🌼 Lily
"Kalau kamu masih nggak sadar kesalahanmu ada di mana, lebih baik, setelah ini, kamu nggak usah pergi-pergi lagi. Daripada kamu berubah jadi gadis dungu karena laki-laki."
Ingat kepulangan Papa saat aku sedang menangis dalam pelukan Kak Mela?
Semua kalimat pedas yang Papa lontarkan, jelas langsung menyulut berbagai macam bentuk perdebatan. Keributan. Pertengkaran. Dan lemparan tuduhan serta kecurigaan yang memancingku berulang kali menyampaikan sanggahan.
Tapi Papa, tetap Papa.
Yang setelah Mama tiada, entah aku akan menangis atau jatuh dengan luka berdarah dan menganga, tatapan Papa akan tetap tajam dan tak ada sedikit pun belas kasihan yang bisa kuterima.
Begitu keras. Teramat tegas. Penuh hawa panas.
Sampai kini aku hanya bisa berdiri lemas dicecar kata-kata sengit dari Papa yang masih menggunakan jas putih kebesarannya.
Di ruang praktik Dokter yang selalu kudatangi ketika aku sangat merindukan Papa, tapi kini juga jadi ruangan luas teramat dingin yang seolah berganti seperti ruang persidangan antara hakim dan terdakwa.
Aku seperti dipaksa untuk patuh dan tak boleh memberontak dengan dakwaan serta putusan yang sedang dibacakan.
Meski rasanya, semua bagian tubuh dan bilah bibirku ingin lekas menyampaikan berbagai pembelaan karena apa yang kulakukan tak sepenuhnya dosa.
"Kamu sudah besar. Bukan lagi anak kecil. Tapi kenapa bisa berubah jadi bodoh ketika sedang jatuh cinta?"
Dan masih pembahasan ini yang terus Papa bicarakan.
Tanpa mau bertanya, atau mencari tahu bagaimana sebenarnya aku bisa jatuh cinta, Papa langsung memberikan penilaian keji bahwa katanya perasaanku percuma. Sia-sia. Tak ada artinya. Harus dihentikan secepatnya. Karena hanya memberikan pengaruh buruk dan dianggap rasa remeh saja.
Padahal, jatuh cintaku bersama Kak Adrian, tak pernah bercanda. Jungkir balik aku mengatur diriku sendiri supaya tak sampai mengecewakan Papa. Tapi nyatanya, kalau hati Papa masih terlampau keras dan tak mau luluh, usahaku tetap tak akan ada hasilnya. Bukannya memberikan pelukan penuh cinta dan dukungan yang selama ini selalu aku harapkan, tetap cercaan dan klaim gagal yang Papa sematkan melalui kalimat sinisnya.
Kurang tangkas.
Tak tahu aturan.
Lupa pencapaian prestasi.
Lalai.
Dan menyedihkan.
"Renungkan kesalahan kamu. Biar setelah ini, Papa nggak perlu banyak ngomel lagi."
Tadinya, aku ingin bungkam seperti biasanya. Patuh dan pasrah supaya tak semakin memancing amarah besar dari Papa.
Pergi sendiri lalu diam-diam menangis sampai wajah sembab dan mata bengkak dengan napas tersengal juga tenggorokan yang tercekat.
Tapi melihat Papa yang begitu tenang melepas jas putih miliknya, meraih tas kerja juga selembar tiket penerbangan tanpa peduli bahwa mataku sudah bergetar menahan tangis karena semua pelampiasan murka dari Papa, keberanianku jadi seperti dipecut untuk segera bersuara.
Tak berpikir panjang bahwa setelah ini pasti akan ada huru-hara yang lebih menyakitkan, tapi aku sungguhan tak mau lagi jadi pihak lemah yang terus disalahkan.
Kalau aku selalu dianggap tak bisa membanggakan, kenapa Papa tak pernah sadar bahwa didikannya setelah Mama tiada sungguhan memberikan banyak sekali kesakitan?
"Kenapa selalu Lily yang disalahkan?"
Ucapanku berhasil membuat Papa menghentikan semua pergerakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Negara
Romanzi rosa / ChickLit* Disarankan untuk membaca "Rasa Punya Nadira" dan "Nadira Beserta Bahagia Miliknya" terlebih dahulu supaya bisa lebih runtut ceritanya 😊 ***** Tipe istri idaman seorang Adrian adalah seorang gadis yang begitu taat pada agamanya, serta sangat bisa...
