middle of the night

471 77 2
                                        

"udah? duitnya mana?" yeji bertanya kepada jeno yang baru saja masuk ke mobilnya. pria itu baru saja selesai 'mengantar' barang-barang 'pesanan' yang ia dapatkan.

"ada di rekening, udah dapet duitnya"  jeno menjawab sambil memutar kemudinya keluar dari area sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal. keduanya sudah berganti pakaian, tidak lagi mengenakan hitam hitam. kecuali jeno ketika tadi membawa 'pesanan' mereka ke dalam.

yeji sudah mengganti pakaiannya dengan menggunakan celana longgar berwarna hitam dengan sweater berwarna coklat. rambut oranye nya ia gerai. di tangannya sudah ada cup berisi latte yang sudah tidak lagi panas.

sudah hampir tiga hari mereka tidak masuk sekolah dan pulang ke apartemen. mereka tidur sambil menunggu mike sadar dan sesekali  bergantian menyetir mobil untuk beristirahat.

tiga hari waktu yang yeji berikan untuk mengikuti kemana jeno  pergi karena letaknya berada jauh dari kota tempat mereka tinggal. jeno meminta izin pada hari jumat dan beruntung hari sabtu dan minggu mereka libur, mungkin jeno akan menambah liburnya di hari senin jika tubuhnya masih terasa lelah.

"bukain bentar" jeno meminta tolong kepada yeji untuk membuka burger miliknya yang masih tertutup. kedua  tangannya menyetir dan ketika dia menggunakan satu tangan, akan terlalu susah mengingat mobilnya tidak memiliki autopilot, lebih tepatnya jeno yang menonaktifkan fitur canggih itu karena tau sendiri, bagaimana mereka bisa masuk ke dalam sistem mobil seperti itu. sebut saja kejadian kemarin dimana jeno bisa menguasai autopilot mobil milik kakak kelasnya.

yeji meletakkan latte nya di cup holder yang ada di depan mereka, kakinya terlipat sambil membuka burger milik jeno. "nih" jeno mengambil burger yang sudah di buka oleh yeji dengan tangan kiri kemudian mengunyahnya. yeji mengambil bagiannya. membuka kemudian mengunyahnya sambil menyenderkan kepalanya di pintu mobil, memperhatikan jeno yang asik mengunyah dengan tangan  kanan masih memegang kemudi.

jeno melepas jaketnya hingga sekarang dia memakai kaos berwarna putih dan celana jeans. raut  wajahnya  datar namun jika ada orang awam yang lihat, mereka tidak mungkin percaya kalau misalnya pria di sebelahnya adalah pembunuh berantai. tidak bisa disebut berantai juga, tapi jeno kejam kalau boleh yeji akui. pria ini sangat menakutkan dalam diamnya.

"kita mau kemana?" yeji bertanya setelah sekian lama mereka berjalan, jeno tidak mengarahkan mobilnya untuk kembali ke rumah. mereka mengarah ke tempat yang tidak familiar bagi yeji. sebuah perumahan yang terpojok, jauh dari keramaian, berada di dekat rel kereta. yeji melihat sekitar, rumah yang dibangun bukanlah rumah permanen seperti miliknya. melainkan rumah semi permanen dari kayu-kayu yang dibangun dan sesekali hampir keropos. suasana cukup sepi karena mereka datang ketika jam menunjukkan pukul 12, waktu dimana mereka seharusnya tidur  tapi keduanya malah berkeluyuran tidak tentu arah.

"kita mau kemana?" yeji bertanya saat sedan milik jeno berhenti sesaat sebelum rel kereta. portal kereta kemudian tertutup pertanda kalau akan ada kereta yang lewat. jeno memakan habis burger nya yang sisa sedikit sebelum kemudian meremas kertas pembungkus burger dan membuangnya di tempat sampah. "mau buang sisa itu" jeno menunjuk bagasi dengan dagunya. bagasi mereka masih ada potongan potongan tulang yang belum bersih dengan sempurna, sebagiana tulangnya mereka bakar dan ada yang jeno sisakan seperti ini. yeji tidak tahu itu untuk apa.

portal terbuka ketika kereta api malam lewat, jeno menjalankan mobilnya semakin jauh dari kota bahkan melewati daerah tadi. kondisi jalannya juga tidak bagus, yeji bahkan harus berpegangan ketika jeno melintasi jalanan yang penuh batu. bahkan tidak ada aspal di jalan ini. hanya bebatuan sehingga jeno memutuskan untuk menghentikan sedannya karena khawatir bagian bawah mobil akan tergerus dengan bebatuan.

"kita dimana sih" yeji dengan sepatu boots nya yang tinggi mengomentari jeno. keseimbangannya sedikit hilang ketika ia turun dari mobil karena ujung boots nya masuk ke sela sela bebatuan. "aaah" ia mengerang karena sepatunya tidak bisa berjalan dengan seimbang. jeno yang tengah membuka bagasi menoleh. "kenapa lo?"

DOUBLE TROUBLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang