Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Tamparan di pipi

8.1K 187 10
                                        

Kedatangan Pak Brata dan Bu Brata disambut hangat oleh keluarga Pak Wirya. Pasangan paruh baya itu hanya datang berdua tanpa Arshan atau pun Sinta.

"Maaf Bu Wirya, Pak Wirya, anak-anak kami tidak bisa datang. Mereka punya janji masing-masing malam ini." Bu Brata berkata dengan sungkan sebelum mendapat pertanyaan dari sang tuan rumah.

"Sayang sekali, padahal saya sangat berharap Arshan bisa datang ke kediaman saya ini." Sahut Pak Wirya lalu menatap ke arah Cindi.

Yang menahan kekecewaan karena kedatangan Arshan sangat-sangat Cindi nantikan. Bahkan putrinya itu mengundang Arshan secara langsung, tetapi laki-laki itu justru tidak menghargai niat baiknya.

Pak Brata dan Bu Brata memilih diam. Mau bagaimana lagi, mereka juga tidak bisa memberi keputusan sepihak. Keputusan pertama ada di tangan Arshan dan mereka tidak bisa menentangnya. Meski sebenarnya sedikit menyayangkan.

"Lebih baik kita mulai makan malam saja." Ajak Bu Wirya ketika menyadari kecanggungan yang terjadi.

"Baiklah, mari Pak Brata, Bu Brata." Pak Wirya menggiring tamunya ke meja makan.

Berbagai hidangan ala barat tersaji sempurna.

"Ini semua putri kami yang masak." Bu Wirya tampak membanggakan kepintaran Cindi dalam memasak menu Western.

"Semoga Tante dan Om suka." Sahut Cindi.

"Selain cantik, kamu juga pintar masak. Masakan kamu enak, Nak." Puji Bu Brata setelah mencicipi salah satu menu. Lidahnya tidak bohong jika masakan Cindi memang sangat nikmat.

Cindi hanya menimpali dengan senyuman karena dalam hatinya menahan geram. Ia sangat yakin, pasti Arshan sekarang berada di resto. Menunggui Adis di sana. Ia tidak boleh diam saja, Adis harus diberi ketegasan.

Begitu makan malam selesai, Cindi berpamitan kepada kedua orangtuanya. Dengan alasan salah satu temannya meminta bantuannya. Pak Wirya dan Bu Wirya percaya saja, lagi pula putrinya itu akan jenuh jika ikut terlibat obrolan para orangtua. Kecuali jika ada Arshan, mungkin lain lagi ceritanya.

Tiba di resto, Cindi mengedarkan pandangannya. Arshan tidak ada di mana pun setelah ia teliti lagi. Dan ketika pandangannya melihat Adis yang tengah melayani salah satu pengunjung, membuatnya harus bisa menahan kekesalan.

Meja tengah menjadi pilihannya. Dengan begitu memudahkan dirinya untuk mengawasi Adis. Setiap gerak-gerik Adis menjadi sasaran matanya sembari menikmati minuman yang baru saja diantar.

Hingga tidak berapa lama, Arshan datang. Melihat itu, Cindi langsung melambaikan tangan dan memanggil nama Arshan sampai Adis yang tidak jauh dari Cindi menolehkan kepala.

Kesal karena Arshan tidak menanggapi. Cindi bangkit dari duduknya.

"Lepas, jangan lancang kamu." Desis Arshan pelan sembari melepas tangan Cindi yang tiba-tiba membelit lengannya.

Cindi berusaha abai bahkan gadis itu berbicara dengan manja dan penuh senyum. "Kamu terlambat sayang, ayo duduk. Kamu tahu, aku udah nunggu dari tadi lho."

"Siapa yang kamu sebut sayang. Jangan ngaku-ngaku kamu!" Arshan menghempas kasar tangan Cindi. Tidak peduli jika gadis itu kesakitan.

Cindi mengepalkan kedua tangannya begitu mendapat perlakuan tak mengenakkan dari Arshan. Apalagi orang-orang di sekitar menatapnya. Bahkan ada sekumpulan gadis remaja yang berbisik-bisik mencibirnya.

Merasa dipermalukan Arshan di depan umum membuat Cindi murka. Adis yang baru selesai mengantar menu ke pengunjung tiba-tiba tangannya di tarik paksa Cindi dengan kemarahan yang sangat jelas terlihat.

BATASAN CINTACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang