🌼 Lily
Ternyata benar ya, ketika jatuh cinta, kita juga harus siap untuk kecewa.
Yang bertambah dewasa, aku juga jadi semakin sadar bahwa kita memang tak boleh meletakkan harapan hanya pada manusia. Karena manusia tempatnya salah dan lupa, juga seseorang yang bisa pandai sekali untuk menorehkan luka.
Tapi ironisnya, manusia juga makhluk yang paling pandai memendam luka. Lihai sekali menutupi sakit dengan tawa. Apalagi jika sudah berkaitan dengan keluarga.
"Tidak tahu waktu?"
Seperti saat ini.
Bagaimana aku tak tahu harus melawan argumen Papa dengan cara apa. Karena aku masih tak bisa lupa dengan kewajiban bahwa seorang anak harus berbakti dengan orangtua.
"Waktu pagi, untuk orang normal, harusnya bekerja. Bukan datang mengganggu di rumah orang."
Yang jadi putri bungsu dari seorang Papa yang sangat tegas, membuatku jadi sulit sekali untuk memberikan pembelaan. Karena sejak dulu, pendapat dan keinginanku teramat sering diabaikan. Sebab semua hal yang ada di sekitarku selalu diatur, dan aku tak pernah diizinkan untuk mengajukan pilihan.
Ironis sekali memang.
Sampai urusan jodohku jadi sedemikian rumit untuk dijalani.
"Om ..."
"Minggir. Saya jelas punya pekerjaan penting."
Hatiku remuk menyaksikan pria yang kucintai ditolak mentah-mentah oleh Papa.
Kak Adrian sudah begitu sopan mendekati Papa, sudah menunduk ingin mencium punggung tangan Papa sebagai bentuk salam sapa yang begitu hormat. Tapi Papa yang keras hatinya malah melengos dengan begitu sengit dan mengabaikan Kak Adrian. Bahkan jelas sekali, Papa dengan sangat sengaja berpaling tepat di hadapan Kak Adrian, menganggap seolah Kak Adrian tak ada.
Sakit sekali.
Aku yang putri kandung Papa saja masih begitu perih jika mendapatkan perlakuan seperti itu dari Papa. Lalu bagaimana dengan Kak Adrian?
"Lain kali, buat janji dulu. Supaya kamu bisa sadar kedatanganmu akan diterima, atau justru malah jadi gangguan."
Papa sungguhan mengabaikan Kak Adrian. Masuk ke dalam mobil, menutup pintu mobil dengan keras, dan tak peduli bahwa Kak Adrian sudah rela menunggu Papa dari pagi buta.
Jadi dengan tatapan penuh sesal, aku mendekati Kak Adrian yang kini sedang tersenyum getir di sisi mobil Papa.
"Maaf, Kak."
"Nggak papa," Kak Adrian kentara sekali sedang menutupi rasa kecewa melalui senyum tipisnya. "Udah konsekuensinya, mau punya istri cantik, jadi harus siap punya Papa galak."
Ah, pria yang kucintai sedang menguatkan dirinya.
"Berangkat kerja, Lily. Cepetan. Nggak usah jadi genit hanya karena kena rayuan murahan."
Dan Papa juga sedang menegaskan dirinya yang sangat sulit untuk didekati.
Kalau Papa terus-terusan galak, gimana aku bisa cepat menikah?
*****
"Pa."
"Sejak kapan jadi berani ngomong sama Papa?"
Segelas teh hangat yang ingin ku sajikan di meja kerja Papa langsung bergetar. Yang kalau tak kuat ku genggam, pasti sudah pecah berserakan.
"Sejak kapan juga sore begini kamu udah pulang kerja?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Negara
ChickLit* Disarankan untuk membaca "Rasa Punya Nadira" dan "Nadira Beserta Bahagia Miliknya" terlebih dahulu supaya bisa lebih runtut ceritanya 😊 ***** Tipe istri idaman seorang Adrian adalah seorang gadis yang begitu taat pada agamanya, serta sangat bisa...
