🍂 Dria
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Wah, akhirnya, ada yang mau mudik juga, nih."
Aku tertawa.
Karena baru dibukakan pintu, aku sudah langsung disambut dengan kalimat sindiran seperti itu.
"Mau aku putar balik aja?"
Aku pura-pura mengancam.
Padahal saat ini senyumku sudah langsung terkembang karena sedang diberikan pelukan.
"Sama orang yang lebih tua, nggak boleh gampang ngambek. Sabarnya harus ditambahin."
Aku mengangguk patuh.
Jelas tak bisa membantah pada sosok pria dewasa yang kini sudah memberikan tinjuan pelannya di bagian lenganku.
Biasa. Salam antar laki-laki jika sedang berjumpa.
"Ya, yang lebih tua, sok pamer banget sama usia!"
"Udah, yuk, biar nggak gampang ngomel, makan dulu. Istriku udah masak banyak."
Tawaku kembali mengudara.
Karena Bang Alan sudah merengkuh bahuku. Menuntun jalanku. Tapi diam-diam terkekeh juga saat menerima banyak bungkusan oleh-oleh dariku.
Memang dasar.
Dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah.
Padahal, aku jelas tahu dan paham betul kalau Bang Alan pasti juga menyayangiku. Tapi setiap bertemu, tetap saja jarang sekali berucap manis, karena Bang Alan lebih sering meledek atau melemparkan sindiran halus untuk menggodaku.
Tapi ya, tak apa. Karena aku jelas mengerti bahwa bahasa kasih sayang setiap orang memang jelas tak bisa selalu sama.
"Nggak usah makin pamer sama jomblo ya, Bang. Bilang aja, Dira. Jangan kena klaim terus."
Bang Alan tertawa. Tapi jelas sekali ingin kembali menggodaku karena saat ini kedua lengan kekar Bang Alan sudah langsung memeluk erat tubuh mungil istrinya.
"Sayang. Bilangin nih, Kak Dria suka banget marah-marah sama Mas Alan."
Lihat.
Baru dibicarakan, sudah langsung dibuktikan.
Menyebalkan sekali. Pintar sekali membuat iri.
Dulu.
Kalau sekarang jelas tak begitu lagi.
"Halo, Kak. Gimana penerbangannya? Lancar semua, kan? Udah lama di Australia, sekarang pulang, udah bisa menyesuaikan diri lagi dengan matahari terik di Indonesia?"
Suara ini, memang tak pernah gagal untuk menyejukkan hati.
Begitu manis dan selalu menenangkan.
Jika dulu jantungku pasti akan langsung berdebar seperti pria yang sedang dilanda kasmaran. Maka sekarang yang ada adalah sosok kakak yang bahagia karena melihat adik perempuannya baik-baik saja dan selalu berkecukupan.
Dahulu jantungku akan selalu berontak karena belum bisa melupakan Nadira. Maka kini yang ada, adalah diriku yang sanggup tersenyum cerah karena bertemu dengan keluarga.
Nadira sudah seperti adikku. Bukan lagi sosok istri idaman yang selalu jadi impianku.
Semuanya telah berubah.
Karena perasaan rela telah kudapatkan. Dan semua bentuk patah hatiku telah berhasil disembuhkan.
"Gimana? Masih mau ngomel?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Negara
ChickLit* Disarankan untuk membaca "Rasa Punya Nadira" dan "Nadira Beserta Bahagia Miliknya" terlebih dahulu supaya bisa lebih runtut ceritanya 😊 ***** Tipe istri idaman seorang Adrian adalah seorang gadis yang begitu taat pada agamanya, serta sangat bisa...
