Aku yang datang sendiri. Tapi kenapa kini aku yang jadi lemah seperti ini?
Diam terpaku.
Seperti sulit sekali untuk menggerakkan tubuhku.
Dan jadi hanya membisu menatapi pintu besar yang ada di hadapanku.
Bimbang begitu besar.
Haruskah aku masuk?
Atau mundur dan pilih pergi saja?
Ah, kenapa aku bisa jadi sangat lemah?
"Pulang aja apa, ya?"
Aku sungguhan mulai kalut.
Sibuk bicara sendiri. Karena takut tersakiti.
Khawatir tak bisa mengendalikan diri.
Tapi juga ingin tahu keadaan Nadira yang masih sangat kucintai.
Jadi meski tubuhku masih terus bergetar dengan sangat hebat, aku meyakinkan diri bahwa pasti bisa jadi kuat.
Tak boleh pergi dan menghilang begitu saja tanpa tahu kabar berita yang sebenarnya.
Sebab aku sudah melintasi benua untuk pulang kembali ke Indonesia. Jadi kenapa langsung kalah dengan keadaan hati yang belum bisa rela?
Segera menarik napas panjang untuk mengisi pasokan oksigen dalam paru-paruku, tangan kananku bergerak pelan untuk memutar knop pintu yang sejak tadi sudah jadi pemandangan begitu kaku.
Membukanya. Dan saat sudah berada di dalamnya, aku seperti berubah haluan ingin kabur saja.
Pergi yang jauh.
Sebab nyatanya, bertemu tatap langsung dengan Nadira, masih tetap jadi degup jantung yang dahsyat sekali pengaruhnya.
"Kak Dria udah sampai?"
Suaranya masih begitu lembut.
Dan senyum Nadira masih tetap selalu manis.
Sedangkan aku juga sama. Tetap terpaku dengan patah hati karena lagi-lagi harus menyaksikan bahagianya Nadira bersama pilihan hatinya.
Bukan bersamaku.
"Bayinya Dira, cantik banget."
Ini dia.
Berita bahagia yang kusadari akan segera tiba.
Tapi ketika hari ini telah datang, hatiku masih saja bergetar hebat karena sesak yang meradang.
Nadira sudah jadi Bunda.
Dan kenyataan pahit kembali memukul telak kekalahanku bahwa memang bukan aku yang jadi pasangannya Nadira.
Pedih sekali.
"Kak Dria mau gendong?"
Mulutku terkunci.
Dan pandangan mataku seperti ingin langsung mengeluarkan muatannya.
Terharu luar biasa, saat makhluk mungil begitu cantik ada di hadapanku dengan tatapan mata sucinya.
Ya Allah.
Aku sungguhan masih belum bisa merelakan Nadira.
Tapi melihat bayi perempuan begitu menggemaskan bernama Alnira Shabira, hatiku tak kuasa untuk menjadikannya sebagai pelampiasan rasa duka.
"Kak Dria mau gendong Al?"
Nadira mengulang pertanyaannya. Ditambah dengan panggilan manis untuk putri kecilnya. Dan pertahananku makin bergetar karena lagi-lagi sadar bahwa cintaku masih terus ada untuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Negara
ChickLit* Disarankan untuk membaca "Rasa Punya Nadira" dan "Nadira Beserta Bahagia Miliknya" terlebih dahulu supaya bisa lebih runtut ceritanya 😊 ***** Tipe istri idaman seorang Adrian adalah seorang gadis yang begitu taat pada agamanya, serta sangat bisa...
