bebas

414 68 2
                                        

warning!
banyak kata kata tidak pantas dan adegan tidak pantas, diharapkan kebijakan para pembaca.

ini fiksi, fiksi, fiksi.

"hi cantik, kita bertemu lagi" yeji yang tengah menari di dancefloor sembari menggoyangkan tubuhnya menoleh ke arah seseorang yang menyapa dirinya.

"aku tidak pernah melihatmu lagi" yeji berujar, membiarkan tubuh pria yang lebih tua daripada dirinya mendekat dan merapat kearah tubuhnya, meraba-raba bagian tubuhnya. "ya, terjadi sedikit masalah sehingga aku tidak bisa datang kesini. aku harus mengurus nya" dia berujar.

yeji berdecih, ia tentu tau masalah  apa yang harus diurus karena pria ini kehilangan uang, kartu kredit, debit, serta kartu kartu identitas yang penting. tapi setidaknya dia tidak menyadari kalau pencuri semua isi dompetnya ada di depan matanya.

"minum?" yeji menyodorkan gelas yang ia pegang tinggi-tinggi. memberikan kepada pria didepannya yang langsung meneguk minuman dalam sekali teguk, yeji tersenyum, ia sepertinya tidak menyadari kalau yang yeji berikan adalah alkohol dengan kadar yang sangat tinggi.

"kau minum ini?" dia bertanya, yeji mengangkat alisnya. meneguknya sekali kemudian memuntahkannya  ke dalam gelas sebelum meletakkan nya di meja. "ya, bukankah itu enak?" ujarnya sambil melingkarkan tangannya di leher pria di depannya yang sudah terlihat tipsy.

"memang enak, tapi kau yakin alkohol nya  setinggi ini?" yeji menarik kepala pria di depannya untuk bersandar di ceruk lehernya, ia menyadari ketika dia sudah meracau tidak jelas, apalagi ketika bibirnya sudah mencium bibir yejie yang juga membalas ciumannya.

"bagaimana jika kita menginap di hotel yang berada di dekat sini? sepertinya, kita membutuhkan tempat yang panjang untuk malam kita" yeji mengusulkan, pria didepannya yang sudah mabuk dan tergila-gila kepada yeji menganggukan kepala, membiarkan wanita di pelukannya mengambil alih. yeji melangkah dengan pria itu dalam rangkulannya. ia menoleh ke arah salah satu security kemudian menyisipkan beberapa lembar uang berwarna merah sambil mengedipkan matanya.

uang sogokan.

dengan membawa mobil milik pria di depannya yang tengah meracau sambil menciumi tubuhnya, yeji dengan santai mengarahkan ke hotel mana mereka akan melangkah.

"permisi, masih ada kamar kosong?" yeji bertanya kepada resepsionis yang tengah berjaga, seorang pria berkacamata itu nampak membenarkan letak kacamatanya. "untuk berapa kamar?" tanyanya ramah.

"satu kamar saja, mas. yang single bed. ya kan?" pria yang terus menciumi leher yeji menganggukan kepalanya.

"baiklah, kalau begitu tunggu sebentar, ya" resepsionis pria itu kemudian berkutat dengan sesuatu.

"ini untuk nomor kartunya, untuk pembayaran bisa tunai atau via credit atau debit card. mau yang mana?"

yeji menoleh. "kau punya?" pria yang sudah berada di ambang batas hanya menganggukan kepala kemudian mengeluarkan dompetnya.

"paswordnya apa?" yeji bertanya, merayu. yang untungnya langsung disebutkan. mata yeji melotot kemudian tersenyum manis.

"Ini untuk nomornya di nomor 347, ada di lantai tiga" yeji kemudian mengambil kunci kamar dari resepsionis pria yang tengah bekerja malam ini.

ia kemudian melangkah menuju lift, membiarkan pria dirangkulannya bersandar kearahnya, membiarkan tubuh yeji menjadi sandaran walau yeji harus terseok seok membawa pria yang beberapa tahun lebih tua dari umurnya menuju ke kamar 347.

"sebentar ya" yeji melepas ciumannya begitu rok yang bahkan tidak menyentuh setengah pahanya disibakkan hingga bagian, atas. ia kemudian mendorong pria itu di ranjang kemudian mengambil air minum yang ada di dalam gelas yang ada di meja, kemudian meminumkannya.

DOUBLE TROUBLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang