa bertanya segala." Tanpa menatap Cindi, Arshan menjawab. Cindi pun tersenyum canggung.
"Baru sadar aku, Adis bekerja di tempat ini." Cindi melihat Adis yang menyuguhkan pesanan ke meja lain.
Meski tidak pernah berkenalan dengan Adis. Tapi Cindi ingat, Adis juga ada di taman kota beberapa hari lalu. Dan kepergian gadis itu tanpa pamit membuatnya bertanya-tanya, siapa Adis. Rupanya dia sahabatnya Sinta yang pernah Sinta bicarakan saat pertama kali ia mengobrol dengan Arshan.
"Kamu ke sini mau makan atau mau jadi pengamat." Ucap Arshan di sela-sela makan.
"Kak, aku ini bukan orang lain lho. Jangan dingin-dingin amat kalo ngomong sama aku." Cindi pura-pura merajuk.
Sudut bibir Arshan terangkat ke atas, ia tersenyum sinis sambil menggeleng pelan.
"Saya memang seperti ini jika bicara. Kalau kamu tidak suka, saya juga tidak rugi." Lalu melanjutkan makan.
Cinta butuh pengorbanan dan Cindi tidak akan menyerah begitu saja agar bisa mendapatkan hati Arshan.
"Aku perhatikan, Kakak dekat banget dengan Adis. Apa ini salah satu alasan Kakak mengabaikanku?"
Cindi tersenyum kecut karena Arshan tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku jauh lebih cantik, dan orangtua kita juga sama-sama setuju. Kenapa sulit sekali menaklukkan hati Kakak." Cindi berucap dengan getir. Bahkan makanan yang ia pesan tidak menggugah sama sekali di lidahnya.
Arshan membuang napas kasar. Cindi terlalu terbawa perasaan mengenai kedekatan mereka. Mungkin karena anak tunggal dan selalu di manja hingga semua keinginannya harus di turuti.
"Kamu salah orang jika masih mengharapkan saya. Saya bukan orang tepat buat kamu. Saya akui kamu cantik, juga baik. Tapi saya tetap tidak bisa memilih kamu. Jangan paksa diri kamu sebelum kamu benar-benar terluka karena bagi saya kamu tidak ada artinya sama sekali."
Perkataan Arshan sangat menusuk bagi Cindi. "Kamu benar-benar jahat, Kak!"
Detik itu juga, Cindi bangkit dari duduknya dengan menahan air mata. Akibat kekesalannya pada Arshan, Adis ia jadikan korban. Melihat Adis berjalan di depannya, dengan sengaja ia menyenggol bahu itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
BATASAN CINTA
RomanceKenapa kau takut untuk menatap mataku. Bukankah kau yang mengendalikan hati. Cinta memang hal buruk, kau mengakuinya. Aku menyadari rasa yang kutemukan pada cinta, sangat sulit untuk membuat hatiku mengerti. Dimana cinta akan terjadi, terjadi apabil...