46. Beban Pada Bahu Pria

315 23 73
                                        

🍂 Dria

Pikiranku kalut.

Jadi banyak sekali hal yang harus ku hadapi, sampai aku jadi bingung harus memulainya dari mana. Mana yang harus ku selesaikan terlebih dahulu, supaya aku tak sampai mengabaikan yang lainnya.

Karena semua hal yang ada di sisiku saat ini sungguhan sangat penting bagiku.

Semuanya berharga. Dan aku benar-benar tak mau kehilangan salah satunya.

Mama sakit.

Tapi di sisi lain, ada Lily juga yang sedang sangat ku usahakan.

Biasanya, situasi seperti ini tak akan pernah memusingkan untukku. Karena keberadaan Mama dan Lily selalu bisa membuatku bahagia. Mama dan Lily, mereka berdua istimewa, dan selalu bisa jadi orang-orang terkasih yang memberikan ketenangan bagiku. Apalagi ketika aku sudah berulang kali melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Mama dan Lily saling menyayangi, Mama dan Lily sudah saling menerima keberadaan mereka satu sama lain, tanpa paksaan, tulus dari hati baik mereka masing-masing. Maka sungguh, hari-hariku yang lalu, Mama dan Lily benar-benar tak pernah jadi alasanku untuk bimbang.

Tapi kali ini berbeda keadaannya. Karena ada Om Hardy yang hadir di antara aku, Lily, dan Mama.

Om Hardy yang tanpa dinyana menjadi Dokter yang hebat sekali bisa menyelamatkan keadaan Mama.

Aku bersyukur, sangat, tentu saja. Melihat kondisi Mama bisa stabil setelah melewati masa kritis, sungguhan hal teramat besar yang membuatku bernapas lega.

Tapi tiba-tiba, entah mengapa, aku jadi resah, jadi khawatir memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah ini. Berharap semuanya baik-baik saja, tapi hati tetap risau ketika melihat sorot mata Om Hardy yang nampak begitu tajam, apalagi ketika melihat kondisi Mama.

Aku tak pernah masalah dengan sikap keras Om Hardy selama ini. Aku bisa mengatasinya, walau memang sulit sekali. Karena setelah mendekati dan terus berusaha meyakinkan Om Hardy selama berbulan-bulan ini, aku seperti sudah terbiasa menghadapi Om Hardy dan semua sikap kerasnya.

Tapi melihat respon Om Hardy ketika melihat keadaan Mama, aku sungguhan jadi tak berani untuk mencoba mencari tahu apa maksudnya.

Karena tatapan Om Hardy ketika memeriksa keadaan Mama sungguhan terlalu menakutkan untuk diartikan.

Ya Allah.

Semoga apa yang ku rasakan hanya ketakutan tak berdasar saja. Aku mohon, tetap lindungi orang-orang spesial yang sangat ku cinta.

"Pa."

Pintu ruang periksa terbuka, dan aku langsung bangkit berdiri tanpa harus diperintah. Berbarengan dengan panggilan lembut yang Lily suarakan pada Papanya.

"Gimana keadaan Mama Beta, Pa?"

Hatiku terenyuh.

Tersentuh sekali melihat raut wajah khawatir dan panggilan kasih yang Lily sematkan untuk Mama.

Gadis yang ku cintai juga mengasihi Mama. Bagaimana aku tak bahagia?

Tapi lagi-lagi, sorot mata terlampau menusuk milik Om Hardy membuatku harus sadar akan posisi.

"Bagaimana kondisi Mama saya, Dok?"

"Dokter Hardy yang akan menjelaskan."

Jawaban Dokter Tegar yang selama ini jadi Dokter yang selalu mengetahui keadaan sakitnya Mama membuatku harap-harap cemas.

"Tapi yang bisa saya katakan, selamat, Bu Betari berhasil melewati masa kritis. Dan bersyukur, karena hari ini, Dokter spesialis penyakit dalam paling handal di Jakarta yang memberikan penanganan."

Cinta Dua NegaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang