"ngapain lo ketawa hah?" yeji menyemprot jeno yang tengah memakai almamater miliknya sambil tertawa melihat yeji yang hendak berangkat sekolah tanpa memakai make up. yeji nampak polos dan sedikit pucat dengan beberapa luka di tubuhnya. sebuah acting yang terlampau bagus. "aneh aja biasanya lo menor kaya biduan sekarang udah kaya orang penyakitan"
yeji mengangkat sepatu kanannya hendak melempar jeno jika saja jeno tidak berkelit menyingkir, menjauh dari jangkauan wanita di depannya.
"pakai mobil? tumben?" jeno yang menggendong ransel besar nya menganggukan kepala. "ntar kehujanan kaya kemarin. gue ngga mau sakit ya anjing. masalahnya kalau satu sakit disini sakit semua.. ribet ngga ada yang ngurus nanti" jeno menjawab logis. yeji menganggukan kepalanya, benar juga. mereka tidak bisa untuk sakit bersama karena itu akan menyebalkan. setidaknya harus ada yang sehat diantara mereka.
keduanya seperti biasa berangkat sekolah bersama. kali ini dengan lebih pagi. jeno dengan sengaja memiliih waktu pagi ini agar tidak terkena macet seperti waktu-waktu lalu. lagipula yeji harus berangkat lebih pagi karena dia adalah anggota osis dan harus mempersiapkan pemilihan ketua osis nya.
"muka gue udah keliatan sedih belum?" yeji menghapus air matanya begitu sampai di parkiran. jeno mengangkat ibu jarinya sambil menganggukan kepala. wajah yeji benar benar pucat seperti terakhir kali dia melihat wanita ini hendak lompat dari rumah sakit.
dan jeno tahu wanita disebelahnya bukan hanya acting, ia merasa kembali seperti ketika ia dilecehkan untuk kali pertama dalam keadaan sadar.
yeji turun dari mobil jeno sambil memakai tas nya. ia melangkah menuju teman-temannya yang tengah mempersiapkan diri. ia menghela napas. "sorry gue telat" ia berujar, bergabung dengan lia dan ryujin yang tengah mempersiapkan dekorasi.
keduanya menoleh. "ngga papa ji, santai eh eh lo habis kenapa?" lia terkejut melihat yeji nampak berbeda. biasanya anak itu terlihat cantik dengan rambut berwarna nya pun dengan riasan di wajahnya. kali ini yeji datang dengan matanya yang bengkak, terlihat cekungan di area mata seolah dia menangis semalaman. wajahnya juga berubah menjadi pucat.
yeji menggelengkan kepalanya. "ngga papa. tapi kalian jangan jauh jauh dari gue? please banget ya" yeji berujar memohon sambil memegang dua teman perempuan nya. ryujin langsung merangkul tubuh yeji. "iya iya. lo aman sama kita. nanti gue minta tolong mark buat bikin kita bareng-bareng. lo aman sama kita" ryujin menenangkan sementara yeji mengangguk pelan dengan senyuman tipis yang tidak terlihat.
**
"kalian udah bisa langsung milih. nanti ada di bilik yang masing masing udah ada komputer. kalian bisa pilih disitu. oke?" jeno hanya berdiri dengan malas di barisan untuk memilih.
"waktunya berapa lama?"
"secepatnya kalau bisa. soalnya gantian sama anak kelas lain. kalau misal nya ngga bisa atau ada kendala apapun, nanti minta tolong anak osis yang ada di dalam" jeno hanya memperhatikan tanpa minat. lagipula pemenangnya sudah jelas, mark.
jeno melangkah masuk dengan santai, kedua tangannya di saku. ia beradu pandang dengan mark yang tengah duduk di balik komputer. keduanya hanya saling memberi lirikan tanpa bereaksi apapun. jeno langsung masuk ke bilik, membuka website yang sudah disediakan, melihat beberapa hal-hal penting yang sebenarnya tidak penting-penting amat. tipe-tipe sebuah web yang mudah untuk di hack. ia kemudian memulai aksinya.
jeno mengangkat tangannya. "bang, sorry punya gue lag" jeno berujar. anggota osis disana menoleh ke arahnya. kakak tingkat perempuan di sampingnya segera melihat bagaimana web yang ada di komputer jeno membeku, tidak bisa ditekan apapun.
"mark, lo bisa?" mark yang kebetulan bertugas sebagai operator menganggukan kepalanya kemudian mendekat ke arah jeno. ia kemudian melihat kalau jeno sudah mengotak-atik komputer ini dengan sengaja. "agak lama, dua menit paling. Kalian mending lanjut aja daripada stuck di dia" mark memberikan instruksi yang untungnya langsung dituruti karena waktu yang sudah mepet.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOUBLE TROUBLE
Hayran KurguNatasha Yeji merupakan anak seorang konglomerat terkenal. Dia hidup dengan rengkuhan harta serta kasih sayang. Semua orang menjaganya agar tidak ada siapapun berani menyentuh gadis cantik ini. ia tidak pernah jatuh cinta sebelum bertemu dengan kakak...
