Ternyata benar, setelah mengalaminya sendiri, aku jadi percaya, bahwa semua orang memang begitu amatir dengan kehilangan.
Karena ternyata, yang paling menakutkan bukan perkara harus siap dengan perpisahan.
Tapi justru bagaimana diri harus tangguh menghadapi hari-hari setelah perpisahan itu terjadi, yaitu di mana kita seperti dituntut kenyataan untuk terus hidup dan kuat bersama dengan rasa sakit serta kekosongan.
Hati memang sudah ikhlas, tapi melupakan yang paling dikasihi memang hal teramat pahit yang sulit sekali untuk dilakukan.
Jadi doanya masih tetap sama, bahwa semoga di sisa usia yang ku miliki, tabungan pahalaku akan jadi lebih banyak supaya bisa kembali berkumpul bersama Mamah yang sudah pergi lebih dulu.
Salam rindu, selalu.
Dari putri bungsu yang masih sering sekali bertemu Mamah dalam mimpi, ketika sedih mulai menyerangku.
Dan ya, ini alasan utamanya, kenapa Nada Dina sempat menghilang cukup lama dari dunia orange dan menunda beberapa cerita panjangnya.
Alasan kuat kenapa aku sempat ingin hiatus, bahkan sangat pernah mau berhenti untuk menulis, karena pikiranku pernah kacau dan sulit sekali untuk fokus.
Mungkin, beberapa ada yang sudah tahu. Sempat baca atau ingat. Tahun lalu, di bulan yang sama seperti sekarang ini, di dunia nyata, aku mengalami kehilangan yang sangat besar. Duka yang sudah ku tahu akan datang. Tapi ketika benar-benar telah terjadi, ternyata, aku nggak siap.
Aku paham bahwa kematian tak mungkin bisa dihindari oleh manusia. Tapi ketika sudah menjalaninya sendiri, kehilangan yang paling dicintai, sungguhan buat aku nggak bisa benar-benar rela.
25 Juni 2025, tepat satu tahun setelah Mamahku meninggalkan dunia.
Waktu cukup panjang untuk aku benar-benar siap melanjutkan beberapa hal yang tertunda, salah satunya untuk kembali ke Wattpad.
Dulu, rasanya, Wattpad pernah jadi salah satu ruang untukku bisa bersenang-senang. Menuliskan banyak hal rumit yang ada di kepala. Lalu bertemu dan saling bertukar pendapat dengan banyak orang.
Dahulu, menulis adalah kegiatan menyenangkan yang bisa ku jalani dengan mudah. Mengalir begitu saja, tanpa ada hambatan yang berarti.
Dulu, masih ku ingat, betapa jari-jemariku bisa begitu asik bergerak di atas keyboard. Inspirasi yang terus berjalan. Bahkan, satu cerita panjang dengan beratus ribu kata bisa ku selesaikan hanya dalam jangka waktu paling lama 3 bulan. Yang jadwal update bisa rutin setiap hari, atau maksimal 2 hari sekali.
Bahkan, dulu, ketika aku sedang bahagia, aku bisa berulang kali mengunggah cerita bukan hanya satu saja. Sampai beberapa. Double update, juga bisa menyelesaikan alur cerita yang berbeda di waktu yang sangat sama.
Sungguhan sangat menyenangkan dan begitu produktif.
Tapi ternyata, kini, tak bisa semudah itu.
Satu cerita ini saja bahkan sudah melewati tahun belum bisa ku selesaikan.
Sedih sekali, sebab suasana hati benar-benar sangat mempengaruhi.
Seakan inspirasinya masih ada. Alur ceritanya masih ingat. Memikirkan dialog masih cukup bisa. Tapi ketika sudah berniat ingin segera menuliskan narasi, rasanya perbendaharaan katanya jadi berkurang. Aku jadi sulit sekali menggambarkan dengan gamblang apa yang sebenarnya ingin aku maksudkan.
Jadi banyak dipendam.
Juga jadi banyak sekali penggambaran.
Tak seperti dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Negara
ChickLit* Disarankan untuk membaca "Rasa Punya Nadira" dan "Nadira Beserta Bahagia Miliknya" terlebih dahulu supaya bisa lebih runtut ceritanya 😊 ***** Tipe istri idaman seorang Adrian adalah seorang gadis yang begitu taat pada agamanya, serta sangat bisa...
