32

1.1K 89 2
                                        

Sudah terbit nih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sudah terbit nih...

Ini ya aku ingat kan sekali lagi bagi yang belum mengerti.

Cerita ini hanya akan di up hingga 40 part. Sisa 30 part lagi hingga ending ada di novel nya ya...

Terimakasih dan silahkan di order☺️

STOK TERBATAS!












Malam ini, shani dan gracio tengah melakukan makan malam berdua di salah sayu lestoran di jakarta.

Gracio menatap shani yang hanya mengaduk aduk makanan nya saja sedari tadi.

"Kenapa gak di makan?"

"Gak enak ya?"tanya gracio.

"Mau mesen yang lain lagi gak?"

Shani mengelengkan kepalanya, menatuh semdoknya sediki kasar. Shani menghela nafasnya kasar.

Ia masih memikirkan berkas dari arya yang aran tanda tangani tadi. Harusnya sebelum shani kembali memberikan kepada arya.

Shani harusnya membaca saya isi berkas itu. Entah mengapa sekarang prasaan shani tidak enak.

"Kenapa, ada masalah?"tanya gracio mengelus lembut tangan shani.

"Tadi, di kantor shabatnya aran kasih dokumen keja sama ke aku"

"Mereka bilang aku msu pun aran tidak boleh membaca isi dokumen tersebut"

"Mereka nyuruh buat aran menandatanganinya saja"

"Tapi aran tanpa di suruh, dia menandatangani dokumen itu tanpa membacanya"

Gracio terus mendengarkan ucapan shani, wajah gadis itu tampak begitu khawatir dengan nasib kantor tempanya berkeja.

"Aku takut ada hal yang macem macem di dokumen itu"ujar shani.

Gracio mengeserkursinya menjadi dekat dengan shani. Ia mengelus bahu kekasihnya untuk menenangkannya.

"Jangan terlalu berpikiran negatif"

"Mungkin saja aran sudah tau isi di dalamnya, kamu gak perlu khawatir"ujar gracio.

Shani menghela nafasnya, lalu menganggukan kepalanya.














Di rumah ollan~

Marsha sedari tadi mebgejar ollan yang berjlan begitu cepat di depannya.

"Ollan, ayo lah.."

"Pelit banget sih lo!"

"Tinggal ngasih kado ini ke aran. Apa susahnya sih!"ujar marsha yang membuat langkah ollan terhenti.

Ollan membalikan tubuhnya menatap ke arah marsha.

"Sha, kan gw udah bilang. Aran udah punya pacar"ujar zee.

Marsha menggelengkan kepalanya tudak perduli."bodo amat llan"

"Gw gak perduli mau aran punya pacar, punya istri"

"Bodo amat llan"ujar marsha.

"Tapi gw tetep gak bisa"ujar ollan.

"Sha, zee suka sama lo, mending lo sama dia aja dari pada sama aran"

"Jangan jadi perusak hubungan orang sha"ujar ollan.

"Ya udah kalau lo gak mau. Bira gw aja yang kasih ke aran sediri"ujar marsha pergi meninggalkan ollan.

"Sha! Jangan aneh aneh deh sha!"triak ollan.

Ollan berdecak kesal melihat marsha yang tidak mendengarkan omongannya.

"Semoga hubungan lo sama chika baik baik aja ran"gumam ollan.














Shela menatap bingung ke arah chika yang sedari tadi menoleh kesana dan ke mari. Sudah 15 menit lamanya shela menemani chika duduk di halte bus depan kampus mereka.

"Lo kenapa sih, dari tadi gw liatin"

"Nyari siapa lo?"tanya shela.

"Gak nyari siapa siapa"

"Alah chik, dari muka lo gw udah tau kalau lo lagi nyariin seseorang kan?"

"Nyari siapa lo, aran?"

"Eli shabat lo itu?"

"Atau dey?"

"Kalau gak jinan?"ujar shela.

Chika berdecak kesal mendengar ocehan shela, ia membukam mulut gadis itu dengan satu telapak tanganya.

Shela tersentak dengan cepat dirinya menepis kasar tangan chika yang membekap mulutnya.

"Sialan lo!"pekik shela kesal.

"Makanya jangn cerewet jadi orang!"desis chika.

Mulut shela berkomat kamit menyumpah serpahi chika dalam hatinya. Kalau chika bukan atm bejalannya, mungkin sekarang ia sudah menendang chika habis habisan.

"Gito!"

Shela tersentak, ia menatap oarang yang di panggil chika. Shela sedikit mengerutkan keningnya.

Pria itu adalah orang yang ia usir ke marin saat di kantin.

Chika sedikit berari menghampiri gito, shela yang melihat itu ia mengintili chika.

"Kenapa chika?"tanya gito.

"Lo kemana aja dari kemaren gw cariin gak ada?"tanya chika.

Gito yang mendengar itu terkekeh kecil, apakah gadis ini merindukannya?.

"Kenapa?"

"Kengen sama aku?"tanya gito.

Shela yang mendengar itu seketika tubuhnya merinding. Pede sekali pria ini.

"Najis"gumam shela terdengar oleh gito.

"Shel!"tegur chika.

Shela hanya memutar kedua bola matanya malas.

"Dua hari terakhir lo kemana?"

"Gw nunggu lo di sini tapi lo gak ada"ujar chika.

"What!"pekik shela.

"Lo nungguin manusia satu ini?"

"Buat apa chik, tobat lo udah punya si kutub"ujar shela menyebut aran sengan sebutan kutub.

"Apaan sih lo!, diem aja deh shel"ujar chika kesal.

Gito tersenyum menatap ke arah chika."kemarin temen kamu bilang, kalau gak ada kepentingan apa apa gak usah ganggu"

Chika yang mendengar itu sedikit merasa bersalah.

"Maafin shela ya, jangan di masukin kehati omongan dia"ujar chika.

"Shel minta maaf gih!"ujar chika menyenggol tubuh shela.

"Ogah. Lagian gw cuman bilang gitu doang"

"Baperan banget jadi orang"ujar shela.

"Shel!"ujar chika sedikit menatap sinis ke arah shela.

Shela berdecak kesal, ia menatap wajah gito."gw minta maaf"

"Oke gw maafin"ujar gito.

"Dih, gitu doang"gumama shela pelan.

"Maaf ya, kalau perkatan temen gw bikin lo tersinggung"ujar chika.

"Iya gak papa, aman kok"sahut gito.

"Udah ahk, ayo pulang"ujar shela menarik chika menjauh dari gito.

Gito menatap kepergian mereka.














Tbc

Posesif Aran 2 (Telah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang