🍂 Dria
"Bang."
"Kenapa?"
"Bang Alan kenal Profesor Hardy? Dokter spesialis penyakit dalam."
"Papanya Lily?"
"Iya."
"Kenal, dong. Kalau nggak kenal, nggak mungkin aku kenal sama Lily juga."
Aku menyesap pelan segelas kopi yang ada di tanganku, saat senyum tipis Bang Alan saat ini serasa menusuk sekali dalam pandanganku.
Bukan tatapan meneliti.
Tak juga sedang ingin mengabaikan.
Tapi karena sorot mata Bang Alan seperti sudah tahu bentuk keresahan yang sedang kurasakan sekarang.
Aku jelas gugup.
Tapi aku tak mau mundur, karena sudah terlanjur tercebur.
Jadi mari lanjutkan. Sampai rasa khawatirku bisa menemukan jawaban paling memuaskan.
"Kenal udah lama?"
"Lumayan." Bang Alan mengangguk dengan senyum misterius yang terus terkembang.
Membuat rasa gugup yang ku miliki jadi makin menyebar.
"Sejak kapan?"
"Waktu aku ambil pendidikan Dokter yang pertama."
"Profesor Hardy, Dosen Abang di kampus?"
"Iya. Putri pertama Om Hardy, juga seangkatan sama aku."
"Dokter Melati?"
"Kenal sama Melati?"
"Belum kenal. Belum pernah ketemu juga. Tapi Lily pernah cerita."
Aku jadi kikuk dan mengusap bagian belakang leherku untuk mengurai semua kegugupan.
Karena meski pertanyaan Bang Alan terdengar sangat santai, tapi sungguhan bisa membuat jantungku jadi berdetak kencang sekali.
Memang Bang Alan selalu cerdik dalam urusan membuat lawan bicaranya jadi menyiapkan banyak sekali mental untuk menghadapinya. Karena meski hanya melalui sorot mata, tapi ketegasan dan batasan kuat Bang Alan sudah langsung terpancar dengan sangat nyata.
"Bang."
"Kamu mau tanya apa sebenarnya?"
Dugaanku langsung dibenarkan.
Karena saat ini Bang Alan sudah tersenyum menggoda saat menyesap segelas kopi kepunyaannya.
"Berarti, Lily hanya 2 bersaudara sama Dokter Melati?"
"Iya."
"Apa Dokter Hardy, Papanya Lily dan Dokter Melati, memang selalu keras banget sama putri-putrinya?"
Senyum penuh godaan yang sempat Bang Alan tunjukan langsung memudar.
Berganti menjadi tatap mata dalam dan hawa tegas penuh keseriusan.
"Apa yang sudah kamu lihat?"
Dan aku jelas langsung mengemukakan mimik wajah yang serupa.
Tak mau bercanda.
Sebab kedatanganku malam ini sampai berani menemui Bang Alan di waktu istirahatnya jelas karena ada informasi penting yang ingin kudapatkan supaya aku bisa semakin memperjuangkan gadis baik yang sudah sangat kucinta.
"Aku lihat dan dengar sendiri, kalau Dokter Hardy kasih nasihat terlalu keras sama Lily."
Segelas kopi buatan Nadira yang disiapkan untukku dan Bang Alan lekas kuletakkan di atas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Negara
ChickLit* Disarankan untuk membaca "Rasa Punya Nadira" dan "Nadira Beserta Bahagia Miliknya" terlebih dahulu supaya bisa lebih runtut ceritanya 😊 ***** Tipe istri idaman seorang Adrian adalah seorang gadis yang begitu taat pada agamanya, serta sangat bisa...
