🌼 Lily
Baru membuka mata, tapi keadaan jantungku sudah langsung meletup-letup seperti ditumbuhi banyak sekali macam bunga.
Wajahku juga langsung bersemu sampai merona sekali warnanya.
Ujung-ujung jariku jadi saling terketuk karena ingin menyalurkan kegugupan besar yang sedang kurasa.
Sampai setiap gerakan tubuhku berubah pelan sekali karena takut mengganggu tidur lelap pria teramat baik hati yang kembali membuatku jadi semakin jatuh cinta padanya.
Kak Adrian.
Satu-satunya pria yang telah sangat berhasil membuat kondisi hati dan diriku jadi jungkir balik dengan semua euforia begitu menyenangkan.
Bisa penuh suka cita.
Sering sekali dibuat memutar otak supaya bisa terus bicara.
Tak jarang harus menahan kesal ketika kalimat pedas mulai diluncurkan olehnya.
Tapi jelas tak bisa ditampik, bahwa bersama Kak Adrian, setiap bahagia juga selalu bisa kurasakan.
Memang ajaib sekali pengaruhnya.
Bahwa jatuh cinta bukan hanya membuatku jadi seorang gadis yang begitu tabah ketika harus kuat menghadapi setiap penolakan. Karena jatuh cinta bersama Kak Adrian, aku juga tiba-tiba bisa berubah jadi gadis rapuh yang mudah sekali berbagi kesedihan.
Cerita pilu, yang selama ini jadi rahasia terbesarku.
Hal begitu penting yang selalu kusimpan dengan sangat rapat, semalam, malah kubuka sendiri dan kuceritakan dengan sangat lancar pada Kak Adrian.
Meski belum semuanya.
Tapi tetap saja, Kak Adrian telah mengetahui satu macam duka yang selama ini tak pernah kubagi dengan siapa-siapa.
Jadi, apa memang seperti ini rasanya diberi perasaan nyaman?
Sampai aku jadi ingin semua hal yang kurasakan bisa diketahui oleh Kak Adrian?
Setelah degup jantungku mulai sedikit mereda, aku jadi tersenyum saat ingatanku kembali memutar setiap keping memori yang semalam membuatku merasa seperti seorang gadis yang sangat dijaga.
"Kamu harus istirahat."
Satu kalimat yang membuatku jadi makin tergugu dengan sisa tangisanku.
"Soalnya, kamu udah nangis terlalu banyak."
Sindiran, tapi memang kenyataan, yang membuat telapak tanganku langsung mengusap wajah basahku supaya aku bisa berhenti menangis di hadapan Kak Adrian.
"Berani tidur sendiri?"
Aku hampir bangkit berdiri.
Tapi jadi mematung saat mendengar lanjutan kalimat Kak Adrian yang membuat hatiku serasa diberi kejutan yang besar sekali.
"Atau mau ditemani?"
Lidahku kelu.
Dan tangisku benar-benar langsung terhenti.
Terganti jadi rasa berdebar karena takut telingaku telah salah dengar.
"Jangan berpikiran mesum. Atau aku batal kasih penampungan."
Harusnya, aku tertawa.
Tapi tak bisa.
Karena kalimat ketus Kak Adrian diiringi dengan gerakan tangannya yang mempersilakan aku untuk masuk ke apartemennya.
Jadi, pendengaranku benar?
Aku tak sedang berhalusinasi dengan kebaikan Kak Adrian?
"Ayo, tidur. Soalnya ini udah terlalu malam kalau kamu mau lanjut nangis kaya tadi. Takut tetangga jadi pada bangun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Negara
ChickLit* Disarankan untuk membaca "Rasa Punya Nadira" dan "Nadira Beserta Bahagia Miliknya" terlebih dahulu supaya bisa lebih runtut ceritanya 😊 ***** Tipe istri idaman seorang Adrian adalah seorang gadis yang begitu taat pada agamanya, serta sangat bisa...
