sunday

398 74 4
                                        

"lo mau kemana minggu-minggu begini udah rapi? tumben amat" yeji mengomentari jeno yang tengah bersiap, ia mengancingkan kemeja nya sementara yeji saat ini tengah memakai antingnya. keduanya hendak pergi, namun tidak ada perbincangan yang keduanya bicarakan.

"ada acara, ngga  usah kepo" jeno berujar, melpat kemeja nya hingga ke siku. yeji yang tengah memasang anting menoleh dengan tatapan sinis dan membuka mulutnya dramatis, tidak percaya engan apa yang pria di depannya ucapkan.

"ih mau ikut" protesnya. jeno mendengus, ia mengambil dompetnya di meja yang tergeletak. sementara yeji menghentak-hentakan kakinya.

jeno menoleh. "lo kan mau ngedate sama parcar lo. ngapain gue ngajakin lo?" jeno sebenarnya bertanya dengan datar, tidak ada nada apapun didalamnya. namun yeji malah menyengir lebar. "lo cemburu ya?" ia bertanya, meledek jeno dari balik bahunya.

jeno yang tengah menatap komputernya dengan setengah membungkuk hanya mendengus, membiarkan wanita gila di belakangnya kini menusuk-nusuk pipinya dengan kukunya yang panjang dan bergambar.

"lo mau kemana ishhhh, jenooo" yeji merengek begitu jeno tidak memerdulikannya. pria itu mengabaikannya sembari memakaikan parfum kepada dirinya.

"kepo" jeno melenggang keluar kamar, mengabaikan yeji yang kesal karena diabaikan. yeji dengan tergesa gesa mengekor untuk keluar dari apartmen, ia menyambar tas yang sudah ia siapkan dan berlari mengejar jeno yang sudah sampai pintu keluar.

"pokoknya gue mau ikut lo. lo bisa ngga  sih ngga usah ninggalin gue kalau jalan" dengan tersengal sengal sambil membenarkan rambutnya  yang sedikit berantakan. keduanya berdiri di depan lift, menunggu lift terbuka.

"bawel" jeno berkomentar, melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka. yeji menyusulnya. keduanya berdiri bersandingan di dalam lift yang hanya ada mereka berdua.

"tapi lo mau kemana sih sebenarnya? rapi amat bajunya. biasanya lo keluar juga cuma kaosan atau hoodie dan ngga pernah serapi ini. lo mau ngelamar kerja dimana? eh lo mau ngelamar kerja?" yeji masih bertanya antusias. jeno melihat mata rubah wanita di sebelahnya yang berbinar terkena pantulan lift.

jeno mengangkat bahu. "anggap aja begitu" jeno menjawab asal sebelum melangkah pergi keluar dari lift dan berjalan menuju basemen dimana motornya terparkir. ia melangkah lebih dahulu meninggalkan yeji yang langsung berjalan menuju mobil kekasihnya.

"itu jeno kan?" mike, pria yang menjadi kekasih dari yeji bertanya kepada yeji yang baru saja masuk ke dalam mobil. yeji menoleh berpura pura tidak terlalu mendengar ucapan dari kakak tingkat di sampingnya.

"tadi jeno keluar dari basemen. kalian tinggal di apartemen ini?" mike bertanya sambil mengendarai mobil keluar dari area apartemen. ia hanya bisa menunggu di depan gerbang,sebelum pos satpam. ia bahkan tidak bisa masuk ke dalam wilayah basemen. memang penjagaan apartemen ini sangat ketat.

yeji mengangguk. "dia ada di unit yang ada di lantai atasku. jadi aku seirng berangkat dan pulang bareng dia" yeji memberikan alasan.

"kalian ngga tinggal serumah kan?" mike berrtanya curiga.

yeji tersenyum dan menggelengkan kepala. "tentu ngga dong.  stop bahas jeno. mending kita belanja aja"

***

jeno melangkahkan kakinya di lorong panjang. ia memakai celana jeans berwarna biru muda dengan kemeja berwarna coklat muda yang ditekuk hingga siku. langkahnya ringan, ia sesekali menyapa orang-orang yang menyapanya.

aroma alkohol begitu menyengat di hidungnya. ia bahkan melihat orang orang. tengah duduk di sebuah tanah yang lebar, mengikuti ketukan dari suara audio yang begitu menggema sesekali tertawa.

DOUBLE TROUBLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang